Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Selingkuh?


__ADS_3

Bersepakat pulang malam untuk menghindari rayuan maut istri mereka. Skala dan Tama memilih mengajak Prawira untuk pergi berpesta. Awalnya pria tua yang sedang dimabuk asmara itu menolak dengan keras. Namun, setelah dua cucu durjananya itu mengancam akan menggagalkan rencana pernikahannya dengan Hana, Prawira pun mengiyakan ajakan Tama dan Skala. Menggunakan mobil Prawira, ketiganya dan juga Radit pergi ke tempat favorit mereka, Garald klub.


“Tumben kalian mengajak kakek keluar, ada angin apa?” tanya Prawira sambil menyesap minumannya, demi kelangsungan hidup yang lebih panjang. Pria itu menolak menenggak minuman keras lagi.


“Angin tornado kek.” Skala tertawa sambil memberikan minuman yang baru saja Ia tuang ke Tama.


“Kami sedang menghukum Bianca dan Felisya, kakek tahu? Mereka bertengkar bahkan cakar-cakaran kemarin saat menghadiri acara senam Zumba, parahnya baik Feli ataupun Bianca tidak ada yang mau bercerita apa alasannya sampai mereka berbuat seperti itu.” Beber Tama.


“Kenapa kalian tidak bertanya kepada ibu-ibu yang lain?” Prawira setengah hati menanggapi ucapan cucunya karena ia sibuk berbalas pesan dengan sang pujaan hati yang sebentar lagi akan dilamarnya.


“Sama saja, mereka juga tidak mau memberitahu alasan pertengkaran itu ke suami mereka.”


***


Gelisah, begitu yang dirasakan Bianca dan Felisya di rumah. Menggenggam erat ponsel masing-masing, keduanya sama-sama ragu untuk menghubungi suami mereka. Bianca menunggu Skala di ruang tamu, sementara Felisya memilih berada di kamarnya sambil sesekali membuka korden jendela.


Sepertinya Skala menghindar malam ini, sampai sekarang dia belum juga pulang.


Pesan dari Bianca membuat Felisya sedikit terkejut, tapi sekaligus senang karena ternyata adik iparnya itu pun bernasip sama dengannya.


Tama juga belum pulang.


“Tidak mungkin!” ucap mereka secara bersamaan.


Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Prawira yang duduk di kursi depan bersama Radit terlihat memejamkan matanya. Sedangkan kedua cucunya mabuk dan saling berpelukan di belakang.

__ADS_1


“Apa ini?” tanya Tama yang menemukan sebuah paper bag brand kosmetik ternama. Menegakkan badannya, laki-laki itu membalik dan menumpahkan isinya.


“Tuan Tama! Apa yang sedang anda lakukan?”


Radit yang fokus menyetir menoleh ke arah Prawira yang tertidur nyenyak. Dia tak sampai hati membangunkan Pria tua itu karena tahu betul, Prawira pasti lelah karena seharian menyiapkan sendiri acara lamarannya dan Hana.


Radit mencoba melirik dari kaca spion depan. Matanya membelalak lebar mendapati Tama sedang memakaikan lipstick berwarna merah ke bibir Skala sambil tertawa-tawa.


“Sial! Itu make up untuk Nyonya Hana.” Radit mengumpat dan berusaha menepi untuk menghentikan aksi Tama.


Skala yang dalam keadaan setengan sadar mendorong tubuh Tama, tapi tiba-tiba saja ia menarik tubuh kakaknya itu kembali.


“Bianca, Cacamarica!” ucapnya sambil meringsek ke arah Tama. Mereka akhirnya berpelukan dengan posisi kepala Skala berada di atas dada suami Felisya.


***


“Tuan!” Radit menyapa Prawira yang baru saja terbangun. Menoleh ke belakang, Prawira kaget karena cucunya sudah tidak berada di kursi penumpang.


“Aku ketiduran ya? Ke mana Skala dan Tama?”


“Sudah saya serahkan ke istri mereka masing-masing Tuan,” Jawab Radit tanpa dosa.


Sementara itu, Felisya menangis. Ia pukuli dada suaminya yang masih teler dan rebahan di kursi ruang tamu. Di kemaja Tama terdapat bekas cap bibir berwarna merah menyala.


“Kamu selingkuh? Apa yang kamu lakukan, Ha? Gutama Prawira jahat! bangun!” teriak ibunda Lintang itu sambil terus memukuli dada suaminya.

__ADS_1


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


__ADS_1


__ADS_2