
...Warning ⚠⚠⚠...
...18++...
...Bukan bacaan Bocil...
...please go back yang di bawah umur...
“Tetap disini! Jangan pakai baju,” titah Bianca ke Skala.
Bumil satu itu lantas berjalan cepat menuju ke ruang ganti, matanya menyapu deretan baju kekurangan bahan koleksinya sesaat setelah ia membuka lemarinya lebar-lebar. Entah kenapa rasanya Bianca begitu ingin mempraktikan gaya side to side seperti yang dia baca di sebuah artikel online tentang bagaimana posisi aman bercinta saat tengah hamil.
Bianca keluar dengan memakai sebuah lingerie berwarna hitam. Ia bersungut kesal karena Skala malah terlihat berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya hingga ke leher dengan selimut.
“Kamu ngapain Ska-la?” Bianca mendekat, pipinya sudah menggelembung sempurna melihat kelakuan nyleneh suaminya.
“Jangan perkosaa aku Ca!” ucap Skala sambil menarik selimut sampai menutupi seluruh wajahnya.
Bianca sadar bahwa laki-laki itu tengah mencoba bercanda dengannya, ditariknya selimut Skala sampai tersingkap sempurna dan kali ini Bianca dibuat terkejut karena ternyata tidak ada sehelai benangpun yang melekat di tubuh suaminya itu.
Skala menyilangkan tangan di depan dada, sejurus kemudian sebelah tangannya Ia pakai untuk menutupi miliknya yang berada di bawah sana.
“Wah … anacondamu mengintimidasi mataku Ska,” ucap Bianca sambal menggigit sensual bibir bawahnya.
"Aku bilang jangan, ampuni aku!" ucap Skala dengan nada kemayu.
"Aku akan menghabisimu," ancam Bianca.
Pasangan itu seolah tengah bermain drama mafia, benar-benar gila.
“Ya sudah, kemarilah! habisi aku,” Skala yang sudah bangun dan duduk terlihat mengerlingkan sebelah matanya-menggoda, membuat Bianca semakin gemas dan ingin segera mencabik-cabik badak Afrikanya itu. “Hajar aku, Nona Cacamarica, aku tak akan melawan.”
“Ish … awas kalau kamu nanti menyerang di tengah jalan!” ancam Bianca sambil memposisikan duduk di atas pangkuan Skala. Tangannya melingkar manis ke leher tambatan hatinya itu, sementara netranya menatap penuh napsu bibir sang suami yang begitu ciumable.
"Kenapa kamu begitu cantik?ha?" puji Skala sambil menyibakkan helaian rambut Bianca ke belakang telinga.
"Karena aku istri Skala Prawira."
Bianca mencium bibir Skala setelah menjawab pujian laki-laki itu, sementara Skala yang berniat bersikap pasif akhirnya tak tahan untuk tidak membalas serangan istrinya.
CEO PG Factory itu merangkum pipi sang istri, menelusupkan lidahnya bahkan menggigit kecil bibir Bianca. Tak ingin kalah dari sang suami, Bianca melepaskan tautan bibirnya, menciumi leher suaminya dan dengan sengaja menyesapnya dalam-dalam, membuat tanda merah keunguan yang membuat Skala melenguh menahan dorongan napsu yang semakin tersulut di dalam dirinya.
"No!" Bianca menggelengkan kepalanya saat Skala menggenggam anaconda miliknya untuk bisa dia pertemukan dengan piranha kesayangannya.
__ADS_1
"Kenapa?" Skala menaikkan kedua alis matanya, sedikit terkejut dengan penolakan sang istri.
"Side to side," ucap Bianca sambil turun dari atas pangkuan Skala, Ia lantas berbaring membelakangi suaminya, menyibakkan rambutnya, lalu mengganjal bagian bawah perutnya dengan bantal agar tidak menggantung.
"Sama seperti biasanya kan?" tanya Skala heran, karena baginya tak ada bedanya gaya yang sekarang istrinya minta dengan yang biasa mereka praktikkan.
