Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Puber Lagi


__ADS_3

Bahagia, itu yang tengah dirasakan Skala sekarang. Ia tersenyum lebar, ada kelegaan yang terbaca dari air mukanya. Sesekali diciumnya kening sang istri penuh cinta.


Sambil menepuk-nepuk punggung Bianca yang tengah terlelap dalam dekapannya, Skala pandangi wajah imut bayi mungilnya. Ia meletakkan bayinya di bagian pinggir tempat tidur. Dengan sekat guling untuk memberi jarak antara Rain dan Bianca, juga bed rail yang Ia pasang ke ranjang, Skala yakin dan sudah memastikan bahwa bayinya aman.


Skala lagi-lagi tertawa. Ia puas karena baru saja mendapatkan apa yang dia mau, sebut saja servis.


Maaf disamarkan agar pikiran saudara sekalian tidak berkelana sampai ke ujung dunia.


Meskipun kecebongnya tak bisa berenang-renang di dalam habitat yang seharusnya, tapi yang terpenting bagi Skala adalah kelegaan tiada tara yang didapatnya, setidaknya siklus perputaran produksi kecebong di dalam sumbernya aman terkendali. Sebut saja maintenance pabrik.


"Em ... kenapa belum tidur?" tanya Bianca yang masih setengah sadar. Ia lantas menenggelamkan kepalanya ke dada Skala. Bibirnya tersenyum bahagia karena bisa membuat suaminya puas meskipun tanpa hiya hiya.


"Sebentar lagi juga tidur."


"Bangunkan aku kalau Rain minta su.... "


Bianca membuka matanya, Ia seolah baru sadar bahwa Ia tengah memeluk suaminya. Jadi dimana Rain berada? gadis itu langsung menendang selimut dan bangun. Bianca sukses membuat Skala kaget.


"Rain.... "


Bianca menoleh ke kanan dan kiri, Ia menepuk jidatnya sambil menghela napas saat melihat sang anak.


"Ya ampun Ska, pasti kamu kan yang mindahin?"


"Aku ga mindahin Rain, aku cuma menggesernya saja." Skala membela diri, laki-laki itu memasang raut wajah tanpa dosa, sementara Bianca sudah menekuk bibirnya kesal.


"Kita buatkan kamar sendiri buat Rain ya Ca," bujuknya ke sang istri.


"No papa, aku memang akan membuatkan dia kamar tapi hanya untuk ruang bermain. Tidak untuk membuatnya tidur terpisah dari kita."


Bianca bergeser memunggungi suaminya. Ia towel pipi Rain yang bibir kecilnya terlihat maju mundur seolah sedang menyusu.


"Aku tidak rela membiarkan mahkluk mungil ini tidur sendirian." Jiwa keibuan Bianca meronta.


"Sekarang kamu lebih mencintainya dari pada aku ya kan?" Skala memeluk pinggang Bianca, Ia menyanggah kepala untuk menatap Rain juga.


"Dia segalanya bagiku, rasanya aku ingin selalu melindunginya Ska, aku tidak ingin ada yang menyakitinya."


"Tidak akan ada yang bisa menyakiti Rain dan juga dirimu, karena aku akan melindungi kalian," bisik Skala mesra.


***


Hari berikutnya di sore hari yang syahdu, Prawira tengah berjalan-jalan di Mall miliknya ditemani sang sekretaris. Pria tua itu berencana membelikan hadiah untuk cicitnya sekaligus menyegarkan pikirannya. Jika boleh berharap Prawira ingin sekali bisa bertemu dengan bidadari berkursi roda yang Ia temui di rumah sakit.


Pemilik PG group itu memang selalu mendatangi setiap kencan buta yang dibuat oleh sang cucu atas rekomendasi Madam Zi, tapi jelas Ia melakukan hal itu dengan setengah hati, lebih ke terpaksa dan hanya ingin membuat cucunya lega.


"Wanita bernama Hana itu, apa sangat sulit menemukannya?" tanya Prawira ke Radit yang berjalan mengekornya.

__ADS_1


Sekretarisnya itu mengangguk lalu meminta maaf. "Rumah sakit tidak mau membocorkan data pasiennya Tuan."


