Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Skala Hilang


__ADS_3

Bianca masih terus tersenyum meskipun mobil yang dikendarai Julian sudah pergi meninggalkan rumahnya beberapa menit yang lalu. Ia heran, bukan hanya Skala saja yang mengkhawatirkan keadaan little peanut nya, tapi juga para anggota geng sultini blok kamboja.


Usai mereka senam pagi tadi dan bertemu di depan rumah Bu Dewan, beberapa anggota geng memberi nasihat ke Bianca.


"Jangan kerja terus!"


"Jaga kandungan kamu! dia masih rentan."


"Udah lah di rumah aja Bi, cukup suami kamu yang kerja. "


Deretan nasihat ibu-ibu itu membuat Bianca bahagia, meskipun tak ada mama dan mertua tapi setidaknya Ia masih memiliki ibu-ibu geng yang mengkhawatirkan dirinya.


Bianca mengusap lembut perutnya dibalik dress yang harus dia ganti karena dress merah mudanya Skala buang begitu saja saat meladeninya tadi, Ia tidak mungkin menemui Aiden dengan baju kusut. Direktur perusahaan fashion harus selalu paripurna itu keyakinan Bianca, seperti keyakinannya juga bahwa hamil bukanlah sebuah penyakit, Ia sehat.


Bianca selalu mensugesti little peanut agar mau diajak bekerja sama. Ia sadar betul bahwa Skala bisa memberikan materi yang melimpah ruah kepadanya. Namun, satu hal yang mungkin tidak akan pernah Bianca dapatkan dari sang suami sultannya yaitu rasa puas dan bangga terhadap diri sendiri.


Bagi Bianca yang dilahirkan di keluarga yang tidak memiliki cinta kasih satu sama lain membuat Ia harus hidup mandiri dan tangguh sejak kecil. Ia juga ingin kelak little peanut nya menjadi manusia yang kuat dan tangguh seperti dirinya.


Masih terbuai lamunannya, Bianca tak sadar bahwa mobil yang membawanya sudah terparkir di depan sebuah hotel bintang lima dimana Aiden juga menginap di sana. Resto hotel itu menjadi pilihan tempat pertemuan mereka karena tempat makan dan coffee shop belum banyak yang buka sepagi itu.


"Mrs. Bianca," sapa Aiden melihat gadis yang memiliki janji bertemu berjalan menuju ke arahnya.


"Benar-benar berondong manis," gumam Bianca sambil mengulas senyum di bibirnya.


Gadis itu sedikit membungkuk lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Aiden. "Maaf sudah mau menunggu, saya tahu jadwal anda begitu padat."


Aiden tersenyum sambil menyambut uluran tangan Bianca, sementara dari jarak enam meter duo Julid yang juga sudah duduk manis terus memantau sambil sesekali meladeni pertanyaan Skala yang dikirimkan lewat pesan.


"Jangan katakan ke Skala soal ekspresi wajahku saat bertemu Aiden nanti, kalau aku tersenyum dan bersikap manis terus itu bukan berarti aku sedang tebar pesona, tapi memang harus seperti itu menghadapi kolega."


Pesan dari Bianca terngiang di pikiran Julian saat membaca pesan Tuannya yang bertanya apakah sang istri terlihat begitu bahagia.


"Nyonya bersikap biasa saja," balas Julian.

__ADS_1


Skala yang hampir membalas pesan bodyguard sang istri terlihat kaget mendapati sebuah pesan baru masuk ke dalam ponselnya. Entah kenapa tiba-tiba dirinya lebih tertarik membalas pesan itu.


***


"Jadi anda ingin memasukkan ulasan produk a new able bra kami di rubrik di bagian inovasi fashion the beauty magazine dan mengisi dua muka halaman sekaligus?" Bianca tak percaya mendengar penjelasan Aiden.


"Ya, kami merasa Niel Fashion patut mendapatkan itu, bukankah produk anda juga pernah masuk salah satu majalah di Singapura?"


"Ya—benar." Bianca masih tak percaya dengan ucapan Aiden.


"Produk anda akan diulas langsung oleh fashion expert kami."


Penjelasan Aiden membuat Bianca benar-benar merasa terbang ke atas awan, ini melebihi bayangannya bahkan lima menit sebelum bertemu brondong manis di hadapannya, Ia tidak mengharapkan sesuatu yang besar seperti ini. Gila! Produk yang terinsipirasi dari ritual pelepasan kecebong bisa go internasional, luar biasa.


"Tapi produk kami belakangan menjadi kontroversi," terang Bianca, poin penting baginya dalam setiap kerjasama yang akan dia lakukan adalah berkata jujur.


"Maksud anda?" Aiden menajamkan matanya, menunggu penjelasan Bianca.


"Ada beberapa masyarakat yang mengklaim bahwa produk a new able bra kami meningkatkan kasus perselingkuhan.


"Tak masalah, kami juga akan melakukan riset dan sebelum memuatnya ke dalam majalah, kami akan mengirimkannya ke Niel Fashion agar anda bisa membacanya terlebih dulu."


Wajah Bianca berbinar, peluang perusahaannya untuk dikenal lebih banyak orang semakin terbuka lebar. Setelah memastikan semua jelas, Bianca undur diri dari sana.


***


Bahagia karena pertemuannya lancar, Bianca mencoba menghubungi Skala untuk langsung bercerita. Namun, tak ada balasan dari belahan jiwanya itu. Ia pun lantas menanyakan ke duo julid apakah sang suami menghubungi mereka tadi.


Julian dan Lydia saling pandang jelas mereka harus berkata tidak, mana mungkin mereka membocorkan bahwa sedari awal Tuannya selalu memantau Bianca melalui mereka.


Bianca mulai panik karena Skala tak membalas pesan ataupun mengangkat telponnya. Ia memerintahkan Julian agar menambah kecepatan laju mobilnya.


Sesampainya dirumah Bianca tak mendapati Simon dan Dodi berada di depan, bahkan pintu rumah tak terkunci dengan benar. Gadis itu langsung naik ke atas menuju markas, memanggil nama Skala berkali-kali tapi tetap tak ada jawaban dari suaminya.

__ADS_1


Gadis itu keluar masuk ke kamar mandi dan kamar ganti mencari dimana Skala berada. Kepalanya tiba-tiba berputar. Pikiran buruk kembali menggelayuti otaknya, dia masih trauma dengan kepergian Skala yang ternyata membuat badak Afrikanya sampai terluka.


"Julian, Lydia coba kalian hubungi Simon dan Dodi." Bianca terlihat meringis karena tiba-tiba saja perutnya terasa sakit setelah memberi perintah dua pengawalnya.


"Nyonya tidak apa-apa?" tanya Lydia panik.


"Cari dia! aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi padanya."


Mata Bianca mulai menggenang, Lydia langsung menyambar tisu karena sadar sebentar lagi Nyonyanya pasti akan menangis.


_


_


_


_


_


_


_


...LIKE...


...KOMEN yang banyak...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...


...makacih 🥰...

__ADS_1



__ADS_2