Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
Bonus Bab 4 : PBB - Perserikatan Pembantu Blok


__ADS_3

"Aku mau jadi anak uncle Nic dan onty Mina saja."


"Apa?"


Suara kaget Bianca memecah keheningan pagi. Pembantu rumah tangganya yang bernama Kekey sampai kaget dan hampir menumpahkan segelas susu ditangannya.


"Kamu pasti marah karena mama menjemputmu pulang dari rumah kakek buyut kan?" Bianca bersikap biasa, menghadapi Rain yang tengah merajuk baginya adalah hal yang biasa.


"Tidak! karena semalam mama tidak mencariku, bagaimana aku bisa bangun di kamarku? pasti uncle Nic yang menggendongku sampai pulang ke rumah."


"Enak saja, papa yang menggendongmu," sahut Skala yang baru saja bergabung ke ruang makan untuk sarapan.


Rain hanya terdiam, bibirnya tertekuk ke belakang sambil melirik serealnya di atas meja. Sebenarnya Ia memang kesal karena dijemput pulang dari rumah Prawira.


_


_


_


Seperti hari-hari biasa di tahun-tahun sebelumnya, Skala dan Bianca masih disibukkan dengan pekerjaan di perusahaan mereka masing-masing. Apalagi jabatan yang mereka duduki sekarang, membuat keduanya dituntut untuk lebih mencurahkan energi dan pikiran mereka.


Rain, bukannya kurang kasih sayang. Namun, Ia terlalu dimanjakan. Ya, bukan oleh orangtuanya tapi Prawira. Pria tua itu akan melindungi Rain saat Bianca atau Skala memarahinya. Berbeda dengan Lintang, anak itu tidak pernah membuat masalah jadi Tama dan Felisya jarang memarahinya.

__ADS_1


Berbicara soal Blok Kamboja, suasana pagi pasti akan sepi jika semua pemilik rumah di sana sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Hari itu, Bu Dewan sibuk memersiapkan acara lamaran putranya yang akan dilangsungkan dua hari lagi. Dewa, akan menikah dengan seorang gadis bernama Airin, putri salah satu pimpinan partai politik. Patah hati terbesar bagi Nuna tentunya, keponakan Bianca yang sekarang duduk di bangku kuliah itu sampai enggan berkunjung ke rumah tantenya. Menyibukkan diri mencari uang sebagai Madame Zi dan berpesta bersama teman-temannya.


Ditinggal sang majikan pergi, Barbie selaku sekjen Perserikatan Pembantu Blok Kamboja menghentikan aktifitasnya membungkus buah tangan yang akan dibawa ke acara lamaran Dewa. Mengambil ponsel jadulnya, Ia memberi tahu teman-temannya untuk berkumpul di rumah majikannya untuk melakukan kongres luar biasa.


“Bagaimana? apa kalian sudah meminta kenaikan gaji?” tanyanya ke Kekey pembantu Bianca.


“Hem … sudah.”


“Lalu apa jawabannya?”


“Nyonya Bianca bilang pasti mba Barbie sudah menghasut saya.”


Menepuk jidatnya Barbie geleng-geleng kepala, apalagi saat Kekey berkata menjawab pertanyaan Bianca dengan kata iya.


Terdiam, wanita yang akrab disapa Marimar itu mengulangi ucapan Mina saat dia meminta kenaikan gaji.


“Mba Dewi dulu ikut aku dua tahun ga serewel ini deh Mar, kamu baru juga satu tahun. Aku akan menaikkan gajimu, tapi tunjukkan dulu kinerja yang benar, jangan suka telponan kalau lagi masak, ayam satu wajan aja kamu gosongin.”


“Ish … ish .. ish kayak aku donk, Bu Erin bilang aku bakal dikasih naik gaji dua puluh persen,” ucap Jamilah pembantu Bu Erin sambil menepuk dadanya.


“Gimana caramu ngerayu Bu Erin?”

__ADS_1


“Aku bilang, aku akan menyampaikan setiap kali ada gosip terhangat, terpercaya yang ada di komplek ini dan komplek sebelah.”


Semua yang mendengar ucapan Jamilah menganggukkan kepala, seolah mendapatkan ide cemerlang untuk membujuk majikan-majikan mereka agar mau menaikkan gaji.


Para Pembantu Blok Kamboja itu masih sibuk mengobrol, sampai sebuah mobil terlihat melaju lalu parkir di depan halaman rumah Bianca. Kekey pun bergegas berlari untuk melihat siapa yang datang ke rumah sang majikan.


“Mba Nuna,” sapanya melihat keponakan Bianca itu turun dari mobilnya. “Ga ada orang di rumah mba.”


Gadis cantik berumur dua puluh tahun itu mengulurkan undangan ke Kekey sambil berucap, “Aku hanya ingin mengantarkan undangan acara syukuran rumah baruku.”


“Widih … mba Nuna, udah bisa beli rumah aja, mba Nuna bisnis apa sih? Mbok neng Kekey ini diajak to mba.”


Menurunkan sedikit kacamata hitam yang bertengger manis di wajahnya, Nuna menatap pembantu Bianca itu dengan raut wajah serius, “Jadi bandar narkoba, kamu mau?”


“Astagfirullahaladzim mba Nuna.”


_


_


_


_

__ADS_1


Like


Komen 🥰


__ADS_2