
“Ca Bangun,” bisik Skala ke telinga sang istri.
Bianca mengerjabkan matanya, menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi, ia tersenyum, melingkarkan tangannya ke leher Skala sambil menguap.
“Hari Ini kan Sabtu Ska, katanya kamu minta aku istirahat,” keluhnya.
“Ponakan kamu udah lahir tuh, Tama baru aja kasih kabar pas aku perjalanan pulang.”
Seketika mata Bianca terbuka lebar, Ia tersenyum bahagia mendengar kabar bahagia itu. Padahal baru subuh tadi terjadi huru-hara karena Felisya akan melahirkan.
“Jadi anak papa mau lahir kapan nih?” bisik Skala sambil mengusap perut Bianca.
***
Subuh tadi
Tama tiba-tiba mengetuk pintu rumah sepupunya, karena ini weekend maka Prawira dan bala pelayannya jelas sedang pulang ke istana. Laki-laki itu panik karena Felisya tiba-tiba saja kesakitan, tapi tidak mau dibawa ke rumah sakit.
“Ada apa mas Tama? Kok kayaknya panik,” tanya Bu Dewan yang sudah bangun seperti biasa.
Wanita itu berdiri di depan pagar rumahnya, tengah bersiap melakukan olah raga jalan pagi bersama soulmate nya di geng sultini blok Kamboja. Siapa lagi kalau bukan duo E, Bu Erin dan Bu Eli.
“Bu, istri saya kesakitan sepertinya mau melahirkan.”
“Lha terus ngapain ke rumah Skala? Bukannya kamu bawa ke rumah sakit.” Mama Dewa itu panik.
“Dia minta saya manggilin Bianca,” jawab Tama kebingungan.
Melihat Bu Eli dan Bu Erin, Bu Dewan pun mendekat dan langsung bercerita tentang keadaan Felisya. Alhasil ketiganya memilih pergi ke rumah Tama untuk melihat kondisi tetangganya itu.
Felisya yang meringis kesakitan sambil berjalan mondar-mandir di ruang tamu terlihat terkejut didatangi tiga tetangga somplak adik iparnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun, tak mendapati sang suami ikut kembali ke rumah.
“Udah dari kapan rasanya?” tanya Bu Erin.
“Semalam sih Bu, saya kira kontraksi palsu tapi semakin ke sini semakin sakit.” Felisya tetap bersikap ramah, meskipun ia harus meringis menahan sakit di punggung dan pinggulnya.
“Terus kenapa malah nyari Bianca, bukannya ke rumah sakit atau manggil mama kamu?” tanya Bu Dewan khawatir.
Felisya pun tersenyum lalu menjelaskan alasannya, “ karena saya merasa butuh bantuan Bianca, di sini orang terdekat saya cuma dia, kalau mama sekarang beliau sedang menemani papa perjalanan dinas ke luar kota.”
__ADS_1
“Eh … Feli, lalu kita kamu anggap apa?” Bu Eli menimpali, ia berjalan mendekat untuk membantu gadis itu. “ Sini aku pijat punggung kamu biar rasa sakitnya berkurang.”
Felisya tersenyum, ia mengucapkan terima kasih karena kebaikan hati para ibu-ibu itu, bahkan Bu Erin sampai pergi ke dapur dan mengambilkan minum untuknya. Felisya meringis saat kontraksi kembali datang menderanya. Tak lama Tama terlihat kembali bersama Skala dan Bianca.
“Apa kamu sudah menghitung durasi kontraksinya seperti yang diajarkan di kelas hamil?” tanya Bianca ke sang kakak ipar.
Baru saja Felisya mengangguk, tiba-tiba ia membelalakkan mata. Begitu juga dengan semua orang, karena lantai tiba-tiba basah dengan cairan berwarna bening yang kemudian mengalir ke paha wanita itu.
“Ketuban!” Teriak ibu-ibu geng sultini dan Bianca secara bersamaan.
Mereka langsung panik dan meminta Tama untuk segera membawa sang istri ke rumah sakit. Bianca yang ingin ikut tidak diperbolehkan oleh sang suami. Skala memikirkan kondisi kesehatan istrinya itu.
