
"Ska, tolongin aku!" lirih Bianca dari balik sana.
Skala langsung panik saat mendengar suara istrinya menangis terisak-isak. Tanpa ingin tahu duduk perkaranya, Skala langsung menanyakan di mana Bianca berada.
"Kamu di mana.? Aku ke sana sekarang juga." Skala segera bringsut dari kursi kerjanya, menyambar jas yang selalu ia lepas saat sudah berada di dalam ruangannya.
"Di kantor, Ska. Banyak orang demo di depan lobi." isak Bianca dari balik teleponnya makin tak terkendali.
"Tenang dulu! aku akan ke sana secepatnya. Jangan panik, tunggu aku datang." Skala bergegas meninggalkan gedung PG group. Ia menyerahkan beberapa laporan yang belum sempat diperiksa pada Beni, apa yang dilakukan laki-laki itu sukses membuat dua bodyguard yang menjaganya kelimpungan.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, mobil Skala berhenti tepat di depan gedung Niel Fashion. Di mana ternyata ada banyak orang yang berdemo di depan lobi, mayoritas ibu-ibu dari kalangan sosialita dan para reporter dari majalah fashion.
"Kekacauan apa yang sedang terjadi?"
Skala menggeram kesal.
Kedua bodyguarnya langsung sigap membelah jalan agar Skala bisa masuk ke dalam gedung. Para reporter langsung menghampiri Skala untuk meminta konfirmasi pada suami direktur utama Niel Fashion, namun Skala tak acuh dan terus berusaha melepaskan diri dari kerumunan orang-orang itu.
"Tuan Skala ... Tuan Skala, bisakah kami minta waktu Anda sebentar?" Jepretan kamera dan mikrofon para reporter terus memburu Skala selama ia berjalan.
"Mohon maaf, biarkan saya tahu pokok permasalahannya dulu pada istri saya. Tolong izinkan saya lewat, kami akan segera memberikan konfirmasi secepatnya. Terima kasih." Skala menunduk, dan langsung melangkah dengan kecepatan maksimal. Pikirannya berkecamuk dan dipenuhi rasa khawatir. Ia ingin segera menemui Bianca.
Setelah berhasil masuk, Skala langsung menuju lift terdekat. Dua bodyguardnya langsung menghadang karyawan lain yang hendak ikut masuk agar mereka dapat segera sampai ke ruang kerja Bianca.
"Lama sekali!" Skala mendengkus menahan rasa frustasi. Entah mengapa lift itu seperti tidak bergerak sama sekali. Ia sadar, Bianca pasti sangat ketakutan sampai menelponnya meminta tolong seperti tadi, jika hanya masalah sepele istrinya itu pasti akan melibasnya hanya dengan jentikan jari karena Skala tahu betul seperti apa karakter Bianca.
Begitu lift terbuka, Skala langsung berlari kencang menuju ruang direktur. Tempat di mana Bianca berada sekarang.
"Ca!" Skala memndorong pintu itu kuat-kuat. Matanya langsung tertuju pada Bianca yang tengah menangis dan ditenangkan oleh Julian dan Lidya.
"Ska-la... "
Bianca yang sedang duduk di sofa langsung menatap suaminya ketakutan. wajahnya sembab karena terus menangis. Rambutnya juga sedikit berantakan. Bianca sangat takut mendengar ancaman para ibu-ibu yang hendak membakar gedung kantor Niel Fashion bahkan ada yang sampai mengancam akan mencelakainya.
__ADS_1
"Tenang ada aku, aku sudah disini!" Skala langsung memeluk tubuh yang jiwanya tengah rapuh itu seerat mungkin, membuat Bianca malah semakin terisak dalam balutan dada hangatnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Bay?" Skala menoleh pada Bayu yang sedang sibuk dengan laptopnya. Mungkin sedang membuat rencana pemecahan masalah yang terjadi pada Niel Fashion.
"Berkat artikel yang dibuat oleh The Beauty Magazine, produk baru yang perusahan kami luncurkan sangat laris Tuan. Hanya saja--" Bayu menggantung ucapannya. Tidak enak untuk menjelaskan.
"Hanya saja apa? Tolong jangan bertele-tele!" bentak Skala emosi.
"Hanya saja, salah satu wanita dari kalangan sosialita mendapati suaminya berselingkuh. Ia mendobrak kamar hotel, namun suami dan selingkuhannya telah kabur terlebih dulu Berhubung ia hanya menemukan produk A New Able Bra dari Niel Fashion, ia membuat rumor jelek tentang produk kita." Bayu berhenti sejenak untuk meraup udara di sekelilingnya.
"Wanita itu menyewa salah satu penulis artikel gadungan untuk membuat rumor bahwa Bra keluaran Niel Fashion sangat meresahkan. Ia merumorkan bahwa A New Able Bra adalah produk pemicu perselingkuhan. Akhirnya, para ibu-ibu yang merasa resah dengan kabar itu langsung mendemo kantor kita." Bayu menunduk setelah selesai menjelaskan.
"Omong kosong! Apa hubungannya sebuah Bra dengan perselingkuhan yang dilakukan suami mereka? Buat jadwal konverensi pers sekarang juga. Kalau bisa segera lakukan konfirmasi, dan tuntut para pembuat rumor tidak jelas itu." Skala menggila murka.
"Sudah Tuan, kami sudah membuat jadwal konverensi pers dan menindaklanjuti kasus rumor tidak jelas itu," jawab Bayu singkat padat jelas.
Skala beralih menatap Bianca yang masih terus menangis. Mengelus lembut rambutnya agar lebih tenang.
"Yang selingkuh suami mereka, kenapa jadi produkku yang disalahkan?" ucap Bianca seraya mendongak. Masih terisak-isak dan belum mau berhenti juga.
"Tenang ya, aku pasti akan membantumu menyelesaikan masalah ini. Aku percaya kamu, ini bukan salahmu. Mereka saja yang tidak waras." Skala mengecup kening Bianca lembut.
"Terima ka—" Tiba-tiba bicara Bianca tercekat. Wajahnya berubah pucat seperti menahan sesuatu.
"Arghhhh!" pekik Bianca sambil memegangi perutnya kesakitan.
"Ca...?" Skala langsung panik bukan main. "Kenapa? ada apa?"
Gadis itu merosot, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Nyonya ... ! apa nyonya baik-baik saja?" Lydia ikut panik, karena ini kali kedua gadis itu melihat sang nyonya kesakitan merasakan kram di perutnya.
"Cepat telepon ambulance. Kenapa kalian diam saja?" bentak Skala panik.
__ADS_1
_
...Aku masih berusaha crazy up ya guys, dengan cerita yang ku usahakan ga kayak drama, semoga kalian ga bosan dan semoga kalian masih mau membaca. Aku belum benar-benar berani baca komen, takut down kalau lihat komen yang menghina, tapi sejauh ini komen kalian selalu positif. Terima Kasih ya....
...Aku masih mengejar pencapaian rank karya baru sampai 3 Januari. Doakan aku kuat crazy up dan pencapaian Ku nyala ya. Love you ❤...
...LIKE...
...KOMEN...
__ADS_1
...VOTE...
...😘...