
“Ayolah Ca!”
Menggelayuti pinggang istrinya, Skala mengikuti langkah Bianca ke sana kemari. Mengeluarkan jurus rayuan, mencoba mendapatkan apa yang dia mau. Meskipun sudah memilik Rain yang sekarang sudah berusia lima tahun, tapi Skala masih benar-benar manja seperti di awal pernikahan mereka.
“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi ke acara reuni itu.”
Melepaskan kungkungan suaminya, Bianca mengapit pipi Skala lantas menggoyang-goyangkannya, membuat wajah suaminya itu tertekuk dengan bibir yang sudah maju beberapa senti.
“Kamu meminta Rain memanggilmu om bukan papa, apa kamu beniat berselingkuh dariku?”
Pertanyaan Bianca menohok hati Skala, cepat-cepat dia menggelengkan kepala. Sebenarnya dia hanya iseng meminta putranya memanggilnya om, tapi dasar Rain. Anak itu malah mengadu ke Bianca.
“Aku hanya bercanda Ca, mana mungkin aku berselingkuh. Jika ada award yang diberikan ke para suami di dunia ini, pasti aku akan memenangkan nominasi suami paling setia,” ucap Skala dengan kalimat yang dibuat begitu hiperbola.
“Aku percaya Rain, dia berkata dirimu melirik mama muda di wahana permainan air yang kalian datangi dua hari yang lalu, kalau aku sampai mengizinkanmu pergi ke acara reunian SMAmu itu, aku yakin kamu pasti akan bertukar nomor ponsel dan berkata sudah bercerai,” cerocos Bianca.
Antara tidak percaya atau sudah menjadi budak cinta suaminya, wanita itu menjadi layaknya emak-emak yang over protective dengan melarang anaknya pergi bermain bersama teman-temannya di luar.
“Rain hanya kesal karena aku tidak menuruti apa yang dia inginkan, dia benar-benar persis sepertimu, menindas saat keinginannya tidak dipenuhi.”
“Apa?” Bianca yang sibuk memasukkan baju ke dalam ruang ganti langsung menghentikan aktivitasnya, ditatapnya Skala dengan alis yang sudah terangkat sempurna. “Dia anakmu! kelakuannya yang seperti itu jelas mirip denganmu, bukan aku!"
__ADS_1
"Iya lah yang jelek-jelek kamu timpakan ke aku semua," balas Skala.
Begitulah kelakuan Skala dan Bianca yang sudah hampir tujuh tahun menikah. Kalau saja tembok markas mereka bisa berbicara, pasti tembok itu akan berteriak sekencang-kencangnya, karena menjadi saksi bisu tingkah absurd pemiliknya, dan jika tembok markas itu memiliki telinga, jelas dia akan memilih menjadi tuli setiap Skala dan Bianca melakukan ritual pelepasan kecebong yang tidak pernah sukses menjadi kodok bangkong lagi.
Ya, Rain sudah berumur lima tahun, tapi belum ada tanda-tanda anak itu akan mendapatkan adik dari kedua orangtuanya, karena itu lah Rain sangat manja.
-
-
“Aku ingin jadi anak kakek buyut aja,” ucap Rain dengan lancarnya.
Untuk anak seusianya, Rain memang tergolong lebih cerdas, bahkan Skala dan Bianca terkadang bingung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang putra.
"Memang kenapa dengan papa dan mamamu?"
"Mereka miskin kakek," gerutu Rain dengan muka yang dibuatnya seimut mungkin.
Terbahak mendengar jawaban bocah itu, Prawira kembali bertanya, "Bagaimana bisa kamu berpikir mereka miskin?"
Meletakkan tablet yang ada di pangkuannya, Rain mendesau sambil menggeleng-gelengkan kepala. Gaya bicara anak itu dan tingkahnya yang seolah meremehkan orang lain, jelas merupakan perpaduan yang kompleks antara Skala dan Bianca.
__ADS_1
Meletakkan kedua tangannya ke pinggang, Rain mulai menirukan gaya bicara mamanya. "Rain, itu mahal, Mama belum punya uang." Setelahnya bocah itu mengubah gayanya seperti Skala. "Papa tidak punya uang, minta saja ke mama!"
Prawira terpingkal-pingkal melihat tingkah anak itu, sementara Lintang yang duduk tak jauh dari sana hanya bisa menggeleng melihat tingkah sepupunya.
"Tanya saja Lintang, iya kan Lin?" ucap Rain sambil menoleh ke arah anak Tama dan Felisya itu.
"Sudah kubilang panggil aku Gama, aku tidak mau dipanggil Lin."
"Tapi namamu Lintang Gutama," protes Rain.
"Aku tidak mau bermain denganmu kalau kamu memanggilku Lin," ketus Lintang.
_
_
_
_
_
__ADS_1
Masih adakah penghuni di sini?
🤣