“Kamu kan baru tidur jam dua tadi,” bisik Skala di telinga Bianca. “Kamu di rumah istirahat saja, cukup aku yang mengantar Felisya dan Tama.”
“Kamu sih bikin aku begadang,” gumam Bianca malu-malu.
“Katanya mau induksi alami biar cepet lahirnya,” goda Skala.
Sontak kelakuan dua mahkluk itu membuat Bu Dewan dan dua rekan satu gengnya geleng-geleng kepala, Mereka mendengar dengan jelas percakapan mesum tetangganya itu, karena sedari tadi mereka sedang berdiri tepat di belakang Skala dan Bianca.
***
“Hei ganteng,” sapa Bianca yang langsung mengambil bayi mungil itu dari tangan Felisya agar sang Bunda bisa menyantap sarapannya.
“Enak banget sih Fel, lahiran kamu kayaknya lancer banget.” Bianca mulai menunjukkan rasa irinya.
“Kan kita sama-sama belajar di kelas hamilnya Bi, aku doakan semoga kamu juga berhasil dengan pelajaran yang sudah kita dapat.”
Bianca tersenyum, mendekatkan bayi kecil yang diberi nama Lintang Gutama Itu ke sang suami. Tama yang ditanya oleh Skala kenapa tidak memberi akhiran nama Prawira ke sang anak, memilih menanggapinya dengan senyuman.
“Hei …. hasil test DNA ku dan papa Bianca belum keluar, jika sudah dan hasilnya kami memiliki hubungan darah, itu berarti namaku seharusnya menjadi Gutama Nataniel, betul kan Bi?”
Bianca hanya tertawa, memiliki kakak seperti Tama seperti tak ada ruginya, ia tahu bahwa Tama orang yang baik dan tidak gila harta seperti Billy.
“Jadi lebih baik anakku tidak memiliki nama keluarga dari manapun, biarkan dia memiliki namaku saja.” Tama menatap sang istri, lalu anaknya yang berada di gendongan Bianca. Bibirnya tersenyum seolah semua baik-baik saja, tapi bagi Skala sepupunya itu sedang menyimpan lara.
***
Prawira baru datang ke sana di saat cucu-cucunya tengah berbincang di kamar rawat Felisya. Pria tua itu dibuat kaget saat berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Ia melihat seorang wanita yang tengah duduk di kursi roda kesulitan menggerakkan kursinya karena jalanan sedikit menanjak.
__ADS_1
Jiwa kepahlawanan Prawira pun muncul, ia berjalan mendekat dan berusaha menolong wanita itu. Siapa sangka, saat menatap wajah wanita paruh baya itu, Prawira merasakan sesuatu yang berbeda.
Wajah wanita itu terlihat begitu bercahaya. Prawira seperti sedang bertemu bidadari dari surga. Ia merasa sejenak waktu berhenti berputar.
“Biarkan saya membantu anda!” ucap Prawira sopan. Wanita itu pun mengangguk, menerima tawarannya.
“Terima kasih!” ucap wanita itu dengan senyuman yang menggetarkan hati Prawira. Saat keduanya masih saling menatap satu sama lain, sebuah panggilan membuat wanita itu berpaling.
“Mama, aku kira mama kemana,” ucap seorang gadis yang langsung menunduk memberi salam ke Prawira.
Sebelum pergi, Prawira menanyakan nama wanita yang membuat dadanya berdetak tak karuan itu. "Tunggu, bolehkah saya tau nama anda?" tatapan mata pendiri PG Group itu penuh harap.
"Saya Audrey!"
"Bukan, bukan kamu, tapi mama, anda... " Prawira menatap wajah wanita itu.
"Saya Hana."
Suara wanita itu bagaikan nyanyian surga di telinga Prawira, Ia terhanyut dan bahkan merasa meleleh bagai gulali yang dipanasi di atas kuali. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama.
-
-
-
-
-
-
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE di NicNa aja ya...
...Aku sayang kaliannnnn...
__ADS_1
...ga cuap2 berarti aku sibukkk mencari Cogan Oke...