
Skala memandang wajah Bianca yang tengah memakaikan dasi ke lehernya. Bibirnya tersenyum mendapati istrinya malam itu begitu sangat cantik dengan gaun berwarna merah dan rambut yang Ia sanggul sederhana.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan make up atau penampilanku?" Bianca tersenyum, menepuk bagian dada Skala sebanyak dua kali.
"Apa kakek akan melakukan lamaran? Kenapa kita harus berpenampilan rapi bak akan menghadiri pesta kerajaan."
Bianca berjalan menuju meja rias, mengambil kalung pemberian Diana bermaksud untuk ia kenakan. Skala yang melihat pun langsung mendekat untuk membantu sang istri, tapi jelas tidak hanya sekedar membantu, Ia mengambil kesempatan menciumi bagian punggung istrinya yang terlihat terbuka lebar.
"Kenapa kamu begitu seksi hem? dan kenapa kamu suka sekali memakai gaun yang terbuka bagian punggungnya seperti ini? kalau seperti ini aku tidak bisa menjamin Rain akan punya adik saat ia berumur lima tahun seperti keinginanmu."
Bianca tertawa, Ia berbalik menatap Skala setelah melihat kalung yang sudah selesai suaminya pakaikan ke lehernya.
"Kamu pasti menghitung setiap hari," goda Bianca. "Tidak kah kamu sadar Ska? aku juga menginginkannya."
"Menginginkan apa?"
"Membuat adik untuk Rain." Bianca tertawa menggoda sambil berjalan keluar kamar. "Aku bilang membuat adik Rain bukan untuk punya anak lagi segera."
"Sama saja, dasar Cacamarica! Hei ... Ca, apa sudah boleh?"
Skala menyusul istrinya yang sudah keluar kamar untuk melihat sang anak yang sedang diasuh oleh pelayan Prawira. Ia mengekor seperti anak bebek di belakang Bianca.
"Jadi apa tidak perlu menunggu seminggu lagi?"
"Tidak." Jawaban Bianca membuat Skala tertawa dan melakukan gerakan menekuk siku tangannya.
Yes "Kalau begitu setelah pesta kakek ya mama, Oke!"
Bianca hanya mengangguk dan tersenyum tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Apa mereka tidur?" Tanya Bianca ke Felisya yang terlihat akan keluar kamar, Rain dan Lintang sudah memiliki kamar sendiri di rumah kakek buyutnya. Bahkan kamar itu merupakan gabungan dua kamar yang sengaja Prawira buat khusus untuk dua cicitnya.
Kedua mama muda itu tengah berbincang dan saling merapikan penampilan satu sama lain, saat seorang pelayan datang dan berkata bahwa tamu Tuannya sudah datang. Felisya pun menganggukkan kepala, sementara Bianca berlalu sebentar untuk membetulkan selimut anaknya.
"Apa perjodohan kakek sukses?" tanya Felisya saat menurini anak tangga bersama adik iparnya.
Bianca pun bercerita bahwa Prawira sama sekali tidak menyukai semua wanita yang dipilihkan oleh madame Zi selaku mak comblang. Tak hanya dua, pria itu menolak semuanya.
"Tidak semuanya Bi, hanya empat karena aku dengar ada satu wanita yang malah mengundurkan diri, kalau tidak salah namanya Din … da, Di…na, Din … din Ah… entahlah aku lupa, Tama yang bercerita."
Apa mungkin Diana?
__ADS_1
Bianca menggelengkan kepalanya, mencoba menepis pikiran tentang ibunda Nuna dari otaknya. Tanpa Ia tahu memang Nuna lah sebagai madam Zi yang memasukkan dan mengeluarkan nama mamanya sendiri.
Sampai di ruang makan, Felisya dan Bianca terlihat langsung duduk di samping suami mereka masing-masing. Ibunda Rain itu melihat ke arah perempuan yang mungkin seusia almarhumah sang mama tengah tersenyum duduk di dekat kursi Prawira.
