Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Berdebat


__ADS_3

Bianca pergi meninggalkan Skala yang terlihat kebingungan di dalam markas. Laki-laki itu tiba-tiba saja seperti orang bodoh, terdiam tak tahu apa yang harus dilakukan.


Sementara sang istri sudah pergi dengan Bayu yang menjemputnya, Skala masih saja terdiam di kamar. Sampai Lydia melapor bahwa sang nyonya tidak ingin diantar, Bianca marah-marah dan mengancam tidak akan pulang jika duo Julid mengikutinya.


Sepanjang perjalanan ke Bandara, Bianca memilih diam, sesekali Ia menatap ponselnya untuk mengecek beberapa jadwal acara fashion show yang akan dia datangi.


"Apa Rickha bisa datang?" tanyanya ke Bayu.


"Tentu Bu, tim kita sudah mengabari bahwa Ibu tiri anda sudah ada di hotel sekarang."


"Jika acara ini tidak dihadiri orang-orang penting, jelas aku malas datang dadakan seperti ini,"ucap Bianca santai seolah melupakan pertengkarannya dan sang suami.


Saat di Bandara, Bianca masih saja sibuk dengan ponselnya, beberapa kali Ia terlihat menelpon, sama halnya dengan Bayu yang terlihat menjauh dan berbicara dengan seseorang.


Selang satu jam keduanya berdiri ketika nomor penerbangan mereka sudah dipanggil. Bianca harus tertahan sebentar karena petugas melakukan pemeriksaan ulang mendapati dirinya yang tengah berbadan dua. Sebuah surat keterangan Bianca tunjukkkan ke petugas. Surat yang dia minta secara dadakan ke Dokter Novita tadi.


Bianca duduk di kelas bisnis, gadis itu melamun menatap keluar jendela pesawat yang masih mengantri untuk terbang, pikirannya tiba-tiba melayang ke Skala yang entah kenapa bisa membuat dirinya begitu kesal tadi. Menghela napasnya lelah, gadis itu kaget saat seseorang duduk di sebelahnya dengan cara menghempaskan tubuhnya kasar.


Mata Bianca membelalak lebar, mendapati orang yang begitu Ia kenal duduk di kursi yang seharusnya menjadi milik Bayu. Laki-laki berkaca mata hitam itu menatap ke depan sambil melipat tangannya ke depan dada. Kakinya menyilang dengan santainya. Bianca yang melihat hanya tersenyum dengan sudut bibirnya, mencibir kelakuan kekanakan laki-laki yang tak lain adalah suaminya sendiri.


"Apa kamu merampas tempat duduk Bayu?" Tanya Bianca ketus.


"Aku tidak merampasnya, aku membayarnya tiga kali lipat plus menggantinya dengan tiket kelas ekonomi." Skala menatap sang istri tanpa menurunkan kacamatanya.


"Apa kamu sedang mengikutiku?"


"Hah ... GR, aku hanya ingin mengunjungi pulau pribadi milikku di Bali." Skala memalingkan mukanya.


"Ha ... ha ... ha, apa anda lupa tuan Skala Prawira, sertifikat pulau dan villamu ada padaku." Bianca mencibir sang suami.


"Oh … anda lupa sepertinya Nyonya, kita belum memindah tangankannya secara legal, jadi pulau itu masih milikku."


Dua mahkluk Amazon itu terus saja berdebat, sampai tidak mendengarkan instruksi untuk mengencangkan sabuk pengaman, hingga seorang pramugari menegur keduanya. Meskipun tengah kesal, Skala masih sempat memastikan Bianca memakai sabuk keselamatannya dengan benar.


Mereka hanya terdiam, Bianca memilih menatap keluar jendela. Ia kaget saat Skala menggerayangi perutnya. Ditepuknya punggung tangan laki-laki itu sedikit kasar.


"Sakit tahu!" pekik Skala

__ADS_1


"Apa aku juga tidak boleh melakukan bounding dengan Little peanut? Bahkan Dokter Novita menghubungiku tadi, Ia meminta persetujuanku, kamu tidak akan bisa naik pesawat ini jika aku berkata tidak pada Dokter Novita tadi," ucap Skala dengan sombongnya.


"Oh terima kasih," Ketus Bianca yang masih kesal dengan Skala yang memaksanya untuk melahirkan dengan cara operasi sesar. Gadis itu kembali memalingkan mukanya. Namun, tiba-tiba Skala meraih tangannya, mengaitkan jemari kanannya ke jemari kiri Bianca erat.


Bibir Bianca tersenyum, begitu juga dengan Skala yang meletakkan tautan tangan mereka di atas pahanya.


"Dasar!" gerutu Bianca.


***


Pesawat mendarat dengan mulus di Bali, Bayu membukakan pintu taksi yang akan membawa mereka ke hotel yang akan menjadi persinggahan mereka selama berada di sana.


"Katanya mau ke villa milikmu," Sindir Bianca ke Skala yang langsung masuk ke kursi penumpang di sebelahnya.


Bayu yang duduk di samping sopir pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sekretaris jomblo Bianca itu masih heran dengan drama rumah tangga yang terpampang nyata di hadapannya.


"Tapi lumayan lah, dapat tiga kali tiket ini," gumam Bayu dalam hati.


Mereka pun hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju hotel, sampai Skala mengekor dan menarik paksa koper Bianca saat akan menuju kamar mereka.


"Dengar Ca! aku hanya berubah pikiran untuk tidak ke villaku malam ini, aku hanya ingin memastikan anakku baik-baik saja, makanya aku ikut dengamu kesini." Skala mendahului sang istri berjalan menuju lift.


Skala meletakkan kopernya dan milik sang istri di dekat meja kopi. Duduk di atas ranjang, laki-laki itu mengamati gerak-gerik sang istri yang terlihat masuk ke dalam kamar mandi.


Alangkah terkejutnya Bianca saat keluar karena Skala langsung menyergapnya dengan dua tangan yang bertumpu pada dinding.


"Apa?" Bianca bertanya dengan mengangkat dagunya, menantang.


"Sudah marahnya? Aku ikut kesini sebenarnya karena ingin menjalani babymoon denganmu."


"Maksudnya?" Bianca berpura-pura bodoh, padahal jelas Skala sudah mulai membelai lembut pipinya.


"Ca ... , merontalah di bawah pelukanku malam ini," bisik Skala menggoda.


"Dasar Gila!" Bianca memalingkan mukanya, tersenyum mendengar ucapan suami sultannya. "Tapi kamu harus hati-hati."


_

__ADS_1


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


PRHH :



Otor : Tolong aku ga ngerti


Reader Cidaha : Mantau komen aja


...LIKE harus...


...KOMEN Wajib...

__ADS_1


...ga akan cantengan kok jempol kalian kalau cuma sekedar like dan komen...


...VOTE di Sorry Mr CEO aja ada GA periode 18-31 January 2021...


__ADS_2