
Skala mendorong tubuh Bianca sesaat setelah menutup pintu kamar, Ia rangkum sebelah pipi sang istri dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mulai menarik gaun gadis itu sampai terlepas dan teronggok di lantai. Disesapnya bibir Bianca penuh napsu, lidahnya menelusup masuk menggelitik rongga mulut dan sesekali membelit lidah istrinya.
Ciuman itu berlangsung lama, bahkan mereka masih saling berciuman di saat tubuh keduanya sudah polos dan terbaring di atas ranjang.
"Aku cemburu, aku benar-benar cemburu," ucap Skala dengan napas yang tersengal, di tatapnya Bianca dengan tatapan sayu, netranya berkabut napsu.
Sementara Bianca hanya bisa mengucapkan kata maaf. Ia tarik tengkuk Skala untuk kembali dia ciumi bibir laki-laki itu penuh gairah.
"Maaf, yang tadi benar-benar tidak sengaja Ska."
"Puaskan aku! sampai aku bisa melupakannya."
Perlahan Skala mengarahkan anaconda yang sudah lama tak berjumpa dengan piranhanya. Bianca melenguh, merasakan sedikit sakit seolah baru kali pertama melakukannya lagi. Ia remas punggung Skala sambil memejamkan matanya saat anaconda Skala amblas masuk sepenuhnya ke dalam mulut piranha.
"Aahh...." Skala melenguh dengan mulut yang sedikit terbuka, Ia merasakan sesuatu yang hangat nan lembut memijatnya di bawah sana.
Skala tak bisa mengendalikan diri, Ia hajar piranha yang membuatnya merana selama lebih dari satu bulan ini. Sang pemilik pun hanya bisa merintih kenikmatan, menikmati getaran dan gelombang yang menghantamnya bertubi-tubi.
"Ugh... Ska."
"Kenapa? apa sakit?" bisik Skala ke telinga Bianca. Ia peluk tubuh istrinya erat kemudian digigitnya leher gadis itu.
Bianca menggeleng dan semakin mendekap erat tubuh laki-laki yang tengah mencari kepuasan sekaligus memberi kenikmatan kepadanya itu.
"Panggil namaku!" titah Skala.
"Ska...la... Ugh...Emm...Ska... "
"Habis kau!" Seringai nakal terbit dari bibir kedua mahkluk itu. Skala semakin mempercepat gerakannya, membuat Bianca semakin blingsatan.
Anaconda yang sudah lama tak bersua dengan piranha kesayangan membuatnya semakin buas. Mendesak tak ada ahklak, bersenam ria seolah ini kali pertamanya masuk ke dalam mulut piranha.
"Dimana Bianca?" tanya Tama ke Felisya yang tengah memberi Rain ASI perah.
"Paling sedang dihajar Skala sampai babak belur," jawab Felisya sambil tertawa.
"Oke setelah ini aku yang akan menghajarmu, jadi minta dia untuk gantian menjaga Lintang," ucap Tama sambil melonggarkan dasi yang dia kenakan.
"Apa'an sih?" Felisya terlihat malu mendengar ucapan Tama.
***
Satu jam yang lalu
"Sepertinya kita cocok menjadi keluarga," ucap Prawira.
"TIDAK"
__ADS_1
Ravindra dan Bianca saling pandang. Salah tingkah, keduanya malah kembali mengucapkan kata yang sama.
"Tidak ... tidak salah."
Ravindra menaik turunkan alis matanya, bibirnya komat-kamit bak mbah dukun yang sedang membaca mantra. Bianca pun ingin sekali menendang laki-laki itu, tapi sayang kakinya tak sampai karena meja makan di rumah Prawira terlalu lebar.
"Ucapan anda tidak salah Tuan, kita memang cocok menjadi keluarga," ucap Ravindra.
Bianca menganggukkan kepalanya. Meskipun Otaknya meminta dia menggeleng.
Seusai makan malam bersama, Prawira pun mengajak Hana berkeliling istananya. Ia tunjukkan koleksi bunga-bunga yang ada di tamannya. Ravindra yang ikut mengekor bersama sang istri langsung ditarik oleh Bianca menjauh.
"Apa sih? ternyata sudah lahiran ya kamu?" tanya Ravin sambil melihat bentuk tubuh Bianca, Ia heran kenapa bentuk tubuh istri Skala Prawira itu masih sama seperti sebelum melahirkan, Ia tiba-tiba berharap istrinya juga segera mengandung buah hati mereka.
