
"Tam, kamu belum makan, apa mau aku buatkan sesuatu?"
Felisya menatap sang suami yang tengah termenung duduk di sofa membaca sebuah kertas yang diberikan pengacara Viona. Tama buru-buru melipat kertas itu lalu menyimpannya. Tama pun menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Felisya, meminta sang istri untuk mendekat agar ia bisa memeluknya.
"Aku cuma mau peluk," lirih Tama, di lingkarkan lengannya ke pinggang Felisya, bibirnya mulai menciumi perut gadis itu.
"Peluk ga bisa bikin kenyang tau!"
Tama pun tertawa, pria itu menggelengkan kepala saat Felisya bertanya apa yang dikatakan pengacara Viona saat menemuinya tadi.
"Tidak ada, oh ya apa semua pelayan sudah bermigrasi ke rumah Skala?" tanya Tama mengingat hari itu adalah jadwal Prawira menginap di rumah cucu kesayangannya.
Felisya tertawa lalu menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan suaminya, ia mengusap rambut Tama. Ia tahu laki-laki itu tengah menyembunyikan sesuatu.
"Ayah makan dulu ya!" bujuknya lagi.
***
Beberapa anggota geng sultini blok kamboja yang tengah mengobrol cantik di depan rumah bu Dewan terlihat heran. Bu Erin bahkan menggelengkan kepalanya melihat perpindahan pelayan-pelayan Prawira yang dilakukan setiap dua hari sekali itu.
"Mereka menjerit di dalam hati ga ya menurut kalian?" tanya Bu Dewan.
"Kenapa menjerit? orang gaji mereka gede, melebihi gaji pembantu artis Rapi Asmat," jawab Bu Erin.
"Iya kah?" Bu Eli tak percaya dengan ucapan saudara kembarnya, ia lantas menatap ponselnya dan mencari kebenaran ucapan Bu Erin di Gulugulu.
Tanpa mereka sadari, Barbie sedang menguping pembicaraan. Mendengar ucapan Bu Erin soal gaji pembantu Prawira, Ia mulai berpikir untuk menjalankan aksi demo minta kenaikan gaji jilid dua.
"Eh ... sepertinya Skala tidak mengadu ke suami-suami kita kan soal razia? si Dewan masih bersikap biasa aja tuh," Bu Dewan menatap satu per satu anggota gengnya.
"Iya, Rhoma juga tidak bertanya apa-apa," sambung bu Erin.
"Syukurlah mulut Skala ternyata tidak ember."
Barbie yang masih mencuri dengar terlihat membelalakkan matanya lebar-lebar. "Razia?" lumayan lah senjata—pikirnya.
***
Nuna memandang sang mama yang tengah membaca majalah di sofa ruang keluarga. Bocah itu tangah memikirkan dua hal, kenapa Skala tidak memilih sang Mama yang Ia sodorkan sebagai calon istri Prawira dan kenapa sang tante tidak bertanya akan hal itu.
"Apa om Skala tidak cerita? masa om Ska ga sadar itu mama," gumamnya.
Nuna memang secara sengaja memberi kode kepada Skala, setidaknya gadis itu ingin memberi tahu orang lain bahwa hubungan Mama dan Papanya tidak sedang baik-baik saja. Ia tidak ingin sang Mama tersiksa terlalu lama. Diana memang memilih diam dan tidak mau bercerita perihal keretakan rumah tangganya kepada orang lain.
"Kenapa kamu liat Mama sampai seperti itu? apa ada yang salah dari penampilan Mama?" tanya Diana.
"Tidak ada, aku hanya takjub karena mama begitu cantik sepertu puteri dari kerajaan Inggris," celoteh Nuna sambil mengetikkan pesan balasan untuk seseorang di seberang sana.
Diana pun hanya tersenyum miring, ia tahu bahwa anaknya memang suka becanda, entah dari siapa sifat Nuna itu menurun, yang pasti dia ingin puteri semata wayangnya itu hidup bahagia dan tidak mengalami nasib seperti dirinya. Meskipun pada awalnya dia dan sang suami saling mencintai. Namun, siapa sangka di pertengahan jalan hati manusia pun bisa berpaling.
"Apa Mama dan Papa masih saling mencintai sampai sekarang?"
Pertanyaan Nuna membuat Diana menghentikan aktivitasnya membaca majalah, ditatapnya wajah sang anak dengan mimik keheranan. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelimuti hati wanita itu.
Apakah mungkin Nuna tahu?
__ADS_1
Nuna pun langsung berdiri lalu meminta sang mama melupakan pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulutnya. Melihat sang mama kebingungan membuat hati gadis itu merasa sedikit nyeri.
"Mau kemana?" tanya Diana yang Melihat sang anak melingkarkan tas ke pundak.