Wajah wanita itu masih sangat cantik, senyumnya menawan, dan terlihat berasal dari keluarga yang terhormat di mata Bianca, pantas jika Prawira jatuh hati kepadanya.
Masih tersenyum sambil memalingkan sedikit kepalanya, tiba-tiba saja mata Bianca membelalak tak percaya mendapati satu mahkluk yang duduk tepat di hadapannya. Benar, musuh bebunyutannya. Laki-laki yang sering menjambak rambutnya saat sang mama mengepang rambutnya dulu — Ravindra.
Kenapa? Kenapa si dodolipret ada di sini?
Bianca mengernyitkan dahi, sementara Ravin sudah tersenyum dan menaikkan tangan kanannya.
"Hai!" ucap keponakan mama tirinya itu tanpa suara dengan bibir yang menipis, tersenyum.
Ternyata Pria yang mengundang mama Hana adalah kakek suami si cicak? Sial!
Ravin pun menoleh saat Audrey sang istri menyenggol lengannya, laki-laki itu tak mendengar namanya yang baru saja disebut oleh mama mertuanya.
"Ini anak saya Audrey dan sebelahnya Ravindra suaminya, jadi dia menantu saya," ucap Hana.
Menantu? kapan mahkluk ini menikah? dasar keponakan nenek sihir, apa aku tidak dianggap saudara olehnya? maka dari itu aku tidak diundang? oh..baiklah! Tak apa, lagi pula kamu juga tidak aku undang saat aku menikah dulu, kalau pun kamu datang yang mengundang bukan aku tapi paling tante mu.
Bianca mengoceh dalam hati, masa lalunya dengan Ravin membuat Ia begitu benci dengan laki-laki itu.
"Aku akan mengirimkan satu box Citata kalau kamu mau," ucap Skala. "Dan jika kamu ingin belanja gratis mintalah ke Tama, dia direktur PG Mall."
"Aku hanya direktur, pemiliknya tetaplah kakek." Tama terlihat sungkan.
Mendengar ucapan Tama, dua tamu Prawira pun terkejut, tapi tidak dengan Ravindra, Ia langsung tahu siapa Pria yang mengundang sang mama mertua makan malam saat melihat Bianca di sana.
"Audrey apa kamu suka mengoleksi baju tidur? jika iya aku akan mengirimkan beberapa untukmu," ucap Bianca.
Lihat! benar-benar wanita mesum, bisa-bisanya dia membicarakan baju tidur di depan semua orang. Gumam Ravindra
"Terima kasih kak, Oh iya saya lupa." Audrey terlihat mengambil sesuatu dari samping kursinya, Ia lantas mendekat dan memberikannya ke Bianca juga Felisya.
"Saya tahu anda berdua baru saja memiliki bayi."
Felisya dan Bianca pun terlihat terkejut, menerima apa yang diberikan Audrey dengan senang hati.
"Jangan pakai saya anda, panggil saja kami kakak." Felisya menepuk lengan Audrey.
__ADS_1
"Kita bisa memanggil nama saja kalau kamu mau," imbuh Bianca.
Melihat suasana hangat dan nyaman yang sedang terjadi, Prawira pun berucap, "sepertinya kita cocok menjadi keluarga."
Semua orang pun saling pandang mendengar ucapan Prawira, tak terkecuali Ravin dan Bianca yang matanya seolah berkilat-kilat saling menyerang.
Tunggu! apa maksud kakek ... dodolipret akan menjadi om ku?
Tidak, apa si cicak akan menjadi keponakan ku? Sebentar, apa aku akan menjadi kakek dari anaknya?
"TIDAK!" ucap Bianca dan Ravin bersamaan.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...LIKE...
...KOMEN...
...terima kasih untuk kalian yang selalu mendukung tulisan receh Na...
...Untuk yang pensaran sama kisah Ravindra dan Audrey kalian bisa baca novel : KETIKA CINTA BERSYARAT...
__ADS_1
...aku dan penulis KCB berniat menjodohkan mama Hana dan Prawira, nanti kalau jadi kita kondangan berjamaah...