
"Mau kemana?"
Tama terlihat ketakutan, meraih tangan Felisya yang sudah menyeret koper untuk pergi dari rumah mereka. Istrinya itu terdiam, air mata sesekali menetes membasahi pipinya.
"Fel, ada masalah apa? apa kamu marah karena tidak boleh keluar komplek?"
Felisya berbalik menuju keranjang baju yang berada di sudut kamar, dia ambil kemeja yang semalam Tama pakai, lalu dilemparkannya ke arah laki-laki itu.
"Lihat! kemarin kamu pulang hampir tengah malam dalam kondisi mabuk, dan apa itu? apa kamu memiliki wanita simpanan?"
Felisya begitu emosi, bahkan pundaknya terlihat sampai naik turun menahan amarah. Tama langsung membuka lebar kemejanya, dan seketika terkejut melihat cap bibir berwarna merah berada tepat di bagian kanan dada.
"Kamu selingkuh! kamu jahat!" Felisya berbalik menuju arah pintu sambil menatap benci suaminya.
Tak hanya tinggal diam. Tama menarik paksa koper sang istri, menyingkirkan benda itu menjauh. Dipegangnya erat kedua lengan Felisya. Bahkan ia harus mengguncang tubuh istrinya sedikit kasar agar mau mendengarkannya berbicara dulu.
"Dengarkan aku! Ini tidak seperti yang kamu kira Fel," ucap Tama mencoba menenangkan sang istri.
"Lalu apa? apa?" Felisya kembali emosi bahkan mendorong dada suaminya, hatinya benar-benar terasa sakit.
"Bekas lipstick itu—itu— bukan bibir wanita, tapi bibir Skala."
"Apa?"
Manik mata Felisya membola, Ia tak percaya dengan kalimat yang baru saja terlontar dari lisan suaminya.
"Skala?"
***
Berbeda dengan sang kakak ipar, Bianca terlihat begitu tenang menyikapi kondisi suaminya yang pulang dalam keadaan mabuk semalam. Ia dengan santai menimang Rain, lalu memberikan bayinya itu ke sang pengasuh agar dia bisa sarapan.
Hanya dentingan sendok yang sesekali terdengar, tak ada perbincangan hangat seperti biasanya. Skala mengguyar rambutnya lalu meletakkan alat makannya. Menatap ke arah Bianca yang dengan santai melahap makan paginya.
"Ca, maaf!"
__ADS_1
Bianca menatap suaminya sekilas, "Aku mengirimkan sesuatu ke aplikasi pesan chat mu, apa kamu sudah membukanya?"
Ucapan istrinya itu sukses membuat Skala langsung berdiri dari kursinya dan berlari menuju markas. Menyambar ponsel yang baru dia isi dayanya, papa Rain itu terlihat mengepalkan telapak tangannya melihat fotonya yang teler dengan bibir merah merona. Bianca dengan sengaja mengambil foto dirinya yang berantakan semalam.
"Apa kamu semalam berpesta dengan wanita?"
Suara Bianca mengagetkan Skala. Menggelengkan kepalanya berkali-kali, jelas Ia menolak tuduhan istri tercintanya.
"Aku pergi dengan kakek dan Tama, aku tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan konyol ini kepadaku." Memejamkan matanya, gigi Skala bergemerutuk karena terlalu kesal, ia mengutuk orang yang berani-beraninya mengubah wajah tampannya menjadi seperti pria jadi-jadian.
"Ca, maaf! aku semalam bermaksud pulang terlambat agar tidak tergoda oleh rayuanmu, maksud 'ku —."
"Agar skorsing 'ku berlanjut sesuai dengan waktu yang telah kamu tentukan, begitu kan?" tebakan Bianca yang sepenuhnya benar membuat Skala terdiam.
"Aku bingung harus marah atau tidak kepadamu, yang pasti aku kecewa." Berjalan menuju ruang ganti, Bianca membiarkan suaminya berselimut rasa bersalah. Sadar bahwa Skala membuntutinya, mama Rain mulai mengungkapkan rasa jengkelnya.
"Apa kamu tahu? aku bisa saja dengan mudah melanggar hukuman yang kamu berikan, aku bisa membawa mobil dan menerobos portal komplek, kalau perlu aku bisa memanggil buldoser untuk menghancurkan pos satpam." Sejenak Bianca meletakkan baju yang dia ambil dari lemari, gadis itu berbalik, memandang suaminya yang benar-benar merasa bersalah.
"Tapi itu akan terjadi jika aku masih Bianca yang dulu, yang tidak menganggapmu suami yang harus aku hormati. Ska, apa kamu ingin aku kembali bersikap seperti dulu?"
"Tidak! Jangan! Aku mohon Ca, maafin aku! aku salah, please!"
Melepaskan tangan, Bianca berpura-pura bersikap dingin. "Aku akan pergi ke rumah kakek,kamu harus mengijinkan karena aku harus membantu beliau menyiapkan acara lamarannya."
"Aku—aku akan mengantarmu!"
"Terserah!"
Skala memijat keningnya, ia pusing tujuh keliling. Jika kata keramat ter—se—rah yang artinya tidak terdifinisikan itu sudah Bianca lontarkan, tandanya untuk beberapa hari anacondanya tidak akan bisa berpetualang ke Amazon.
***
"Pakai!"
Skala sukses dibuat heran oleh mantan kekasihnya. Baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu rumah Prawira, Felisya sudah menyodorkan sebuah lipstik ke arahnya.
__ADS_1
"Apa'an sih Fel?" Skala menepis tangan kakak iparnya itu dari depan mukanya.
"Aku hanya ingin mengkonfirmasi, apakah ini benar cap bibirmu."
Bianca menyambar kemeja di tangan Felisya, melihat bekas merah di sana lalu memandang sekilas bibir suaminya. Ia seketika tertawa. Dengan hanya melihat bentuknya, Bianca sudah yakin itu memang bibir Skala.
"Sepertinya aku tahu siapa pelaku yang memoleskan lipstik di bibirku," ucap Skala geram, ditatapnya Tama yang sedari tadi berdiri mengkerut di dekat anak tangga.
"Mantan kakak sepupu laknat!" Teriak Skala.
Tama seketika sadar bahwa dirinya sedang dalam bahaya, pria itu langsung berlari menyelamatkan diri dari amukan badak Afrika Bianca.
—
—
—
—
—
—
—
...LIKE...
...KOMEN...
...Bagi kembang atau Kopi sebagai bentuk apresiasi...
...ke Na 🥰...
...MAKSASIHHHHH...
__ADS_1