Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Welcome! Rain


__ADS_3

"Jangan pegang-pegang!" Bianca yang tengah berbaring di atas ranjang dengan selang infus di tangan menolak dipegang suaminya.


Skala pun hanya bisa menjauh dan duduk, melihat istrinya meringis dan sesekali merintih tanpa bisa melakukan apa-apa. Tapi beberapa menit kemudian ...


"Ska kamu kok ga pengertian banget, kamu kan bisa bantuin pijat punggung aku atau ngelus perut aku. Jangan cuma bisa nanam kecebong terus bikin aku hamidun, kamu ga ngerasain sakitnya sih, bahkan saat kamu gituin aku, juga cuma aku yang ngerasain sakit!"


Lha kan kamu sendiri yang minta aku jangan pegang-pegang tadi. "Maaf ya sayang!"


Hanya kata maaf yang keluar dari bibir Skala. Ia pun melakukan apa yang Bianca minta dengan penuh perasaan. Dokter Novita bilang pembukaan jalan lahir sang istri masih di angka lima.


Bianca memilih duduk bersandar pada kepala ranjang, sesekali matanya memejam sambil mulutnya menghembuskan napas pelan. Skala yang setia menemani di sampingnya hanya bisa menggenggam erat tangan Bianca, sesekali mengusap lembut little peanut yang sudah bisa dipastikan dokter Novita akan lahir beberapa jam lagi.


Melihat sang suami, Bianca tiba-tiba sadar bahwa Ia tadi tanpa sengaja melakukan tindak penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan. Diusapnya rambut Skala saat laki-laki itu menunduk menciumi perutnya.


"Ska maafin aku ya! Aku tadi ngebentak kamu."


"Hem ... gapapa Ca!"


"Maaf juga aku tadi .... Euughhhh." Bianca baru ingin meminta maaf soal dirinya yang mencubit, mencakar bahkan menggigit tubuh Skala, sebelum kontraksi kembali datang dan Ia malah menjambak rambut suaminya sampai laki-laki itu memegangi tangannya yang masih bertengger di atas kepalanya.


"Ampun …. Ca ampun, aku bisa-bisa botak tak alami kalau begini!" Skala menjerit membuat perawat sampai masuk ke dalam.


"Sus sakit!" Akhirnya Bianca mengakui apa yang dirasakannya.


Perawat pun memintanya berbaring untuk bisa mengecek pembukaan jalan lahir. Bibir perawat itu tersenyum dan berkata akan segera memberi tahu dokter Novita bahwa pembukaan Bianca sudah lengkap.


Mengejan untuk melahirkan bayinya adalah fase terpenting yang harus dilalui, setelah kontraksi yang hampir delapan belas jam Bianca alami, Ia sudah berbaring di atas ranjang partus dengan Skala yang masih setia menemaninya.


Dokter Novita tersenyum, menanyakan apakah Bianca baik-baik saja. Skala yang mendengar pertanyaan dokter itu langsung melongo, bagaimana bisa baik-baik saja? jika sang istri sedang berjuang antara hidup dan mati. Hampir saja Skala marah, beruntung Bianca menjawab pertanyaan dokternya dengan senyuman dan kalimat yang menenangkan hati.


"Baik Dok, saya berharap jangan sampai ada episiotomi ya Dok, selama hamil saya sering melakukan pijat perineum kok!" ucap Bianca.


Skala menatap Bianca, Ia sama sekali tak mengerti istilah yang baru saja diucapkan istrinya ke dokter Novita.


"Apa itu Parinium?" Skala menatap Dokter Novita, menunggu penjelasan.


"Perineum bapak, sebutan untuk otot yang letaknya di antara vagiina dan Annus." Terang Dokter Novita.


"Lalu yang soto-soto tadi apa?"


"Episiotomi maksud bapak? Itu tindakan menggunting vaginaa agar mempercepat proses kelahiran."


"MENGGUNTING?"

__ADS_1


Skala berteriak. Sontak Bianca, dokter Novita, satu Bidan serta seorang perawat disana sampai kaget mendengar suara lantangnya.


"Menggunting mulut piranhaku maksud dokter?" tanya Skala emosi.


