Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Kebun Binatang


__ADS_3

...18++...


...Aku ga mau bikin kalian bengek, jadi tipis-tipis aja...






_


"Tidak masalah kah mengurangi jumlah bodyguard mu?"


Di sela membantu sang suami memakai dasi, Bianca menanyakan perihal permintaan laki-laki itu. Gadis itu menjadi lebih perhatian semenjak kejadian Skala hilang mencari kacang.


"Seharusnya yang memiliki sepuluh pengawal itu bukan aku tapi kamu, karena ada satu nyawa lagi di sini!" Skala mengusap perut istrinya penuh kasih.


"Siapa yang akan menyakiti aku? aku tidak punya musuh," tukas Bianca penuh percaya diri. Ditariknya bagian dasi Skala sampai ke ujung kerah baju laki-laki itu.


"Sepertinya kamu pernah melakukan hal ini ke aku sebelumnya, lihat tatapan mata ini!" tunjuk Skala ke netra Bianca.


"Apa mengingatkanmu saat dimana aku menawari sebuah kontrak pernikahan kepadamu?" tanya Bianca mengenang kejadian di salah satu toko baju sekitar setahun yang lalu itu.


Skala tertawa. Alih-alih menjawab dengan kata iya, Skala lebih senang mencium bibir Bianca yang pagi itu sengaja berangkat siang ke kantor karena janjian pergi senam hamil bersama Felisya terlebih dulu.


"Sudah lama!" tiba-tiba Skala berbisik manja.


"Kamu harus berangkat kerja Ska." Bianca sadar apa yang akan diminta belahan jiwanya itu selanjutnya, bagaimana tidak? bibir laki-laki itu sudah bertengger di lehernya, bahkan mengecupi telinga dan menggigit-gigit cupingnya.


"Sebenarnya aku menghitung Ca, ini sudah satu bulan lebih dua hari tiga jam lima belas menit dua puluh satu detik."


"Pintar sekali kamu mengarang," cibir Bianca yang sudah memejamkan mata sambil menggerayangi punggung Skala di balik kemeja berwarna biru yang laki-laki itu kenakan.


"Susah ya bohongin kamu." Skala menjauhkan badannya, menatap Bianca dengan sejuta rasa heran di kepalanya. "Padahal aku ingin membuat suasana romantis."


"Tentu saja! Aku Bianca, Bi—an—ca," ejanya. "Aku tidak mudah dibohongi."


Skala yang terlalu gemas dengan tingkah sang istri langsung meraup bibir Bianca, menciumnya penuh kasih sayang, ciuman yang membuat seorang wanita merasa dicintai tanpa syarat. Laki-laki itu lantas membopong tubuh istrinya, masih menciumi bibir ranum Bianca sambil berjalan keluar dari kamar ganti.


Sentuhan yang satu bulan ini tak di dapatnya membuat Bianca terbuai, nalurinya membuat gadis itu melingkarkan tangannya ke leher Skala, menikmati cumbuan yang membuat desiran hangat pada aliran darahnya.

__ADS_1


Oleh Skala, dibaringkannya tubuh seksi yang tengah mengandung darah dagingnya itu ke atas ranjang tanpa ingin sedetikpun melepas tautan bibir mereka. Dikungkungnya tubuh Bianca di bawah tubuhnya dengan penuh kehati-hatian agar tak sampai menyakiti little peanut yang sebentar lagi bisa mereka ketahui jenis kelaminnya.


"Aku baru saja memakaikannya kepadamu, apa harus aku lepaskan lagi?" Pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban karena tangan Bianca sudah melepas simpul dasi yang dibuatnya di kemeja sang suami.


"Yang bawah juga mau kok dilepasin," goda Skala. "Dia udah bosan sama hand sanitizer di kamar mandi," kelakar Skala yang langsung mendapat sambutan tawa dari mulut Bianca.


Keduanya kembali menyatukan bibir, menyesap dan membelit, bahkan membiarkan lidah mereka menari-nari lincah di dalam rongga mulut.


Tak perlu membuka penutup bukit sang istri, Skala tahu Bianca tidak pernah memakai bra saat tidur. Laki-laki itu kegirangan menatap bukit mulus dengan puncak merah muda yang selama satu bulan hanya bisa ia raba dari luar.


