
“Papa!”
Bianca menjerit dan seketika menangis terisak, sebilah pisau menancap di bagian perut Nataniel. Tidak ada satu orang pun yang berani menariknya. Setelah menusukkan pisau itu ke papanya, Billy memilih langsung kabur dari rumah.
“Skala lebih cepat lagi!” perintah Bianca sambil terus menangis, meskipun ia tidak pernah mendapat kasih sayang dari sang papa, sebagai seorang anak ia tetap merasa ketakutan melihat pria itu bersimbah darah. Ia takut jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada Nataniel.
“Papa!” panggil Bianca berkali-kali sambil terus mengusap pipi Nataniel.
Mereka membawa Nataniel ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil Skala, karena melihat kondisi papanya yang tak berdaya, Bianca tidak mau menunggu sampai ambulance datang ke rumah.
“Tolong! Luka tusuk,” ucap Skala saat beberapa perawat datang menyambutnya di depan pintu UGD.
Dengan sigap para perawat itu memindahkan tubuh Nataniel ke atas brankar dan mendorongnya masuk ke dalam. Memeluk istrinya erat, Skala tahu bahwa Bianca benar-benar ketakutan.
“Papa akan baik-baik saja kan Ska?” tanyanya di dalam dekapan laki-laki itu.
“Beliau pasti baik-baik saja, jangan takut!”
Satu menit, dua menit yang Bisa Bianca dan Skala lakukan sekarang hanyalah menunggu, mereka berharap tusukan pisau itu tidak sampai mengenai organ vital di tubuh Nataniel. Sampai selang setengah jam, Dokter keluar untuk memberi tahu bahwa tusukan itu mengenai organ pencernaan pasien, tindakan operasi pun harus dilakukan sesegera mungkin.
“Pasien kehilangan banyak darah, sayangnya persediaan darah di rumah sakit kami terbatas, kami juga sedang menghubungi PMI untuk menanyakan ketersediaan darah di sana, sambil menunggu kabar apakah diantara anda berdua ada yang bergolongan darah B plus?”
“Saya -, ambil darah saya! saya puterinya,” ucap Bianca antusias.
“Silahkan ikut saya!”
Seorang Perawat yang berdiri di belakang Dokter mempersilahkan Bianca menuju ke sebuah ruangan untuk melakukan pemeriksaan apakah dirinya bisa menjadi pendonor darah.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, sayang Perawat harus menyampaikan kabar yang membuat Bianca kecewa.
“Hemoglobin anda rendah, kami tidak bisa mengambil darah anda karena anda beresiko terkena anemia.”
Memijat keningnya, Bianca kembali meneteskan air mata sambil keluar dari ruangan itu. Skala yang melihatnya berjalan lunglai langsung mendekat dan memeluk belahan jiwanya itu.
__ADS_1
“Mereka tidak bisa mengambil darahku Ska.” Isak tangis Bianca kembali pecah.
Beruntung saat keduanya benar-benat putus asa, perawat mengabari adanya ketersediaan darah di PMI meskipun hanya dua kantung. Bianca lega, apalagi saat melihat kedatangan Tama. Laki-laki itu berlari menghampiri dirinya dan Skala.
“Aku menelpon Tama memintanya datang, bukankah dia anak papa? Siapa tahu dia bisa memberikan darahnya.”
"Terima kasih Ska," ucap Bianca sambil melepaskan genggaman tangan suaminya.
Ibunda Rain itu menghambur memeluk Tama, laki-laki yang mungkin akan menjadi satu-satunya keluarga kandung yang bisa menjadi tumpuannya. Melihat hal itu, Skala tersadar bahwa ada satu kekosongan di hati istrinya, yang dirinya sebagai suami pun tidak bisa memenuhinya. Kasih sayang dari keluarga kandung.
"Tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja!" ucap Tama menenangkan.
***
"Apa yang akan kalian lakukan sekarang?"
Duduk bersebelahan di depan ruang perawatan Nataniel, Skala dan Tama tidak tidur semalaman. Tindakan operasi laki-laki itu langsung dilakukan setelah semua siap. Satu kantung darah Tama berikan untuk ayah biologisnya itu.
"Sepertinya diam-diam dia mencintai papanya, iya kan?"
Mendengar pertanyaan Tama, Skala dengan sengaja menunjuk bekas jarum yang tertutup kasa di tangan suami Felisya itu.
"Kamu juga diam-diam peduli, kamu dengan mudahnya memberikan darahmu ke papa," ucap Skala sedikit mencibir.
Tama hanya merespon dengan sebuah senyuman sambil mengusap perban di pergelangan sikunya. "Anggap saja aku melakukannya untuk Bianca."
"Cih ... jika kamu bukan kakaknya, aku pasti sudah cemburu saat kamu memeluknya tadi."
"Kamu begitu mencintainya, iya kan?" Menepuk pundak Skala, Tama menggelengkan kepalanya pelan. "Aku cukup lega adik 'ku mendapat suami yang tepat, meskipun bentuknya seperti dirimu."
"Hei ... Tamia!" Suara Skala meninggi mendengar Tama mengucapkan kalimat itu sambil memandang dirinya hina.
"Iya Seketek adik iparku sayang."
__ADS_1
Kata sayang dalam rangkaian kalimat Tama membuat bulu kuduk Skala seketika meremang, Papa Rain itu melonjak lalu berdiri menjauh dari mantan kakak sepupunya itu.
"Najis! Awas loe berani manggil gue sayang lagi." ancam Skala.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...Sorry ye kalau kayak sinetron, ya namanya juga penulis amatir, imajinasinya ga setinggi penulis pro....
...Akhirnya konflik end ya, bentar lagi juga end ini cerita....
...Terima kasih yang udah mau Baca cerita aku yang cuma remahan citata ini....
...Love ❤...
__ADS_1