
Siang itu Skala duduk di sebuah coffe shop yang dinding luarnya terbuat dari kaca, memutar jari telunjuknya di permukaan bibir cangkir, Papa Rain itu tengah menunggu kedatangan seorang wanita yang mengaku pemilik rumah baru di blok Kamboja. Jika kemarin dia salah sasaran, hari ini dia harus meluapkan emosinya ke orang yang tepat, menganggu ketenangannya adalah sesuatu yang tidak bisa diterima.
Lima menit kemudian, nampak dari tempatnya duduk ada sebuah mobil mewah yang berhenti. Seorang gadis muda turun dari dalam. Melihat penampilannya yang modis entah kenapa Skala langsung teringat pada Bianca yang tadi pagi memberinya nasihat.
“Jangan berbuat hal yang aneh-aneh! jangan terlibat masalah! Dia bisa membeli rumah di sini pastinya dia juga banyak duit.”
Gadis itu melangkahkan kaki masuk ke dalam. Memindai dari ujung rambut sampai ujung kaki, Skala mulai menghitung nilai barang-barang branded yang dikenakan Mina, nama gadis itu.
"Jelas dia pemilik rumah itu, wanita yang datang kemarin pasti hanya pesuruhnya,” gumamnya sambil menatap Mina.
“Tuan Skala Prawira?” Mina melepaskan kacamatanya saat Skala menganggukkan kepala. Tanpa dipersilahkan gadis itu duduk dan melatakkan tasnya ke atas meja.
“Apa anda pemilik rumah itu?” tanya Skala tanpa basa-basi. Mina pun tersenyum sambil mengangguk, tak lupa menyilangkan kakinya agar terlihat sombong.
“Pak!”
Mata Skala melotot saat gadis di depannya memanggilnya dengan sapaan itu. Meskipun ia sudah memiliki anak tapi Skala merasa mukanya benar-benar masih terlihat muda.
“Pak! dimana-mana jika ada orang yang membangun rumah pasti berisik, saya mohon maaf jika mengganggu ketenangan bapak, tapi bisakah bapak mengabaikannya karena sebentar lagi pembangunan rumah itu juga selesai, dan kita akan bertetangga, tidak baik membuat perselisihan dengan calon tetangga seperti ini, bukankah di pelajaran moral Pancasila kita diajarai tenggang rasa?”
Mulut gadis itu berbicara selicin belut, secepat lokomotif kereta Gajayana, membuat Skala yang mendengar hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya.
“Seben-“
“Tapi saya juga ingin protes kenapa bapak sampai mengancam sekretaris suami saya? Ia begitu ketakutan sampai menangis karena perbuatan bapak.”
“Tung-“
“Kalau bapak ingin melaporkan kami dengan tuduhan mengganggu kenyamanan dan perbuatan tidak menyenangkan, bapak juga akan saya laporkan dengan tuduhan yang sama karena membuat Monica menangis kemarin.”
"Ak-."
"Bapak juga akan saya tuntut karena -. "
__ADS_1
“DIAM! diam! anda bisa diam tidak?” bentak Skala. Papa Rain itu kesal sampai berdiri dari kursinya.
“Ke-na-pa bapak marah?” tanya Mina terbata karena kaget. Gadis itu lantas mendongakkan wajahnya seperti menantang berkelahi.
“Anda bicara tanpa jeda, apa anda titisan soang?”
“Apa anda bilang? Soang?” Mina memalingkan muka, memegang bagian kerah bajunya sambil mengibas-ngibaskannya seolah tengah kepanasan.
“Pak Skala, anda sepertinya memang tipikal orang yang menjengkelkan. Sepertinya kita tidak akan pernah bisa bertetangga baik untuk ke depannya, jika saya tahu suami saya ingin membeli rumah di sana pasti sudah saya larang sejak awal.”
“Hah? Apa kamu sugar baby sampai suamimu membeli rumah saja tidak tahu, apa mungkin kamu ternyata istri kedua? jika dilihat kamu mirip bocah.”
“Sembarangan kalau ngomong, wah … pantas monica kemarin sampai menangis. Mulut kamu ternyata berbisa.”
“Hei … Bocah! Sepertinya kamu tidak pernah diajari sopan santun.” Skala naik pitam saat Mina mengganti kata anda dengan kamu.
Mencebikkan bibirnya, gadis itu kembali berbicara. “Kamu yang tidak pernah diajari sopan santun, lebay banget sih jadi orang. Aku tahu penghuni blok itu tidak hanya keluarga 'mu tapi kenapa hanya kamu yang protes?”
Skala dan Mina terus berdebat, mereka membiarkan semua orang yang sudah memandang aneh ke arah mereka, bahkan beberapa mulai terganggu dan memilih mengambil video mereka secara diam-diam untuk diviralkan. Tak ada penyelesaian diantara keduanya. Skala semakin kesal karena gadis di depannya lebih menjengkelkan dari piranhanya di rumah.
Bianca cemberut berdiri di depan pintu rumah sambil memegang ponselnya, dengan masih menggunakan setelan kerjanya, Ibunda Rain itu menunggu suaminya datang.
"Lihat, mama mu sepertinya sedang marah lagi ke papa mu," ucap Felisya yang tengah menemani Rain dan Lintang bermain dari halaman rumahnya. Jelas istri Tama itu hanya bergumam sendiri karena dua bocah laki-laki itu sibuk melampar tangkap bola.
Tiga puluh menit yang lalu, Bianca mengirimkan pesan ke suaminya agar pulang segera. Ia ingin meminta penjelasan akan foto-foto Skala yang tersebar di dunia maya.
Selang beberapa saat dengan senyum cerianya Skala turun dari mobil dan langsung menghampiri Bianca. Ia hampir memeluk sang istri tapi Bianca memilih memundurkan badannya.
"Ga usah peluk-peluk!"
"Kenapa?"
"Jelaskan dulu ini apa?" Bianca menunjukkan sebuah foto dari ponselnya, seketika itu Skala terperanga.
__ADS_1
"Titisan Soang, kenapa bisa?"
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...Buat yang belum tahu, Semua Novel Na tokohnya berhubungan satu sama lain ya....
...kalian bisa baca cerita Mina sama Nic di SORRY MR CEO : I am not Cinderella...
...BKP tinggal satu konflik dan benar-benar END...
...jangan lupa LIKE KOMEN nya ya...
__ADS_1
...makasih...