
“Ke-na-pa bisa begini?”
Skala tak percaya, ia menggelengkan kepala cepat. Seolah menolak apa yang dipikirkan istrinya. Foto yang diperihatkan Bianca menunjukkan Skala yang sedang menempel pada seorang gadis. Padahal yang sebenarnya terjadi, gadis bernama Mina itu menarik kemejanya karena terlalu marah berdebat dengannya. Entah seprofesional apa orang yang dengan sengaja mengambil foto itu, di sana nampak seolah Skala dan Mina tengah bermesraan bak melakukan foto pre wedding.
“Foto ini bertebaran di internet Ska,” Ucap Bianca kesal. Sayang yang tidak Bianca ketahui, beberapa jam setelah foto itu tersebar ada sebuah video yang menunjukkan suaminya dan gadis itu sebenarnya sedang bertengkar.
“Gadis ini adalah seorang selebgram, dia istri pemilik ABI TV.”
“Apa?”
Skala makin terkejut, otaknya mulai mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu dimana pemilik stasiun TV itu mengajaknya bertemu dan melayangkan protes karena orang yang disukainya masuk rumah sakit karena mikurame pedas mampus produksi pabriknya.
“Sial!” Skala mengumpat.
“Kamu memaki aku?” Bianca memukul lengan suaminya, membuat Skala tersadar dari ingatannya.
“Bukan Ca, bukan!”
“Aku tidak suka kamu sedekat ini dengan perempuan lain, menempel-nempel seperti lintah. Bagaimana kamu menjelaskan ini ke semua orang? rekan bisnis, teman dan keluarga kita pasti akan melihat!”
Bianca masuk ke dalam rumah setelah mengungkapkan isi hatinya, Skala menepuk jidat ia lupa kalau istrinya itu sedang datang bulan.
“Matilah aku!” sesalnya berkali-kali.
***
Menemani sang putra membaca buku cerita seperti biasa, malam itu Bianca tetap bersikap cuek ke sang suami yang duduk sambil memandanginya dan Rain. Skala merasa terasingkan karena tidak diajak berbaur apalagi bercanda.
“Rain!” panggilnya ke sang putra.
Bocah itu terlihat cuek seolah mengerti bahwa papanya membuat kesalahan karena tidak menuruti nasihat sang mama dan patut dihukum.
__ADS_1
“Ca!”
Bianca berpura-pura tak mendengar ucapan suaminya. Ia tetap kesal karena sang suami mengabaikan nasihatnya tadi pagi, meskipun dia juga sudah melihat video dimana ternyata Skala dan gadis itu ternyata sedang bertengkar.
Suasana markas masih diisi dengan suara Bianca dan Rain, sampai akhirnya Skala menghentak-hentakkan kakinya dan menggoyang-goyangkan pundaknya kesal.
“Maaf! Aku minta maaf! Jangan mendiamkan aku seperti ini.” rajuknya melebihi Rain saat tantrum.
Seperti mengerti akan kesedihan hati papanya, Rain menutup bukunya yang berada di tangan sang mama. Bianca pun sukses dibuat heran oleh tingkah malaikat kecilnya itu. Rain langsung berdiri dan memeluk kepala Skala. "Papa cangan cedih.”
Menatap Bianca sambil mengusap-usap punggung Rain, Skala kembali mengucapkan kata maaf ke istrinya tanpa suara. Luluh lantah rasa marah Bianca saat melihat pemandangan manis di hadapannya. Ia pun ikut meringsek dan memeluk Rain juga suaminya.
"Em ... kesayangan aku," ucap Bianca sambil menghirup aroma tubuh putra tampannya.
"Maaf ya, aku janji tidak akan berbuat konyol lagi," bisik Skala menjanjikan sesuatu yang tidak akan mungkin bisa dia penuhi.
***
"Hari ini diantar papa sama mama ya, pulangnya dijemput mama karena papa ada rapat, oke!" Skala memperlihatkan telapak tangannya ke sang putra agak tinggi, mengajak Rain melakukan jumping tos.
"Oke," jawab bocah manis itu.
"Ingat pesan mama! dengarkan kata bu guru dan jangan mau diajak pergi atau dekat-dekat dengan orang asing jika tidak mengenal orang itu. Oke!" Bianca mencium kening putranya di depan gerbang sekolah. Beberapa guru sudah menyambut para siswa dengan ramah.
Bianca menghela napasnya berkali-kali, belakangan ini dia dan Skala menjalani aktifitas normal setelah beberapa tahun. Mereka bisa berangkat dan pulang kerja bersama karena Julian dan Lydia sedang memgambil cuti untuk menyiapkan pernikahan mereka.
"Apa kita masih membutuhkan duo Julid sebagai pengawal?" tanya Skala sambil menggenggam erat tangan Bianca yang duduk di sampingnya.
Istrinya itu menggeleng, "Aku sudah menawarkan Julian bekerja di Neil Fashion, sepertinya setelah menikah dia tidak akan mengijinkan Lydia bekerja lagi, lagipula kita juga tidak memiliki musuh Ska, aku ingin Rain menjalani hidup normal seperti teman-temannya."
"Lalu apakah kamu tidak ingin berhenti bekerja juga?" pertanyaan Skala membuat Bianca terdiam. Ia mencubit pipi suaminya gemas.
__ADS_1
"Tidak ingin! untuk yang satu itu aku tidak bisa."
"Ayolah! berhenti bekerja dan kita fokus membuatkan adik untuk Rain."
Pipi Bianca tiba-tiba saja memerah menahan malu. Ia tepuk pundak suaminya. "Ish ... berhentilah menggoda 'ku, dasar Anaconda tak ada ahklak."
THE END
_
_
_
_
_
_
_
_
...Guys aku end kan sampai di sini ya 🥰 Terima kasih untuk kalian yang udah mengikuti cerita receh Ini Dari awal. Mohon maaf jika banyak kekurangan....
...Jika kalian berkenan jangan di Unfavorite dulu ya karena aku akan kasih bonus chapter di sini, jadi biar kalian dapat notifikasinya....
...Endingnya ga gantung, mereka HAPPILY EVER AFTER 🥰...
...Terima kasih...
__ADS_1