
Sarapan pagi di kediaman Prawira bak pesta pemakaman, sunyi senyap tak ada suara. Hanya sekali suara Bianca terdengar untuk memuji masakan koki di rumah sang kakek.
Felisya dan Tama sesekali menatap tajam Skala yang memasang muka biasa saja, padahal dia telah melakukan sebuah dosa besar. Menggagalkan kegiatan tamasya mantan kekasihnya.
“Apa sih?” Skala akhirnya berbicara karena merasa salah tingkah sedari tadi diplototi Tama.
“Iya maaf, maaf! Aku salah!” ucap suami Bianca itu berkali-kali.
“Tidak semudah itu Seketek, kamu harus membayarnya,” ucap Tama sambil menautkan jemarinya di atas meja untuk ia pakai menyangga dagunya, diliriknya Felisya yang duduk di sebelahnya.
“Jaga Lintang seharian ini, aku ingin berkencan dengan Feli.” Tama tersenyum iblis, sementara Skala yang menoleh ke Bianca mendapatkan sebuah cubitan di pipi dari istrinya.
“Semalam kamu kan janji akan membiarkan aku ke salon setelah menurutimu, Jadi jaga dua bayi itu sendirian.”
Skala memasang muka memelas, menatap ke arah sang kakek yang malah sibuk bermain ponselnya.
“Apa lihat-lihat?” hardik Prawira ke sang cucu kesayangan.
Seketika Skala merasa nelangsa, ia tidak bisa membayangkan ditinggal sendirian dengan dua bayi meskipun jelas akan ada pembantu yang ikut menjaga.
***
“Uncle Brian … Uncle Brian.” Nuna masuk ke dalam kamar Brian dengan tergesa, Ia menarik lengan sang paman yang seminggu yang lalu baru pulang dari Singapura.
“Ada apa?” tanya Brian tanpa menoleh ke sang keponakan. Nuna terus menarik tangan Brian yang sibuk dengan sketsanya, mau tak mau adik Billy itu mengikuti langkah sang keponakan.
Brian terlihat kesal saat sang keponakan ternyata mengajaknya ke halaman belakang dimana gudang di kediaman sang papa tengah dirobohkan. Semua orang sedang pergi, hanya mandor lah yang mengawasi di sana.
Nataniel dan Salma tengah mengunjungi sebuah acara kolega mereka, sementara Diana dan Billy pergi ke luar kota untuk urusan keluarga selama tiga hari, meninggalkan Nuna yang tengah sibuk untuk mendaftar ke sebuah sekolah menengah atas.
“Mau dibawa kemana Non?” tanya seorang kuli yang membawa sebuah brangkas yang ditemukan dari balik tembok yang dirobohkan.
__ADS_1
“Letakkan saja di sini!” titah Nuna bak seorang bos.
Kuli itupun menuruti yang Nuna perintahkan, setelah meletakkan brangkas itu ia pun kembali bekerja seperti rekannya yang lain. Brian seketika berjongkok, ia kebingungan dengan benda berwarna krem berbentuk balok yang terbuat dari besi itu.
“Apa ini Nuna?”
“Sepertinya isinya harta uncle,” ucap Nuna antusias. “Jika benar isinya uang atau emas batangan kita bagi dua ya uncle,” imbuhnya.
“Punya Papa.”
“Ah … tidak mungkin, aku tahu opa punya brangkas sendiri di kamarnya.” Nuna keceplosan, tapi ia bersikap biasa saja, meskipun matanya terlihat sudah melotot karena kebocoran mulutnya sendiri. Beruntung Brian yang memang spesial tidak memperdulikan celotehan keponakannya itu.
“Ayo dibuka!” perintah Brian.
Nuna ikut berjongkok, ia mulai membuka knop penutup tombol angka yang menempel pada benda itu, gadis itu kebingungan menentukan berapa jumlah kombinasi angka agar membuat brangkas itu terbuka. Kesal, Brian juga ingin ikut membukanya seperti Nuna.
“Minggir!”
Nuna pun sampai terjengkang karena didorong oleh sang paman, bibirnya mengerucut kesal. Gadis itu berpikir bahwa Brian pasti akan meminta jatah harta karun yang dia temukan.
“Satu dua tiga empat.” Nuna kembali ke posisinya, tapi sayang setelah ia tekan kombinasi angka, hanya bunyi nyaringlah yang terdengar dari brangkas itu. Tandanya angka kombinasi yang dia masukan salah.
Hampir satu jam, dan sudah berkali-kali duo paman dan keponakan itu mencoba, untung saja brangkas tidak seperti pin ATM yang akan terblokir jika salah memasukkan kombinasi angka sebanyak tiga kali.
“Enam sembilan enam sembilan.” Brian berteriak dan mulai menekan tombol satu persatu.
Para kuli bangunan dan mandor pun sampai terkejut karena Brian mengucapkan angka yang cukup mesum dikalangan pecinta film biru itu. Mereka tidak tahu yang memberi tahu Brian adalah sang adik yang mesumnya sudah tidak perlu diragukan lagi.
Pakai kode yang mudah diingat enam sembilan enam sembilan. Ucapan Bianca terngiang di telinga Brian.
Mesum. Sambung Diana yang saat itu tanpa sengaja mendengar ucapan adik iparnya.
__ADS_1
Benar saja tiba-tiba saja brangkas itu berkedip sekali dan terbuka. Brian mengambil apa yang ada di dalamnya, bukan emas batangan atau uang yang dia temukan melainkan dua buah buku yang baginya sudah sangat usang.
Bibir Brian mencebik kesal, ia berikan buku itu ke pelukan Nuna setengah emosi.
“Jangan ganggu aku lagi!” ucap Brian yang langsung berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Perlahan Nuna membuka buku itu, membalik halaman demi halaman, matanya membelalak lebar. Ia menemukan rahasia yang selama ini dipendam sang mama, tangan Nuna gemetar. Ia pun berlari menuju kamarnya.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...LIKE...
...KOMEN...
__ADS_1
...VOTE kalau kalian ada tiket aja, Suketi ga minta HADIAH karena tidak ada hadiah yang paling berharga buat Suketi selain komen like dan dukungan kalian...
...TA.. RA.. RENGKYUUU thank you 🥰...