
Bianca duduk sambil menyandarkan punggungnya di sofa ruang guru sekolah Rain, badannya terasa tak memiliki tenaga sama sekali. Ia bahkan hampir pingsan karena terlalu syok dengan peristiwa yang dialami putranya.
“Kalau sampai terjadi hal yang buruk ke Rain, aku tidak ingin hidup lagi Ska,” lirihnya ke sang suami yang sedari tadi menggenggam erat tangannya.
Mereka masih menunggu polisi mengecek rekaman CCTV dan mengumpulkan keterangan para saksi.
Sudah tiga jam lamanya Bianca dan Skala berada di sana, sampai guru Rain datang ke ruangan itu. Bianca menangkap raut kelegaan di sana.
“Ra-in, ada yang menemukan dia Mom, seseorang berkata dia berada di rumah sakit.”
Bianca memandang Skala yang sudah berdiri dari sofa sama seperti dirinya, keduanya lantas berlari menuju mobil. Skala membawa kendaraannya menuju sebuah rumah sakit yang disebutkan oleh guru Rain.
Dengan langkah yang tergesa, Bianca langsung menuju ke bagian informasi dan langsung menanyakan keberadaan Putranya ke petugas.
“Ah … iya, tadi wanita yang membawanya berpesan, jika ada yang mencari diminta langsung ke kamar nomor enam sembilan enam di lantai tiga.”
Berbekal informasi itu, Bianca berlari menaiki Lift. Ia benar-benar ingin memastikan putranya baik-baik saja. Bianca mengetuk pintu setibanya di depan kamar nomor enam sembilan enam, seorang wanita paruh baya terlihat heran menatap ke arahnya.
“Maaf, saya Bianca. Saya mencari anak saya.”
Seketika air mata mengalir deras ke pipinya.
Seorang gadis muda terlihat mendekat, gadis itu pun terkejut mendapati Skala yang berdiri di belakang Bianca. Ya, Mina-pemilik rumah baru yang akan menjadi tetangganya, yang sempat bersitegang dengannya, ternyata penyelamat Putranya.
“Apa yang terjadi?” tanya Skala yang melihat seorang pria terbaring di ranjang.
Bianca menoleh, setelah masuk ke dalam tadi ia langsung mendekat ke arah Rain yang tengah tertidur, melupakan sosok yang tengah dirawat di sana.
“A-apa dia suami ‘mu?” Skala tak percaya setelah melihat wajah pria yang terbaring itu.
__ADS_1
“Iya, dia terkena sabetan senjata tajam dari penculik yang berusaha membawa kabur anak anda, suami saya kehilangan banyak darah.” Raut kesedihan jelas nampak jelas terlihat di wajah Mina, tapi gadis itu masih bisa sedikit tersenyum saat menjawab pertanyaan Skala.
Setelah berpamitan dan berjanji akan datang kembali, Skala dan Bianca mengajak Rain pulang. Sepanjang perjalanan Bianca terus mendekap erat putranya, bibirnya berkali-kali mengucapkan rasa syukur dan meminta maaf.
“Maaf Rain, maaf! Maaf mama tidak bisa menjaga ‘mu dengan baik.” Gumam Bianca sambil sesekali mengusap air mata yang menetes di pipinya.
***
“Dia tidak trauma kan?”
Skala memeluk Bianca dari belakang saat istrinya itu memandangi Rain yang sudah tertidur pulas. Bocah itu hanya sekali berkata takut tadi, lalu Bianca menenangkan dengan penjelasan menggunakan kata-kata yang dia harap bisa dimengerti oleh putranya itu.
“Sepertinya tidak, dia memiliki mental kita berdua.” Bianca tersenyum menggenggam erat tangan Skala yang berada di pinggangnya.
“Maaf tidak bisa menjaga anak kita dengan baik.”
“Ska!”
“Ini bukan salah ‘mu, akulah yang bersalah.”
“Tidak! Aku kepala rumah tangga, apapun yang terjadi pada keluarga kita, akulah yang patut disalahkan dan bertanggung jawab.” Skala melepaskan pelukannya, membalikkan tubuh Bianca agar menghadap ke arahnya.
“Jangan berkata seperti itu! kamu membuat ‘ku ingin menangis.” Bianca pukul dada Skala, dan benar saja air mata menetes dari pipinya meskipun bibirnya tersenyum.
“Jangan menangis! Kenapa kamu sangat lemah seperti ini. Ini bukan Bianca yang aku kenal, atau jangan-jangan kecebong ‘ku berhasil membuat ‘mu hamil lagi, testpack gih!” goda Skala.
“Ngaco! Aku tidak ingin hamil dulu kalau Rain belum berumur lima tahun.” Bianca menggelembungkan pipinya.
“Jangan sok Imut Ca! atau aku akan memakan ‘mu.”
__ADS_1
***
Di sisi lain, Nuna tersenyum bahagia, gadis yang baru saja masuk ke perguruan tinggi itu senang karena sang pujaan hati mengajaknya pergi jalan-jalan. Setelah hampir empat tahun memendam rasa, sepertinya Dewa mulai bisa membuka hatinya. Cowok yang sekarang berumur dua puluh lima tahun itu beberapa kali menunjukkan perhatiannya.
“Aku baru tahu kakak mendirikan sebuah Lembaga, apa yang kakak lakukan di sana?”
“Aku Direkturnya,” Jawab Dewa dengan senyuman menawan. “Aku melindungi alam.”
Alam aja dilindungi gimana aku kalau jadi istrinya.
Nuna tertawa sendiri karena pikirannya, Ia sudah berharap sebentar lagi hubungannya dengan anak Bu Dewan itu akan menuju jenjang yang lebih unyu. Namun, tanpa Nuna tahu Bu Dewan sudah merencanakan sesuatu dengan Pak Dewan.
“Dewa adalah Putra kita satu-satunya, dia harus mendapat istri dari keluarga baik-baik. Aku ingin anak itu terjun ke dunia politik, pemikiran-pemikiran cerdasnya itu harus tersalurkan di jalan yang benar.”
-
-
-
-
-
Like komen aja ya , kalau mau vote bantu Vote di Novel Pernikahan Simbiosis aja.
Lup you PRHH, Reader mesumable dan Mahahiya,
lama-lama ku bentuk PBB juga nih 😂😂
__ADS_1
PARTAI BALAHIYA BERSATU gih daftar jadi pengurus dan anggota wkwkkwkw kita usung Skala menjadi Presiden Halu di Republik NT 😂😂😂