
Skala menatap sang istri dari kursi hadirin. Ia tak menyangka bahwa Bianca akan menjadi pembicara di event fashion yang sedang berlangsung saat itu. Bianca terlihat tersenyum, dengan dress simpel berwarna broken white, istrinya yang tengah mengandung buah cinta mereka itu terlihat begitu anggun.
"Pertanyaan terakhir utuk Ibu Bianca, apa sih hal yang terpenting dalam hidup anda sekarang?" tanya sang pembawa acara sebelum menutup sesi perbincangan dengan dirktur Niel Fashion itu.
Bianca tersenyum, menatap Skala yang mengucapkan kata apa tanpa bersuara, dan dengan sepenuh hati, Bianca menjawab pertanyaan si pembawa acara.
"Suami dan calon anak kami."
Jawaban gadis itu sukses membuat Skala terharu, Ia berdiri dan bertepuk tangan. Menyambut Bianca yang turun dari atas panggung untuk langsung memeluknya erat.
"Aku mencintaimu," bisik Skala mesra.
***
"Kita mau kemana?" tanya Bianca yang langsung diculik oleh sang suami bahkan sebelum acara itu selesai.
Skala meletakkan jari telunjukknya di depan bibir, meminta sang istri untuk diam. Bianca menurut, lagipula Ia yakin jalan yang dilewati mobil yang ditumpangi mereka adalah jalan menuju villa milik sang suami.
Menggandeng erat Bianca. Skala sukses membuat istrinya terperanga. Disulapnya bagian belakang villa menjadi sebuah tempat pesta sederhana namun elegant.
"Happy birthday kesayangan aku," bisik Skala mesra, ditangkupnya pipi Bianca lalu mendaratkan sebuah kecupan di kening.
"Terima kasih sayang," balas Bianca tak kalah mesra.
Nuna yang datang bersama sugar grandpa nya ke Bali terlihat berlari sambil membawa satu bucket bunga mawar putih, Ia memberikannya ke sang tante sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Bocah itu kemudian mengambil sesuatu di kantong tas slempang miliknya, sebuah sikat bekas yang dia taruh ke dalam plastik zip lock.
"Ini pesanan onty. Eh ... tau ga onty? oma Salma nanya sama aku, kok sikat opa ga dikembaliin." Nuna menyerahkan hasil tindakan kriminalnya ke Bianca sambil bercerita.
"Terus kamu jawab apa?" Bianca menerimanya dengan sedikit rasa khawatir.
"Aku jawab sikatnya ga sengaja jatuh ke lubang toilet."
Skala tertawa mendengar jawaban Nuna, Ia akui keponakannya itu memang sangat cerdas. Kemampuan memutar kata-kata yang dimiliki Nuna sungguh luar biasa.
Setelah anak lady Day itu menyapa, ke tiganya pun berjalan mendekat ke arah meja pesta, tapi lagi-lagi Nuna bertanya ke Bianca dengan gaya polosnya.
"Sikat gigi opa mau dipakai buat apa sih onty? Onty mau kirim santet ya?"
Skala kembali terbahak, mulut bocah itu memang terkadang melebihi petasan banting yang sering dia mainkan saat kecil.
***
"Ini pesta ulang tahunmu sekaligus anggaplah baby shower, maaf aku hanya mengundang Tama, Felisya, Kakek dan Nuna," bisik Skala.
__ADS_1
"Ini lebih dari cukup Ska, terima kasih sudah membuat ulang tahunku lebih berwarna, karena selama ini aku tidak pernah peduli dengan hari kelahiranku sendiri." wajah Bianca berbinar, bahkan senyuman tak lepas dari bibirnya.
Ke enam orang itu hanya makan bersama untuk merayakan hari lahir Bianca, mereka pun mengobrol dan bercanda sambil menikmati angin sore pantai.
"Kakek, kencan buta perdana kakek boleh gagal, tapi kami tidak akan menyerah mencarikan kakek istri," ucap Skala.
"Kami akan meminta Madam Zi untuk memilihkan calon istri kakek lagi," Imbuh Tama.
"Kalian kenapa percaya kepada seorang mak comblang yang tak jelas rimbanya itu? Kakek penasaran dan akan mulai menyelidiki siapa wanita itu. Lihat saja kalau sampai ketemu! akan kakek ceramahi dia sari A sampai Z." Prawira bersungut kesal.
Nuna yang mendengar ancama Prawira hanya bisa menelan salivanya, gadis itu memasukkan potongan kue ulang tahun Bianca ke dalam mulutnya yang tiba-tiba terasa pahit.
_
_
_
_
_
_
_
_
...-...
...-...
Skala dan Bianca memilih memakai kamar bawah villa untuk bermalam, begitu juga dengan Tama dan Felisya. Jam masih menunjukkan pukul sembilan malam waktu Bali saat semua orang sepertinya sudah tertidur. Tapi tak berlaku untuk Skala dan Bianca. Dua mahkluk itu tengah bergulat membuat sofa kamar berderit.
Menunggang kuda dinilai mereka sebagai gaya paling aman bagi bayinya, meskipun tak berani membuat anacondanya berdisko ria, tapi bagi Skala rasanya sama memabukkannya. Berkali-kali Skala mengguyar rambutnya. Kenikmatan digigit dan dihisap oleh piranha sudah mencapai ubun kepalanya.
"Uh ... Ca, setelah kamu melahirkan nanti berapa lama aku harus menahan diri?"
"Em... mungkin sebulan."
"Kalau begitu aku mau seperti ini setiap hari, ah ... "
Skala menyesap lereng bukit Bianca hingga membuat bekas merah disana. Laki-laki itu sadar bahwa puncak bukit sudah diberi garis kuning oleh little peanut mereka.
__ADS_1
"Do not across, dilarang melintas!"
Keduanya masih berpacu dan tak sadar suara deritan sofa mengganggu indra pendengaran orang yang masih terjaga malam itu.
Felisya geleng-geleng kepala menyadari apa yang tengah berlangsung di kamar adik iparnya. Ia yang baru kembali dari dapur pun kaget, saat melihat Nuna berusaha menempelkan telinga ke pintu kamar Skala dan Bianca.
"Eh ... Nuna, sana tidur! mau ngapin kamu?"
"Tante Feli, aku penasaran apa ada jungkat jungkit di dalam kamar ini," ucap Nuna.
"Jungkat jungkit?" Felisya nampak terheran heran.
"Bunyinya krekkk kiyeekkk kreekkk kiyekkk, kek besi kurang oli."
"Itu bunyi kursi sofa," sahut Felisya yang langsung menutup mulutnya. "Eh Nuna, sini sama tante aja!"
Bocah itu tak bergerak dari posisinya mendengar perintah Felisya, dan pada akhirnya istri Tama itu harus memutar otaknya.
"Nuna, mau gambar Proklamtor ga?"
Mendengar kata sakti, Nuna pun langsung berpaling, Ia mengekori Felisya bak anak ayam.
"Mau donk tante."
-
-
-
-
-
-
...jarinya digoyang ya buat...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE di NicNa aja ya...
__ADS_1
...Aku beneran Tobat...