
Melihat masalah rumah tangga yang dialami sang putera kesayangan, Salma merasa bersedih. Bagi wanita itu, Diana adalah menantu yang baik, meskipun selama ini dia seolah tak peduli dengan ibunda Nuna itu tapi di dalam hatinya Salma begitu menyayangi Diana.
Perceraian Billy dan menantunya yang hanya tinggal menunggu ketok palu, membuat Salma tiba-tiba saja menyesal. Ia berniat berbicara kepada Diana malam itu. Namun, melihat wanita itu duduk sambil memeluk anaknya di teras belakang, membuat Salma mengurungkan niatnya.
"Aku mau ikut mama tinggal di apartemen," lirih Nuna sambil berusaha meredam rasa sesak di dadanya, gadis itu sadar tangisannya malah akan membebani sang mama lebih dalam, untuk itu Nuna benar-benar menyembunyikan kesedihannya.
Sudah dua bulan ini Diana memilih tinggal di apartemen, mengasingkan diri dan menjauh dari suami yang sebenarnya masih sangat dia cintai.
"Apartemen mama masih berantakan, nanti setelah semua barang-barang tertata rapi kamu boleh datang ke sana." Diana membelai lembut rambut puterinya, memberikan pengertian kepada Nuna adalah hal yang mudah baginya. Anak semata wayangnya itu selain cerdas juga sangat pengertian.
"Apa mama dan papa tidak bisa bersatu kembali?"
Mata bening Nuna berkaca-kaca, gelengan kepala sang mama membuatnya mengangguk pasrah. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir baik, begitu otak Nuna menangkap isyarat mata dari wanita yang melahirkannya.
"Hanya status mama dan papa yang berbeda, kamu tetap anak mama— puteri kami." Mengusap Pipi anaknya, Diana benar-benar ingin menunjukkan ke anaknya bahwa Ia baik-baik saja.
"Nuna, kelak kamu harus hidup bahagia dengan pria yang baik, carilah pria yang cintanya kepada 'mu lebih besar dari pada cinta 'mu ke dia."
"Kenapa begitu?" Nuna memeluk erat pinggang Diana, mencurukkan kepalanya menempel pada lengan sang mama. Mencium aroma tubuh wanita yang melahirkannya itu—nyaman.
"Mama tidak ingin kamu merasakan apa yang mama rasakan."
"Aku akan menikahi pria yang cintanya sangat besar kepada 'ku, meskipun dia tidak kaya," ucap Nuna sedikit bercanda.
"Jangan! kamu harus cari pria yang mapan." Diana menjauhkan badannya, menatap serius wajah ayu anaknya. "Nuna, cinta tidak akan membuatmu merasa kenyang."
***
Berniat berpamitan kepada mertuanya, Diana malah berbelok ke kamarnya dan Billy sebelum pulang. Wanita itu memandangi setiap sudut ruangan, ranjang dimana Ia pernah berpelukan dengan suaminya dan menghangatkan tubuh satu sama lain. Cermin dimana Billy pernah tersenyum bahagia saat Ia memasangkan dasi sebelum pria itu berangkat kerja, dan sofa dimana dirinya dan Billy pernah berbagi cerita.
"Untuk apa kamu berada di sini?"
Suara pria yang sangat Diana kenal membangunkan wanita itu dari lamunannya. Ditatapnya pria yang dulu pernah berjanji hanya akan mencintainya seumur hidup itu dengan ekspresi datar.
"Hanya ingin mengucapkan selamat tinggal."
__ADS_1
Diana tersenyum getir lalu berjalan pergi meninggalkan Billy, sayang pria itu terlebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
"Empat tahun yang lalu, aku melihatmu berada di apartemen Kak Kiran, di hari dia meninggal."
Mendengar ucapan Diana, Billy terkesiap. Sementara Nuna yang ternyata menguping pembicaraan orangtuanya memilih mematung di luar pintu.
"Apa kamu membunuhnya?"
Pertanyaan Diana membuat mata Nuna membeliak lebar. Sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya dari Billy.
"Jangan sembarangan berbicara! Aku tidak membunuhnya, dia melompat sendiri dari balkon apartemennya."
Masuk ke dalam kamar orangtuanya, kehadiran Nuna membuat Diana terkejut, begitu juga dengan Billy. Gadis berumur lima belas tahun itu menggenggam erat tangan mamanya, matanya penuh dengan amarah dan kebencian.
"Jangan memukul mama, atau aku akan memastikan papa masuk ke dalam penjara!"
Billy kembali mengangkat tangannya, tanpa rasa takut Nuna malah mendongakkan kepala seolah menantang laki-laki itu. "Pukul Nuna! dan lihat saja aku akan membuat papa menyesal!" Ancamnya ke Billy tanpa rasa takut sedikitpun.
***
BRUK
Kepalanya membentur dada sesorang. Nuna terdiam, kepalanya menunduk, air mata menetes membasahi pipinya. Ia mengenali siapa yang ditabraknya dari aroma parfum yang menguar sampai ke hidungnya.
"Nuna, ngapain kamu malam-malam—"
Bak kehilangan akal sehat, Nuna memeluk erat pinggang Dewa, yang dia butuhkan sekarang hanyalah sebuah ketenangan. Ia menggeleng, memberi isyarat agar Dewa tak menanyakan apa-apa.
Namun, entah apa yang dipikirkan Dewa saat mendapati keponakan Bianca itu menangis. Menjauhkan tubuh Nuna, Ia lalu mengusap pipi gadis itu yang sudah basah akan air mata.
"Tidak apa-apa," ucap Dewa yang sudah tahu bahwa orangtua Nuna akan bercerai.
"Kak—."
Nuna memandang wajah laki-laki yang disukainya itu dalam-dalam, sementara Dewa semakin mendekatkan wajahnya, mengikis jarak sampai ujung hidung mereka bersentuhan. Bibir mereka menempel satu sama lain di bawah lampu yang berpijar temaram, tak ada penolakan.
__ADS_1
Carilah pria yang cintanya kepada 'mu lebih besar dari pada cinta 'mu ke dia.
Merasakan hangatnya bibir Dewa, Nuna seperti kehilangan semua akal sehatnya.
"Maaf Ma, Aku sepertinya tidak bisa."
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...LIKE...
...KOMEN...
...bagi Kembang 🌹...
...Untuk info novel follow Na di @nasyamahila...
...Makasih zeyengggg...
__ADS_1