
Berbanding terbalik dengan hubungan Felisya dan Tama yang tengah manis bak kembang gula, duo Amazon yang kemarin baru saja bersitegang, malam itu bersitegang kembali.
Bianca duduk di sofa di dalam markas, ia terlihat tengah membaca artikel yang baru saja dikirim oleh The Beauty Magazine lewat email, Skala yang baru saja keluar dari kamar mandi tampak mengernyitkan dahi melihat istrinya tersenyum sendiri.
"Ca!" panggil Skala.
"Hmm."
"Lagi ngapain sih? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Skala yang mulai penasaran dengan tingkah istrinya.
"Ska, aku baru saja mendapat kiriman artikel dari The Beauty Magazine." Bianca fokus pada layar laptop tanpa menoleh ke arah Skala yang sudah terlihat bersungut kesal.
"Ca!"
"Hmm!"
Bianca masih enggan menoleh ke sang suami, matanya masih berbinar tidak percaya dengan apa yang sedang ia baca.
"Kita sudah di rumah, bisa tidak urusan kerjaan di lanjut besok pas di kantor?" Skala mendudukkan diri di sebelah Bianca yang masih tidak menoleh padanya, ia mulai kesal.
"Bentar ya Ska, aku harus mereview nya secara cepat karena Aiden bilang artikel ini harus naik ke editor mereka segera."
"Lihat nih, Ska!" Bianca malah menyodorkan laptop yang ada di pangkuannya pada sang suami, memperlihatkan isi di dalamnya tanpa merespon pertanyaan si Badak Afrikanya yang mulai kesal.
"Apa?"Skala kesal.
"Aku nggak nyangka loh, Aiden bisa secepat ini akan menayangkan produk A New Able Bra Niel Fashion, kemungkinan akan tayang edisi ini, astaga! Sumpah Ska nggak nyangka banget," cerocos Bianca.
"Padahal kalau di majalah lain nih ya Ska, butuh sebulan untuk mereka mempelajari produk baru sebelum dimuat, tapi wakil presdir The Beauty Magazine ini bisa mempelajarinya dan akan memuatnya hanya dalam hitungan hari. Mana ini dimuat di bagian fashion innovation, bener kayak mimpi." Bianca menangkup kedua sisi wajahnya, ia masih berada di awang-awang mengingat betapa cepatnya respon The Beauty magazine untuk memuat produk Niel Fashion.
Skala memicingkan matanya, ia merasa alarm kecemburuannya langsung berbunyi nyaring, ia kembali cemburu pada si berondong jagung kolega istrinya.
"Memang kalau berondong itu ya, lebih muda trus masih segar, kinerja kerjanya juga cepat, hm!" sindir Skala.
"Iya, emang." jawab Bianca seolah tak tahu bahwa suaminya itu tengah kesal.
Skala berdiri dari sofa, melempar handuk yang sedari tadi masih melingkar di lehernya begitu saja. Kelakuannya membuat sang istri terperangah, Bianca baru sadar kalau si badak Afrikanya tengah merajuk. Laki-laki itu membaringkan dirinya di atas ranjang, memiringkan badan lalu menarik selimut dan memejamkan mata.
Bianca meletakkan laptopnya ke atas meja untuk menyusul sang suami naik ke atas ranjang, gadis itu menggoyangkan lengan Skala yang tangannya terlipat di depan dada, jelas wajah suaminya itu memerah menahan rasa marah
"Ska." Bianca meletakkan dagunya ke lengan sang suami. Namun, tak ada respon.
"Papa peanut," panggilnya lagi.
Skala tetap tak mau menoleh, membuat Bianca memilih menarik lengan Skala agar mau berbalik menatap dirinya.
__ADS_1
"Skala ku," ucap Bian.
"Hmm."
"Ih, kamu kalau kayak gitu jelek, Ska! Tambah kalah sama si berondong jagung." Bianca menggoda Skala sambil menangkup pipi suaminya, membaringkan badan dan memposisikan diri agar wajah mereka saling berhadapan.
"Iya aku jelek, kamu nikah sama aku kan juga terpaksa." Tingkat kekesalan Skala sudah di ambang batas normal sampai ke ujung ubun-ubunnya.
Bianca tersenyum dengan sudut bibirnya kemudian mencium benda kenyal milik suaminya yang tengah mengerucut kesal.
"Masih ga mau ngomong sama aku?" tanya Bianca setelah menghentikan aksinya melumaat bibir suaminya.
Tanpa membuka matanya, Skala berucap, "kamu tuh lebih mentingin kerjaan sama si berondong jagung ketimbang aku."
Bianca merasa Skala benar-benar semakin manja, sepertinya sebentar lagi dirinya akan sibuk menghadapi dua bayi yang di dalam hidupnya.
"Ska, kamu tahu kan arti Niel Fashion buat aku, masuk The Beauty Magazine rasanya seolah tanpa bersusah payah melebarkan sayap sudah ada yang mau melebarkan sayapku." Bianca mengusap lembut pipi Skala lembut, menciumi kening suaminya yang masih tak mau memandang wajahnya.
"Apa kamu tidak bangga? jika ada yang berkata istrinya Skala Prawira, Direktur utama Niel Fashion bisa membuat produk perusahaanya dimuat di majalah internasional'." Bianca mencoba memberi bayangan pada Skala.
Skala mengangkat satu alisnya lalu membuka matanya menatap sang istri yang tengah memandangi wajahnya. Meski ia ikut senang dengan pencapaian yang sudah diraih sang istri, Tapi tetap saja jika mengingat si berondong jagung membuat tingkat kecemburuan papa Peanut naik level.
"Ca, apa kamu mencintaiku?" tanya Skala tiba-tiba.
Bianca mengecup bibir badak Afrikanya, mengguyar rambut Skala yang masih sedikit basah. "Sangat, kamu satu-satunya sandaran yang aku miliki."
Bibir Bianca kelu yang bisa Ia lakukan hanya menyelam ke dalam manik mata sang suami. "Ska ... "
"Jadilah ibu rumah tangga seperti anggota geng sultinimu, kamu bisa fokus ke aku dan little peanut kita."
"Skala .... "
"Ca ... jika kamu mau minta semua saham PG Factory akan aku berikan, tapi kamu mau kan menurutiku untuk berhenti bekerja? hem...!"
Bianca terdiam, sementara Skala pun tahu bahwa permintaannya bukanlah permintaan yang dengan mudah bisa dikabulkan oleh sang istri.
__ADS_1
_
...LIKE...
...KOMEN yang banyak...
...VOTE...
...ADD FAVORITE...
...love you seluas hutan Amaoneš„°...
__ADS_1
...Doain BKP season 2 bisa masuk rank karya baru sampai akhir periode ya š setelah itu..... itu..... ...