Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Berbaikan


__ADS_3

"Awkkh!"


Skala memekik kesakitan saat Bianca menjewer telinganya keras-keras. Ia pikir belahan jiwanya itu sudah luluh ternyata tak segampang itu ferguso. Anggota baru Wolf geng itu memutar otaknya, berniat akan terus bergelayut manja di pangkuan sang istri meskipun akan dibunuh sekali pun. Ini adalah trik jitu ala pawang Seketek dalam menaklukan banteng betinanya.


"Maafkan aku ya, Ca. Habisnya aku bosan menunggumu pulang ke rumah. Berhubung ada yang mengajak pergi, jadi kuterima saja tawaran menggiurkan dari bapak-bapak komplek, aku sekarang menjadi member geng mereka lho," ujar Skala menjelaskan.


Bianca menatap tajam, "menggiurkan?maksud kamu biduan yang ada di sana ya kan? puas kamu? ha?"


Ia tidak boleh dikalahkan oleh kelembutan hati dan rasa cintanya ke Skala. Bagaimanapun juga suaminya itu telah melakukan kesalahan besar. Setidaknya Bianca harus memarahinya sedikit meskipun little peanut di dalam kandungannya seolah tak rela sang papa kena marah. Bianca merasakan perutnya tak enak lagi.


"Ya ampun, Cacamarica. Hei ... hei ...! Suamimu itu pergi memancing, bukan datang untuk melihat biduan. Siapa pula yang peduli? Lihat saja! bahkan aku sudah membawakan ikan bakar hasil pancinganku untuk kamu dan Little peanut kita," ujar Skala melakukan pembelaan.


Bianca menatap Skala kesal. Ia masih belum puas memarahi suaminya itu, namun Litlle Peanut yang bersarang di rahimnya seolah terus melarang Bianca menggalaki papanya.


Sesayang itukah kamu pada papamu?


Tanpa sadar tangannya mengelus kepala Skala lembut, hingga pria itu mendongak dengan raut kebingungan.


"Kamu sudah tidak marah?" Mata Skala memandangi sang istri jeli. Mencari aura kemarahan yang mulai pudar dari wajah ayu Bianca.


"Kamu kenapa? Tumben banget gak seperti biasanya. Padahal aku sudah pasang badan, memikirkan ide sebelum kamu mengamuk lagi," ujar Skala.


Pria itu memutarkan kepala hingga dapat melihat wajah Bianca lebih jelas. Memperhatikan wajah sang istri yang nampak kebigungan.


"Kamu ada masalah apa, sih?" tanya Skala saat Bianca tak kunjung bicara ataupun marah padanya. Sikap Bianca yang seperti ini malah membuat pria itu tidak enak hati. Bingung harus melakukan apa.


"Ti-tidak tahu." Bianca memegangi perutnya yang terasa aneh.


"Perut kamu sakit? Hari ini Little Peanut kita nakal gak?" Kini pandangan Skala teralihkan pada perut yang sedang Bianca pegangi.


"Tidak sakit. Hanya sempat kram sebentar saat aku pulang dan kamu tidak ada di rumah, juga barusan saat aku memarahimu," jawab Bianca apa adanya.


"Benarkah?" Skala langsung bangkit dari posisi manja-manja, lalu ikut mengelus perut yang dipegangi Bianca sedari tadi.


"Maaf ya Ca, maafin aku!" Skala merasa sangat bersalah, dibelainya pipi sang istri lembut.


Hilang sudah marah dan khawatir yang sempat menggerogoti hati Bianca.Tiba-tiba rasa sayangnya bertambah puluhan kali lipat. Ketimbang marah, Bianca lebih ingin melunasi kebersamaan mereka yang tertunda hari itu, Ia ingin bermanja-manjaan sampai mereka dibuai mimpi.

__ADS_1


"Hei, kamu kenapa sih? Lebih baik aku dimarahi sepuasnya olehmu daripada melihat tingkah kamu yang aneh begitu," urai Skala yang masih terheran-heran.


"Ska!" Bianca menghamburkan tubuhnya kepelukkan sang suami. Menaruh kepalanya dalam-dalam di dada bidang tambatan hatinya.


"Dari tadi aku nyariin kamu sampai pusing. Nanyain kamu kesana-sini, sampai akhirnya aku tahu dari grup chat gengku kalau kamu sedang mancing bersama para suami mereka, aku takut kamu kenapa-napa, aku takut kamu terluka lagi," oceh Bianca.


"Tadinya aku mau nyusulin kamu, tapi perutku tiba-tiba tidak enak. Jadi aku putuskan untuk menunggu kamu di rumah." Bianca semakin memeluk Skala erat. Rasa takut kehilangan dan rindu bercampur jadi satu.


"Tau tidak? Tadinya kau mau marahin kamu, mau hukum kamu, tapi Little Peanut kita seolah melarang aku untuk melakukan hal itu. Dia membela kamu," ujar Bianca lagi.


"Dia gak mau jauh dari kamu, Ska! Meskipun kamu pergi, setidaknya kamu harus kabarin aku, supaya aku bisa lebih tenang."


Gadis itu mulai terisak-isak. Entah mengapa Bianca sangat cengeng. Tidak seperti dirinya yang selalu garang, ia jauh lebih sensifit hari ini.


"Maafin aku ya!" Skala mengangkat dagu sang istri dengan jari telunjuk, lantas mengecupi kelopak mata Bianca yang basah dengan air mata.


"Aku salah, aku janji tidak akan meninggalkanmu lama-lama tanpa kabar seperti tadi," ucap Skala menyesali perbuatannya.


Bianca yang sudah tidak tahan melihat wajah sendu pria itu langsung menarik kepala Skala hingga bibir mereka menyatu, gadis itu melumaat daging tak bertulang suaminya lembut, ciuman penuh kehangatan dan kerinduan.


"Aku sudah tidak marah, rasa cintaku dan rasa khawatirku lebih besar dari rasa marah yang tidak seberapa ke kamu," sanjung Bianca dengan mata penuh binar.


"Aku belum mandi, mandi bareng yuk?" goda Skala.


"Bener ya cuma mandi?"


"Main dikit lah kek tadi pagi, ya!" bujuk Skala.


"Lama juga gapapa," Jawab Bianca dengan senyum manisnya.


Pada akhirnya keduanya mempertemukan dua mahkluk Amazon mereka kembali seperti pagi tadi di dalam bath tub kamar mandi yang penuh dengan air, sama persis dengan habitat asli si Anaconda dan piranha. Bianca menguasai Skala sepenuhnya, membuat laki-laki itu mendesau sambil sesekali menikmati bukit yang memberinya asupan Gizi.




__ADS_1















Otor : Sorry ku panjangin marahannya, semoga kalian mau ngerti karena aku ngejar up up up, besok udah beda cerita


Reader Master Mesumable : hem... paragraf terakhir tidak Mencerminkan lulusan UH AH tor


Otor : Sabar, tunggu aja kubuat kau klojotan nanti


...LIKE...


...KOMEN yang banyak...


...VOTE...

__ADS_1


...ADD FAVORITE...


...makacih 🥰...


__ADS_2