Meraba dari dalam? hah ... tidak akan Bianca izinkan karena yang ada gadis itu juga tak akan sanggup melawan gairahnya, kesahatan Little peanut membuat anaconda harus menahan untuk tak bertamu ke sarang piranha, bahkan hanya sekedar mengintip pun tak boleh—haram.


"Untung tak lupa dimana pintu sarangnya berada," goda Skala saat anaconda miliknya mengetuk masuk.


Bianca tertawa, ia bahkan melirik ke bagian bawahnya lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. "Sudah lama, kenapa aku merasa malu," lirihnya dengan suara parau.


"Sem—pit," ucap Skala saat berhasil menyatukan tubuh mereka. Ia melenguh, merasakan anaconda miliknya digigit kuat oleh piranha yang dirindukan.


Pelan namun gerakan Skala sukses membuat Bianca klojotan, baru saja berkata malu tapi gadis itu langsung menarik tengkuk sang suami dan menciumnya ganas.


"Bisa lebih cepat!" pinta Bianca ke Skala yang kedua tangannya bertumpu di kanan dan kiri tubuh nya.


"Ca aku takut." Sambil terus bergerak Skala menatap wajah istrinya yang terlihat begitu seksi. "Ganti gaya ya!" ucapannya tak sinkron dengan apa yang tengah dia lakukan, akhirnya tak ada ganti gaya sampai anaconda memuntahkan bisa ronde pertama ke dalam mulut piranha.


Napas mereka masih memburu, peluh mereka bercucuran bak tengah kepanasan. Skala melirik jam di atas nakas, Ia tertawa karena durasi pertempuran mereka lumayan lama.


Felisya mencebik kesal, dipandanginya balkon kamar adik iparnya dari halaman rumahnya. Ia sudah siap dari setengah jam yang lalu untuk berangkat ke sebuah rumah sakit ibu dan anak untuk senam hamil bersama Bianca. Terlalu kesal, gadis itu memukul-mukul udara di hadapannya, bahkan beberapa pelayan Prawira yang sekarang juga ikut hidup nomaden seperti tuannya dibuat heran dengan tingkahnya.


Tanpa rasa berdosa, Bianca keluar dengan wajah berseri. Begitu juga dengan Skala yang terlihat menuju mobilnya bersama dua orang pengawalnya. Bahkan keduanya berbalik kembali sekedar untuk berpelukan dan mengecup bibir.


"Dasar, pasti mereka baru saja melakukan hiya-hiya," gerutu Felisya.


"Belum berangkat?" Suara Tama membuat Felisya berpaling, suaminya itu sudah bisa mulai berjalan menggunakan kruk.


"Lihat saja! yang ngajak janjian aja ga tepat waktu."


Bianca melambaikan tangan, berteriak bahwa dirinya akan menuju kerumah Felisya dengan duo Julid.


"Makanya aku tadi kan udah ngajak kamu main gajah-gajahan dulu," ucap Tama.


"Ogah kalau kandangnya di atas terus."


Felisya berjalan keluar halaman rumah diiringi tawa dari sang suami, sementara beberapa pelayan Prawira yang tengah menyapu dan menyirami tanaman terlihat bingung dengan cucu-cucu majikannya. Saat di rumah Skala mereka mendengar nama Anaconda dan Piranha disebut oleh Tuan muda mereka, begitu juga sekarang, Tama juga membawa nama gajah.

__ADS_1


"Apa Tuan Prawira punya kebun binatang ya?" tanya salah seorang pelayan ke pelayan yang lain.


"Mungkin, tapi apa iya anaconda bisa masuk ke kebun binatang kan gede banget Sum, makannya aja orang, itu kayak di film kan anaconda makan orang—serem," ucap pelayan itu ngeri.


"Iya makanya kerja yang bener kalau ga mau dijadiin santapan anaconda." sambar Tama yang berjalan menuju halaman dan tanpa sengaja mendengar percakapan para pelayan itu.














_


Otor : PRHH, RM sama Alumni UH AH mana suaranya?



...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...

__ADS_1


...RATE BINTANG 5...


...❤...


__ADS_2