
Diana mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya, meraih tangan Bianca dan memberikannya ke adik iparnya itu.
“Kalung itu hadiah dari mamamu saat aku melahirkan Nuna dan entah kenapa aku ingin memberikannya kepadamu.”
Bianca menerima kalung dengan liontin berbentuk bulan sabit itu dari tangan Diana, bibirnya tersenyum mendapatkan benda yang berhubungan dengan sang mama.
“Kenapa malah kakak berikan kepada ku?” tanya Bianca sedikit tak percaya.
"Aku hanya ingin kamu menjaganya, Apa kamu tahu apa yang mamamu katakan saat memberikannya kepadaku?”
Bianca menggelengkan kepalanya, menatap wajah Diana yang benar-benar sangat cantik menurutnya, sepertinya Nuna mewarisi kecantikan sang mama.
“Saat seorang wanita melahirkan, kebanyakan orang lebih fokus memberikan hadiah dan perhatian ke bayi yang dilahirkan, padahal sang mama juga butuh perhatian, saat wanita melahirkan saat itu Ia juga terlahir sebagai manusia baru.”
Bianca tersenyum, andai saja wanita di sampingnya bukanlah istri sang kakak yang begitu dia benci, tentu dari dulu mereka bisa menjadi teman baik.
“Bi, bisakah aku minta satu hal padamu?” Raut muka Diana tiba-tiba berubah serius.
“Seandainya aku berpisah dengan kakakmu, apa kamu bisa membantuku menjaga Nuna? jika aku tidak memenangkan hak asuhnya.”
Bianca tercengang mendengar permintaan Diana, apalagi Nuna yang saat itu mencuri dengar percakapan sang mama dan tantenya. Gadis itu membungkam mulutnya sendiri. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya, hanya air mata deras yang mengalir membasahi pipinya.
***
“Kak Diana bilang dia ingin bercerai dari kak Billy.”
Skala yang baru akan melepas kemejanya terlihat kaget, memandang Bianca yang duduk di tepian ranjang. Matanya yang menunduk terlihat menerawang jauh.
__ADS_1
“Apa mereka ada masalah?” tanya Skala penasaran, ia sadar di dalam perceraian pasti akan ada satu pihak yang paling terluka, yaitu anak.
“Ska, bisakah kamu menjaga Rain untukku? aku ingin menemani Nuna tidur sebentar!” Izin Bianca.
Skala tersenyum, mencoba menggoda sang istri dengan ucapannya. “Pergilah sana! Lagipula kita juga masih tidak bisa melakukan ritual pelepasan kecebong.”
Bianca melompat, ia berlari mendekat ke arah Skala, menciumi pipi suaminya itu bertubi-tubi.
“Terima kasih papa sayang,” ucapnya manja.
Gadis itu hampir saja berlalu saat Skala mencekal tangannya dan menariknya sampai jatuh ke dalam dekapan. Tatapan matanya penuh cinta dengan sedikit bumbu napsu.
“Ciuman bibirnya mana?” ucapnya tanpa dosa.
“Astaga Ska …”
Eh … belum juga sebulan, sabar.
“Jaga Rain! Jangan kamu tinggalin dia buat main gundu!” Bianca mengancam kemudian berjalan keluar markas dengan terburu-buru, sebelum malaikat kecilnya bangun.
Senyum Bianca seketika hilang setelah menutup pintu, berjalan pelan menuju kamar dimana Nuna berada, ada rasa kasihan di dalam hatinya membayangkan nasip sang keponakan yang seolah tak jauh berbeda dari dirinya.
Tanpa mengetuk, Bianca membuka pintu kamar. Ia mendapati Nuna tengah berbaring memunggunginya. Samar, terdengar isak tangis dari bibir gadis itu. Bianca menghembuskan napasnya, ia sudah berpikir bahwa Nuna pasti sudah tahu tentang kemelut rumah tangga orangtuanya.
“Nuna …,” panggil Bianca ragu.
Suara isakan terdengar jelas. Bianca semakin mendekat dan mencoba melihat wajah keponakannya. Semakin khawatir Bianca langsung memegang lengan sang keponakan. Nuna seolah terjingkat kaget, gadis itu menatap Bianca dengan deraian air mata.
__ADS_1
“Onty ….”
Bianca menghembuskan napasnya lega, karena Nuna ternyata tengah membaca novel lewat aplikasi yang ada di ponselnya.
“Kok belum tidur?” tanya Bianca yang langsung duduk di samping sang keponakan.
“Aku maraton baca novel onty.”
Bianca menyambar ponsel Nuna, mencoba melihat novel apa yang tengah dibaca oleh keponakannya itu. Matanya melotot melihat tulisan delapan belas plus pada bagian keterangan. Ia mulai memarahi sang keponakan dengan kecepatan cahaya.
“Nuna ga boleh, kamu masih lima belas tahun! Kamu boleh baca ini tiga tahun lagi, lagian apa ini? Lihat judulnya! Bukan Kontrak Pernikahan, emang ada orang yang nikah dikontrakin? Kamu ya, ponsel kamu onty sita!” cerocos Bianca bak petasan banting, seolah melupakan masa lalunya yang pernah menandatangani sebuah kontrak pernikahan dengan Skala.
Nuna terdiam sambil memghapus air matanya. Seperti biasa, ia hanya tengah mengelabuhi. Membodohi orang lain untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenar-benarnya.
-
-
-
-
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE nya di Sorry Mr. CEO aja ya...
__ADS_1
...Terima kasih Lup you sekebon pete warga Amazon...