"Em... iya juga ya?" Bianca mengerutkan keningnya. Namun, bukan saatnya untuk membahas gaya, anaconda sudah meronta sementara si piranha sudah sangat basah.
"Masa bodo," ucap Skala yang langsung menyingkap lingerie Bianca, dipeluknya sang istri dari belakang, tangannya mengusap mesra little peanut yang berada di dalam perut istrinya.
"Permisi, papa mau main," guraunya sambil membuka panties Bianca. Tak perlu waktu lama, Skala mencium leher istrinya sambil menyusupkan mahkluk amazonnya ke dalam sarang.
Bianca mulai meracau, mulutnya tak bisa dikondisakan saat anaconda kesayangannya keluar masuk dengan santainya. Ia mulai meremas bantal dan sprei ranjang. Skala melakukannya dengan pelan dan nyaman, Ia tak ingin little peanut nya terguncang-guncang jika dia bermain dengan kasar.
"Kamu suka?"
"Em ... iya," jawab Bianca yang tengah kehilangan setengah akal sehatnya.
"Terus ga?" goda Skala yang masih sibuk mengatur gerakan pinggangnya.
"Te... rus." Bianca pasrah, dia memilih menikmati servis yang diberikan suaminya.
satu ronde, dua ronde, tiga ronde, Skala lah yang akhirnya menguasai permainan, Bianca memilih pasrah saat sang suami mengerjainya. Erangan panjang Skala mengakhiri ronde terakhir mereka, Bianca terkulai tak berdaya, sambil mengatur napasnya yang masih memburu Ia memeluk tubuh Skala yang duduk di sampingnya dengan wajah sombong.
"Bagaimana Nona? mau lagi?" godanya.
"Cukup Ska, ampun!"
Skala tertawa puas, tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya. Dikecupinya kening Bianca penuh cinta lantas ikut berbaring dan menarik kepala belahan jiwanya itu ke dadanya.
"Aduh... sakit tahu," rengek Skala.
"Ska dia gerak-gerak lagi." Bianca mengambil telapak tangan Skala dan meletakkannya di perut.
Mata Skala berbinar, menyibakkan selimut untuk bisa benar-benar melihat gerakan little peanut nya. "Dia tidak terima kan kalau kamu jahat sama aku?" tanyanya antusias.
"Mungkin." Bianca mengguyar rambut Skala yang sibuk menciumi perutnya.
"Dia bahagia kan Ca?"
"Tentu saja, dia pasti bahagia jadi anak papa Skala."
Bianca tertawa geli karena Skala dengan girangnya semakin menjadi-jadi menciumi bahkan sengaja mengusap-usapkan rambut ke perutnya.
"Geli Ska."
"Aku gemas," ucap Skala memberi alasan. "Aku mencintai kalian!"
***
Berbanding terbalik dengan Bianca. Semua ibu-ibu geng sultini blok kamboja menjadi jomblo ngenes di malam jumat itu. Mereka duduk di teras rumah Bu Dewan sambil menunggu tukang bakso yang mereka panggil menyiapkan beberapa mangkuk bakso untuk mereka.
"Jadi, apa pak Prawira sudah berhasil mendapatkan calon istri?"
"Entahlah ... " Bu Erin menjawab pertanyaan Bu Dewan dengan helaan napas lelah.
__ADS_1
"Kenapa sih kamu?" tanya Bu Syifa yang sudah memegang semangkuk bakso di tangannya.
"Aku kangen sama si Rhoma," keluh bu Erin.
"Sudah lah kita senang-senang saja, kita cari Pak Prawira yuk!" ajak Bu Dewan.
"Buat apa?" tanya Bu Eli heran.
"Karaoke."
"Ikut!" teriak mereka serempak.
_
Otor : Uhuk, maaf ya aku belum up konflik, ntar aja ya, aku ga mau yang berat-berat dulu. Semoga kalian ga bosen.
KRIK... KRIK... KRIK... KRIK
Otor : Kemana perginya PRHH ya??
PRHH, reader mesumable, alumni UH AH :
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...MAKASIHHHHHH...
__ADS_1