Bianca menepuk jidatnya, sementara tiga wanita yang berada di ruang persalinan itu nampak saling pandang.


"Piranha?" Dokter Novita menatap Bianca kebingungan. Wanita itu mengangguk, mulutnya membentuk huruf O saat Bianca mengucapkan organ itu dengan menatap ke arah miliknya tanpa bersuara.


"Oh jadi kecebong masuk ke mulut piranha dan menghasilkan little peanut, begitu?" canda dokter Novita.


Bianca pun mengangguk, sementara Skala terlihat tidak suka menyadari bahwa dalam proses persalinan istrinya nanti ada acara gunting menggunting daerah kekuasaannya.


Ucapan dokter Novita juga sukses membuat Bidan dan perawat kebingungan, mereka penasaran ingin memecahkan teka-teki serta membuat korelasi antara kecebong, mulut piranha dan kacang.


"Emm.... argghhhh, Dok apa saja sudah boleh mengejan?" Bianca meremas ranjang saat rasa sakit datang, serasa ada yang mendesak perutnya.


"Boleh, ingat saat kontraksi datang mengejan, saat hilang kamu atur napas," ucap dokter Novita memberi arahan.


"Emmm..... Arghhhhh huum."


Bianca mengikuti apa saran dokter Novita. Ia tengah mengatur kembali napasnya saat menoleh dan melihat Skala merebahkan kepalanya di samping bantalnya.


"Ska, Ska..la! kamu kenapa?" Bianca malah cemas melihat sang suami.


"Pak, bapak ga pingsan kan pak?" tanya dokter Novita.


"Skala lihat aku! Ska!" Bianca yang sadar suaminya tengah menangis menggoyangkan lengan laki-laki itu.


"Ca ... "


"Cium aku!" Permintaan Bianca membuat, semua orang terperanga.


Skala pun melakukan apa yang Bianca minta, diusapnya rambut sang istri, diciuminya kening Bianca bertubi-tubi.


"Bukan di situ Ska!"


Bianca menarik tengkuk sang suami, melumaat bibir Skala di depan orang-orang yang membantu persalinannya. Ia langsung menjauhkan kepala sang suami dan beralih meremas lengan Skala saat kontraksi kembali datang. Bianca begitu kepayahan.


Dokter Novita yang baru saja melihat adegan ciuman itu hanya bisa terpana, sampai Bidan yang menemaninya memberi tahu bahwa kepala bayi sudah terlihat keluar.


"Oke! sekarang atur napas lagi, tarik napas panjang, go..."


Beberapa saat kemudian, perintah terakhir dokter Novita tadi disambut dengan tangisan keras bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Dokter langsung menelungkupkan bayi itu ke atas dada Bianca yang sudah dibuka lebar oleh perawat.

__ADS_1


"Hei... sayang." Bianca mendekap erat bayinya yang diselimuti sambil dibersihkan oleh perawat, matanya lantas beralih ke Skala yang juga tengah memperhatikan bayi mungil buah kerja keras pabrik kecebongnya.


"Anak kita Ca!" Dikecupinya kening Bianca, Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali ke sang istri. "Officially kamu jadi mama, selamat ya!"


Bianca tersenyum, rasa sakitnya pun lenyap seketika, apalagi ia berhasil melahirkan tanpa butuh episiotomi sesuai harapannya.


"Halo Papa," ucap Bianca sambil menggerakkan tangan mungil bayinya.


"Halo Rain," Jawab Skala.


"Sudah dikasih nama ya?" Dokter Novita tiba-tiba saja kepo mendengar panggilan Skala ke sang bayi.


Skala pun tersenyum sambil terus memandangi bayi merah yang mengerjap-ngerjapkan matanya di atas dada Bianca," Sudah donk Dok, sejak tahu dia punya monas, kami sudah menyiapkan sebuah nama untuknya.


"Aksara Rain Prawira."



_


_


_


_


_


_


_


_


_


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE di NicNa dulu ya...


Rain : onty uncle, mana kadonya?

__ADS_1


Otor : Rain, kamu anak Sultan jangan matre!


Rain : Eh mpok Otor, gapapa orang mama sama sepupu aku juga matre


__ADS_2