"Bisnis."
Nuna meraih punggung tangan Diana, mencium pipi kanan dan kiri wanita itu bergantian, masih dengan senyum cerianya Ia bersenandung keluar rumah.
***
Prawira melirik ponselnya, lantas memasukkannya ke dalam saku celana. Ia terpakasa menerima kencan buta yang disiapkan oleh cucunya. Pria tua itu tengah kesal, Ia malas berbincang dengan wanita yang dipilihkan oleh Skala dan Tama berdasarkan rekomendasi Madam Zi.
Pendiri PG Group itu merasa wanita politikus yang tengah duduk satu meja dengannya sekarang bukanlah tipe idealnya.
Meskipun demikian, ia masih terus mencoba tersenyum mendengar Irene bercerita. Prawira berpikir apakah ini yang dirasakan oleh Skala saat dirinya menjodohkan suami Bianca itu dengan gadis-gadis pilihannya dulu, apa ini karma?
Buyut Little Peanut itu mulai bosan karena Irene terus membicarakan masalah karir dan politik. Wanita yang sudah menjadi politikus sejak berumur dua puluh tahunan itu berkata belum menikah sampai di usianya ini karena terlalu fokus memikirkan pencapaian.
"Saya memang berkata kepada Madam Zi, bahwa kriteria laki-laki yang saya inginkan tidak perlu tampan ataupun muda yang penting mapan, tapi saya masih tidak menyangka bahwa pilihan Madam pria setua anda." Wanita itu terkekeh.
Apa maksudnya? apa dia mengataiku tua bangka?
Prawira yang humoris tiba-tiba saja bersikap pasif, mungkin karena dia tidak menyukai sosok wanita yang tengah kencan buta dengannya ini. Ia pun berharap bantuannya segera datang.
"Oppa Prawira sayang!"
Suara cempreng nan ceria itu terdengar berteriak memanggil namanya, Nuna berlari mendekat ke meja di mana Irene dan Prawira tengah bertatap muka. Radit yang sedari tadi berdiri di dekat Tuannya pun nampak heran mendapati gadis biang gara-gara itu datang. Padahal tanpa sepengetahuan Radit Prawira lah yang meminta Nuna ke sana.
Bergelayut manja, tugas Nuna adalah membuat Irene tak nyaman dan meniggalkan kencan buta itu segera.
Biarlah! dapat bayaran ini, lagipula aku tidak megaransi semua kencan dan perjodohan yang aku lakukan berjalan lancar.
"Oppa, ngapain di sini, aku kangen!" Nuna menggoyang-goyangkan bagian atas tubuhnya sambil mengehentak-hentakkan kaki.
Melihat tingkah Nuna, Prawira benar-benar ingin tertawa, sesekali diliriknya Irene yang mulai kebingungan.
"Maaf ya Nak, kamu siapa?" tanya Irene dengan mimik wajah kesal.
"Oppa, siapa dia? apa oppa sedang selingkuh dariku dengan nenek-nenek ini sekarang?"
Maafkan aku Bu Irene, syukurlah aku tidak pernah menampakkan sosok sebenarnya
Pertanyaan Nuna membuat Radit hampir saja terbahak, sekretaris Prawira itu langsung mencubit lengannya sendiri agar tidak jadi tertawa.
"Selingkuh?" Politikus wanita itu terlihat kebingungan. "Tuan Prawira, siapa bocah ini? beraninya memanggil aku nenek-nenek."
Sebuah pertanyaan Irene lempar ke pria teman kencan butanya itu. Padahal Ia sudah berharap menikah dengan sultan tajir itu dan berharap mendapatkan glontoran dana kampanye mendatang.
"Dia — "
"Oppa Prawira sugar Grandpa aku, kenapa?" Mata Nuna melotot seolah menantang Irene.
Prawira dan Irene pun melongo, sementara Radit memilih berlari kencang keluar restoran, laki-laki itu berhenti di depan mobil sang tuan di parkiran, meledakkan tawanya di sana sambil memukuli kap mobil Prawira.
"Astaga! baru kali ini aku mendengar istilah sugar grandpa!" Radit cekikikan, tak peduli dengan pandangan orang yang melihat tingkah anehnya.
__ADS_1
"Astaga bocah itu benar-benar sesuatu." Radit mengelap matanya yang basah karena tawanya.
Tak berselang lama, Irene keluar dengan mulut yang tertekuk ke kanan dan ke kiri. Jelas wanita itu tengah mengomel—kesal.
"Bocah sekecil itu sudah menjadi sugar baby? sama kakek-kakek pula? hah...., mengerikan!" gerutu Irene.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Otor : Nih ku kasih tambahan kosa kata guys
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE yang banyak...
...ADD FAVORITE...
__ADS_1
...RATE BINTANG 5...