Prawira hanya bisa menghela napas. Ia merasa tak bersemangat, meskipun begitu Ia terus berjalan dan masuk ke dalam sebuah baby shop untuk mencarikan Rain dan Lintang hadiah.


Bagai kejatuhan durian, buyut baru itu melihat sosok wanita yang Ia cari tengah tersenyum sambil memegang mainan bayi di sana, bedanya wanita bernama Hana itu sudah tak memakai kursi roda lagi.


Prawira lagi-lagi terpesona, seketika Ia merasa ada bunga-bunga yang bermekaran di sekelilingnya. Pria itu berjalan mendekat ke arah Hana dan gadis yang Ia ingat memanggil wanita itu dengan sebutan mama. Jadi kemungkinan gadis itu adalah puterinya.


"Permisi," ucap Prawira sopan.


Hana pun menoleh dan lagi-lagi Prawira merasa tersihir. Ia sampai tak berkedip melihat wanita itu tersenyum sambil memandangnya.


"Cantiknya," gumam Prawira. Gengsinya sudah terbang melayang, yang tersisa hanyalah rasa ingin mengenal dan dekat dengan wanita itu.


"Anda... " Hana tersenyum, sementara gadis yang bersamanya terlihat sedikit menundukkan kepala untuk menyapa.


"Maaf, sepertinya saya belum mengucapkan terima kasih dengan baik saat anda menolong saya," ucap Hana.


Prawira tak bisa berkata-kata, sampai Radit berbisik ke telinganya bahwa wanita di hadapannya tengah mengajaknya berbicara.


"Ah... Iya, bukan masalah." Prawira salah tingkah.


"Apa yang sedang anda lakukan di sini?" tanya Hana.


"Saya sedang mencari hadiah untuk cucu saya, tapi saya bingung ingin membelikan mereka apa."


"Mereka?"


"Iya mereka, karena ada dua," jawab Prawira sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke Hana.


Hana pun terlihat berpikir kemudian mengambil sebuah mainan berbentuk gelang yang biasa dipakaikan ke tangan atau kaki bayi dengan bahan ringan dan motif binatang.


"Bagaimana dengan ini?" Senyuman wanita itu membuat Prawira mengangguk setuju.


***


Hari itu jadwal Prawira menginap di rumah Tama. Sedari turun dari mobil senyum terus mengembang dari bibirnya. Ia memberikan hadiah yang baru saja dia beli ke Felisya. Sejurus kemudian Ia memberi tahu perihal rencananya ke Tama.


"Sabtu ini kakek akan mengadakan makan malam keluarga, jadi kalian harus datang dan menginap di rumah kakek, begitu juga dengan Skala dan Bianca, kakek ingin menunjukkan ke kalian wanita yang kakek sukai."


Tama mengernyitkan dahi, memandang sang istri penuh tanya, sementara Felisya yang juga tak mengerti maksud Prawira hanya bisa mengedikkan sebelah pundaknya.


"Dahsyatnya, bila dibandingkan dengan senyumanmu membuat aku jatuh bangun."


Tama dan Felisya terbengong mendengar Prawira menyanyi, bahkan kakeknya itu berjalan sambil tertawa sendiri. Prawira membuat gerakan berputar lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah cucunya.


"Astaga sayang, kakekmu ketempelan setan dari mana?" Felisya merasa merinding melihat tingkah Prawira.

__ADS_1


"Kalau yang seperti itu bukan kakekku tapi kakeknya Skala."


Selesai berbicara, Tama langsung bergegas keluar rumah.


"Mau kemana?" tanya Felisya ke sang suami.


"Menemui mantan pacarmu."


"Jam berapa ini? Skala pasti belum pulang."


Tama pun berhenti kemudian berbalik masuk ke dalam rumah kembali. Namun, ia keluar lagi setelah menatap wajah Felisya.


"Ah ...Feli, kan adikku ada di rumah," ucap Tama.


"Lagian kamu mau apa sih?"


"Membicarakan kakek buyut yang puber lagi."


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


...LIKE...


...KOMEN...


...ADD FAVORITE YES...


__ADS_1


__ADS_2