
Di saat gunda gulana melanda jiwa Skala, pak Dewan dan yang lainnya mulai melakukan bisik-bisik tetangga lalu menetapkan suara,
"Bagaimana kalau Skala masuk Wolf geng? agar kita bisa menyaingi geng istri kita? meskipun kita jarang berkumpul tapi setidaknya kita bisa saling berbagi rasa seperti ini saat membutuhkan." Alis pak Dewan naik turun penuh arti.
Ketiga bapak-bapak itu sudah dapat melihat kegundahan hati Skala, jadi inilah waktu yang tepat untuk menambahkan pemilik PG Factory itu ke dalam daftar bapak-bapak ngenes yang sudah terdiri dari beberapa anggota sebelumnya.
"Iya, itung-itung antisipasi untuk mengobati rasa bosan di hari libur, kita bisa melakukan banyak kegiatan bersama. Menyenangkan bukan?" Pak Hamish mengompori dan dikuatkan oleh anggukkan kepala dari pak Rhoma. Padahal keduanya juga terkadang sibuk bekerja di lapangan bak bang Toyib tak pulang-pulang.
"Ayo kita pergi bersenang-senang bersama," ajak pak Dewan.
"Tapi saya takut Bianca marah, dia sudah janji hanya pergi sebentar dan akan segera pulang. Sepertinya saya tidak bisa," tolak Skala.
Para bapak-bapak itu tertawa. Membuat Skala semakin bingung menghadapi situasi saat ini. Apa yang salah dengan ucapannya? Kenapa mereka tertawa? Skala menggaruk rambut belakang kepalanya canggung. Sampai pak Hamish akhirnya membuka rahasia yang selama ini di derita oleh Wolf geng yang lebih pantas disebut Sheep geng karena isinya bapak-bapak ngenes.
"Istri suka molor kalau sudah janji. Bilangnya pulang jam dua belas siang, nanti sampai rumah jam lima sore. Alasannya mampir ke rumah teman lah, liat diskonan produk sembako murah lah, mendadak pengin shoping lah, pokoknya banyak macam-macamnya. Alasan seperti itu sudah biasa untuk kami yang sudah menikah lama," tutur pak Hamish.
"Tapi Bianca selalu tepat waktu," ucap Skala membela sang istri. Memang begitulah adanya. Bianca tidak separah para istri bapak-bapak anggota Wolf geng.
"Ya, mungkin Bianca belum terlalu terkontaminasi oleh ibu-ibu geng sultini blok kamboja, tapi lihat saja kalau sudah keracunan bisa berbahaya, yang ada Biancamu pasti akan jauh lebih parah." Pak Dawan semakin memanasi, mulutnya sudah setara oven pemanggang bersuhu dua ratus derajat celcius, bayangkan jika dia sedang berdebat di rapat komisi Dewan, lawannya pasti kebakaran.
Semuanya tertawa terbahak. Membuat Skala ingin sekali menutup telinganya sembari memasang wajah bingung.
"Ya sudah, kita mau jalan dulu. Waktunya nonton biduan cantik mbak Evi," ucap pak Hamish tidak sabaran. Ia lekas berjalan duluan ke arah mobilnya yang sudah terparkir di samping jalan. Membawa alat pancing dan umpan yang sudah dia siapkan tadi.
Bapak-bapak itu terlihat seperti rakyat jelata, tak menampakkan bahwa mereka adalah para sultan tajir, kecuali orang yang paham betul dan melihat merek mobil yang mereka pakai.
"Gimana Skala? Kamu mau ikut kami atau terpuruk menunggu istrimu yang tidak pasti?" goda pak Rhoma dengan wajah jenaka.
"Mbak Evi loh bintang tamunya, sambil mancing sekalian lihat paha Ka eF Ce berjalan," seru pak Dewan.
Skala masih terdiam, ternyata para suami ibu-ibu itu tak ada wibawa-wibawanya. Ia tidak tertarik dengan mbak Evi atau siapalah itu, tapi Skala cukup bosan menunggu Bianca yang belum pasti. Apalagi kata mereka, wanita suka molor waktu jika sudah berjanji, ia terpengaruh.
__ADS_1
Bimbang 'kan? Itulah yang Skala rasakan sekarang. Antara harus menunggu Bianca atau pergi bersenang-senang dengan bapak-bapak ngenes itu.
"Ya sudah, kalau tidak mau, selamat bersenang-senang, Skala. Tapi kalau mau ikut, mobil kami masih cukup untuk menampung kamu dan dua tuyul penjagamu itu." Pak Rhoma menunjuk dua bodyguard Skala sambil cekikikan.
Mereka bertiga mulai mengemasi perlengkapan memancingnya ke dalam bagasi. Meninggalkan Skala yang masih termenung dalam kebingungan.
"Bagaimana? Apa lebih baik aku ikut mancing saja daripada menunggu Bianca yang belum pasti?" Skala bertanya pada dua bodyguadnya.
"Lebih baik pulang saja, Tuan. Dari pada nyonya Bianca marah," ucap Dodi menasehati. Ia tahu betul seperti apa mengerikannya wanita yang sedang murka. Skala akan jadi anak kucing, dan Bianca berubah menjadi banteng betina yang siap menyeruduk lawannya.
"Baiklah aku pulang saja, tapi kalau Bianca tidak pulang-pulang, persiapkanlan tubuh kalian berdua yang akan kujadikan samsak sampai puas," ancam Skala.
Simon langsung menyenggol lengan Dodi kesal. Melotot sebal karena mulut Dodi tidak bisa mengerti keadaan tuannya yang sedang galau.
"Jika tuan ingin memancing, tidak masalah menurut saya. Toh Tuan tidak pernah pergi-pergi seperti ini. Nyonya Bianca pasti akan mengerti keadaan."
"Baiklah!" Skala langsung menyusul tiga bapak yang hendak berangkat ke area pemancingan.
Para bapak itu bersorak gembira menyambut Skala. Akhirnya, ada satu lagi anggota geng yang akan meramaikan group chat yang telah mereka bentuk satu tahun lalu.
"Mulai sekarang, Skala sudah resmi menjadi anggota Wolf geng kita," seru pak Rhoma mengumumkan.
Skala mulai lupa akan kecemburuannya pada Bianca. Ia merasa senang mendapat hiburan baru yang berhasil mengobati kegundaan hati kecilnya. Kian lama, ia mulai bisa menerima otak gesrek para bapak-bapak blok Kamboja. ia bergabung dengan senang hati.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil untuk on the way ke acara dangdut uye-uye yang diembel-emebeli festival lomba memancing.
__ADS_1
...LIKE...
...KOMEN yang banyak...
...VOTE...
...ADD FAVORITE...
...🥰...
__ADS_1
...aku masih crazy up guys, doa kan lancar...