Bianca menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada orang di dekat sana. "Vin, kamu denger kan tadi apa yang kakek bilang? Apa mertuamu berencana menikah dengan kakek ku?"
"Memang kenapa kalau iya?"
Ravindra menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sikap usilnya sejak kecil sepertinya belum hilang. Meskipun lama tak bertemu Bianca Ia selalu ingat bahwa sepupunya itu dulu sangat cengeng, bahkan saat teman-teman SD nya meringsak dan membully Bianca, Ravindra lah yang datang menolong.
"Ca, apa kamu masih tidak suka makan es krim?"
Bianca kaget dengan pertanyaan sepupunya, jelas laki-laki itu pasti akan meledeknya habis-habisan jika dia nekat melanjutkan pembicaraan.
"Kenapa kamu tiba-tiba membahas itu?" Bianca sedikit malu jika kelembekannya saat kecil diungkit-ungkit.
"Ca, jujur saja, kamu dulu menyimpan perasaan padaku kan?"
"Udahlah aku malas, aku lagi bahas apa, kamu malah bahas apa!"
Bianca berbalik meninggalkan Ravindra, tanpa Ia sadari sejak tadi Skala dan Audrey ternyata mendengar percakapan mereka.
Kenapa dia memanggil Bianca dengan panggilan Ca, sedekat itukah mereka?
Vin, apa dia pernah singgah di hatimu?
Skala dan Audrey saling pandang, sebisa mungkin mereka sembunyikan perasaan masing-masing. Keduanya saling melempar senyum sebelum melihat pemandangan mengejutkan yang terjadi di depan mereka.
Ravindra tanpa sengaja menginjak bagian belakang gaun Bianca yang memang menjuntai panjang, hampir saja ibunda Rain itu terjerembab jatuh ke depan. Beruntung dengan sigap sang sepupu langsung memeluk erat pinggangnya, alhasil terjadilah adegan romantis dimana Ravindra memeluk Bianca dari belakang.
"Ravin!"
Audrey memanggil nama suaminya. Seketika adegan tak sengaja berpelukan itu terhenti. Skala yang melihat hanya berdehem lalu bernjak pergi, papa Rain sangat cemburu. Bianca jelas tahu, suaminya itu tak suka dia disentuh Pria lain meski hanya ujung kukunya.
Setelah keluarga Hana pulang barulah Skala menunjukkan amarahnya. Bahkan tangan Bianca yang hampir menyentuh pergelangan tangannya Ia tepis begitu saja.
"Ska... "
__ADS_1
"Skala tunggu!"
Felisya dan Tama yang menyaksikan hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka tahu bahwa marahnya Skala tak akan berlangsung lama.
"Skala ... kenapa sih tiba-tiba kayak gini?" Bianca mendahului langkah suaminya, Ia rentangkan tangannya lebar-lebar untuk menghadang laki-laki itu.
"Yang tadi benar-benar tidak sengaja," ucap Bianca dengan wajah memelas.
"Apa dia begitu dekat denganmu, sampai dia memanggilmu—Ca?"
"Itu panggilan kesayangan waktu kecil Ska."
"Oh ... kesayangan ya? baiklah, minggir!" Skala terlihat tak peduli. Ia hampir pergi meninggalkan Bianca, tapi istrinya itu langsung menangkup dan mencium bibirnya.
"Jangan marah! kamu tahu dengan jelas aku sangat mencintaimu," lirih Bianca setelah melepaskan bibirnya dari bibir sang suami.
Tanpa berbicara, Skala menarik tangan Bianca masuk ke dalam kamar. Ia ingin memberikan pelajaran ke istrinya, bagaimana cara menjinakkan suami yang tengah cemburu.
***
"Sudah?" Pertanyaan Tama membuat Bianca salah tingkah saat masuk ke dalam kamar untuk melihat anaknya.
"Mana Felisya?"
"Di kamar, sekarang gantian kamu jagain anakku!" Tama yang sedari tadi berbaring di atas ranjang terlihat bangun secara perlahan agar tidak mengganggu Rain dan Lintang.
"Memang kalian mau kemana?"
"Ke Way Kambas, melihat gajah," jawab Tama santai.
_
_
_
_
_
_
_
_
...LIKE...
__ADS_1
...KOMEN yang banyak...
...Terima kasih, Na otw Way Kambas mau lihat gajah dulu ya...