
Ke empat mahkluk yang tengah kebingungan itu memilih membiarkan Prawira menikmati pesta. Pria itu terlihat duduk satu meja dengan geng sultini blok kamboja dan tertawa bahagia.
Skala langsung meletakkan gelas yang isinya baru saja ia tenggak saat melihat sang istri mengusap-usap perutnya, laki-laki takut jika Bianca mengalami pendarahan lagi seperti beberapa waktu yang lalu.
"Kenapa? apa ada yang tidak beres?" tanyanya cemas sambil menyentuh punggung tangan sang istri yang masih berada di atas perut.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya berbicara dengan little peanut di dalam hati." Bianca meraih tangan Skala, mengaitkan jemari mereka lalu meletakkan ke pangkuannya.
"Apa yang kamu katakan padanya?" Skala yang penasaran tak bisa berpaling menatap wajah sang istri.
"Semoga Ia tidak menuruni kelakuan gila buyut dan papanya."
Tama dan Felisya yang mendengar pun terbahak. Mereka lalu menatap ke arah sang kakek yang tengah berdiri sambil tertawa, entah apa yang Prawira ceritakan sampai semua ibu-ibu anggota geng sultini blok kamboja ikut tertawa bersamanya.
"Hei Ca, memang aku gila apa? Lagipula dia anakku jadi wajar kalau nanti kelakuan dan sifatnya mirip sepertiku." Skala membela diri, bibirnya sudah mengerucut ke depan—kesal.
"Lihat lah lihat, begitu saja kamu ngembek. Aku tidak bisa membayangkan betapa lucunya little peanut nanti hem... " Bianca mengapit kedua pipi suaminya, mencium bibir Skala persis di depan kakak iparnya.
Berpura-pura batuk, Tama langsung meminta Felisya mengambilkan air minum untuknya. "Bisa tidak kalian berhenti pamer kemesraan di sini?" pinta Tama setelah sang istri pergi.
"Kenapa? tidak ada anak di bawah umur disini." Skala menoleh ke sekeliling, Ia membela sang istri tercintanya.
"Mertuaku dari tadi mengamati meja kita, apa kalian tidak malu bercumbu di depan pak Menteri?"
"Jangankan di depan Menteri, di depan presiden saja aku berani pamer kemesraan," ketus Bianca.
Skala mencium punggung tangan sang istri, bukan Bianca namanya jika tidak bersikap sombong menanggapi pertanyaan orang yang memojokkan dirinya.
"Mungkin orang tua Felisya bersyukur yang menjadi manantunya adalah dirimu bukan Skala," ucap Bianca tiba-tiba.
"Kok aku dibawa-bawa." Skala menyipitkan matanya kemudian menatap Tama dengan raut kesal. "Memang aku kenapa?"
"Pak Menteri pasti malu punya menantu somplak seperti dirimu."
Tama kembali terbahak mendengar ucapan adik iparnya, Ia baru diam setelah Felisya datang dan menanyakan ada apa sampai dirinya tertawa seperti itu.
"Bianca bilang papamu pasti akan malu jika Skala menjadi suamimu alias menantunya," beber Tama.
"Memang, aku juga bersyukur tidak jadi menikah dengannya," ejek Felisya.
"Hei Felisya, bukankah empat bulan setelah kamu menjadi istri Tama kamu masih berkata mencintaiku bahkan di saat aku juga sudah menikahi Bianca kamu juga memohon meminta aku kembali padamu," ucap Skala tak terima.
"Hem, benar aku pernah berkata seperti itu, tapi asal kalian tahu saat itu aku khilaf."
Pengakuan Felisya membuat Skala tak bisa lagi berkutik, apalagi saat melihat kakak sepupu dan istrinya tertawa. Skala hanya bisa memalingkan muka sambil menenggak minumannya.
__ADS_1
"Uluh uluh papa peanut kalah debat," goda Bianca.
***
"Jadi aku berniat mulai malam ini, secara bergantian dua hari akan tinggal di rumah Seketek dan dua hari di rumah Tamia."
Prawira berbicara dengan jenakanya ke ibu-ibu geng sultini blok kamboja.
"Wah kami senang bisa punya tetangga seperti anda Pak prawira," sambung bu Dewan.
"Aku akan membawa beberapa pelayan dari rumah ke sini, masa rumah sebesar itu tidak punya asisten rumah tangga?"
"Iya Pak, cucu anda memang aneh. Mereka lebih memilih menyewa pekerja harian untuk membersihkan rumah, seperti takut sesuatu akan terbongkar jika ada ART di rumah." Bu Erin mulai melancarkan aksi untuk mengulik seberapa embernya Sultan tua itu.
"Mereka pasti takut terganggu jika ada ART di rumah," imbuh bu Eli.
"Bukan-bukan, bukan karena itu. Mereka awalnya menikah karena aku yang menjodohkan, mereka tidak cinta satu sama lain, jadi mereka membuat sebuah kontrak pernikahan dan mungkin jika ada ART mereka takut rahasia mereka akan terbongkar."
Mata semua ibu-ibu itu membelalak lebar, lalu memandang ke arah meja di mana Skala terlihat tengah menciumi punggung tangan istrinya.
"Kontrak?" tanya Bu Dewan heran.
"Iya, tak tahunya sekarang jatuh cinta bahkan seolah tidak bisa terpisahkan lagi."
"Wah .... "
"Pantas di awal mereka bak anjing dan kucing," ucap Bu Dewan setelah mengingat kelakuan dua tetangganya.
***
Hari pun semakin larut, benar saja setelah pesta usai Prawira langsung melenggang membuntuti cucu kesayangannya pulang ke rumah.
Bianca pun mengantar Prawira ke kamar tamu, berpesan jika ada apa-apa sang kakek bisa mengetuk pintu kamarnya dan Skala.
"Apa kita benar-benar perlu mencarikan kakek istri?" bisik Skala ke Bianca saat keduanya sudah nyaman berbaring di bawah selimut yang sama.
"Tapi Ska, aku tidak bisa membayangkan Little peanut kita memiliki kakek dan nenek yang seumuran dengannya."
Skala tertawa mendengar ketakutan istrinya, bahkan Bianca sampai menggeliat bak tengah kegelian membayangkan jika ucapannya benar terjadi.
"Biarkan saja kakek, yang penting sekarang adalah kamu ingin menamai little peanut kita siapa saat dia lahir nanti?"
"Entahlah Ska aku belum menemukan nama yang bagus, tapi bukankah setidaknya kita harus menyiapkan dua nama?" Bianca mendongak, memandangi wajah suaminya, terlalu gemas gadis itu mencium daging tak bertulang Skala.
"Kamu sudah tak sabar ya kan?"
__ADS_1
"Hem ... aku tak menyangka kamu sekuat ini, padahal sudah hampir satu bulan." Bianca menggoda sang suami.
"Ya kan aku masih bisa bermain gundu di kamar mandi."
Skala yang geli langsung memeluk erat tubuh Bianca, keduanya hampir saja terbuai lelap saat suara ketukan pintu membuat mereka membuka mata kembali.
"Ada apa kek?" tanya Skala teheran-heran saat melihat Prawira berdiri di depan pintu.
"Kakek tidak bisa tidur kalau belum minum teh lavender," ucap Prawira tanpa dosa.
_
Otor : Oh ya nama sekertaris kakek sultan Radit ya, udah aku like dan komen yang menang 😘 Na ga mau cuap-cuap, Na lapar 🤣
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...ADD FAVORITE...
__ADS_1
...RATE BINTANG 5...
...Makasih reader PRHH mesumable dan alumni UH AH yang masih mau bersabar 🤣...