
"Kalau aku tidak boleh pergi ke acara reuni, kamu juga tidak boleh pergi yoga hari ini, ayo kita membuat adik untuk Rain saja di rumah seharian!"
Bianca yang sudah menenteng tasnya memilih diam memandangi penampilan Skala, kaus oblong warna putih, dan celana pendek mirip hot pants keluaran terbaru Neil Fashion membuat suaminya itu terlihat sangat bapak-bapak sekali.
"Skala sayang, sepertinya kamu harus kembali rutin pergi ke gym, lihat perutmu itu! seperti wanita yang sedang hamil empat bulan," cibir Bianca.
Skala hanya memincingkan mata, tak ingin terpancing dengan ledekan istrinya. Pria itu sadar, piranhanya pasti masih dendam karena kalah bersaing dengannya. Dua bulan yang lalu Skala berhasil menyabet penghargaan di bidang ekonomi yang cukup bergengsi, mengalahkan istrinya sendiri yang juga masuk ke dalam nominasi.
"Aku akan membuat perutku six pack lagi dalam waktu dua bulan, lihat saja nanti!"
"Oh ... iyakah? bisakah?"
Berjalan mendekat ke arah pintu dimana Skala berdiri tak jauh dari sana, Bianca dengan sengaja memukul perut suaminya. Wanita itu tertawa lantas mendaratkan sebuah ciuman di pipi Skala. "Ayo ke rumah kakek setelah aku selesai yoga untuk menjemput Rain!" bisik Bianca.
Tak semudah yang Bianca pikir untuk lari dari Skala, pria itu mencekal tangannya, menangkup pipinya dengan tiba-tiba lantas berkata, "Biarkan Rain lebih lama menginap di tempat kakek, malam ini aku ingin memberimu pelajaran."
"Pelajaran apa lagi? aku sudah fasih menjinakkan Anaconda milikmu, aku bahkan bisa membuatnya menyemburkan bisa berkali-kali."
"Cacamarica...!"
Skala menghentakkan kakinya manja, sementara Bianca hanya tertawa dan berlalu pergi dari markasnya. Ia sudah terlambat beberapa menit, teman satu gengnya pasti sudah menunggu, meskipun acara yoga itu diadakan di rumah bu Dewan yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya.
_
__ADS_1
_
_
Berjalan cepat karena mengira bahwa dirinya terlambat, Bianca bernapas lega melihat anggota gengnya masih mengobrol santai. Sang pelatih nampaknya juga datang terlambat ke sana.
Menyapa ramah seperti biasa, Bianca lantas menanyakan perihal acara pertunangan Dewa yang akan dilaksanakan satu minggu lagi.
"Hem ... seragam kita juga sudah hampir selesai, jangan lupa bawa suami kalian untuk mencobanya besok di butik Stefano," ucap bu Dewan yang akhirnya lega karena sang putra akan segera menapaki lembaran baru dalam hidupnya.
Bu Dewan sempat takut kalau-kalau Dewa memiliki penyimpangan selera. Bagaimana tidak? setelah putus dengan Kimi saudara tiri tetangganya, anaknya itu sama sekali tidak pernah membawa gadis ke rumah untuk dikenalkan kepadanya.
"Apa Mina tidak ikut, dimana Felisya?" tanya bu Erin ke Bianca.
"Mina pasti sedang sibuk dengan baby twins nya, dan Felisya mungkin masih mengurus bayi besarnya."
"Lihat saja sendiri bu," jawab Bianca sambil menekuk kedua lengannya di depan dada. Ditatapnya Skala yang sudah berganti baju olah raga dan berjalan mendekat ke arah rumah bu Dewan.
Langsung duduk di salah satu karpet yoga, tingkah Skala membuat sang istri bingung, apalagi ibu-ibu lainnya. Namun, tak lama berselang. Pak Hamish dan Pak Rhoma juga datang.
"Lho ... Papa mau apa?" tanya bu Erin ke suaminya.
"Mau ikut yoga lah, masa mau cari mama muda."
__ADS_1
Jawaban Pak Rhoma langsung dibalas dengan cibiran dari Bu Erin, Ia tahu tulang dan sendi suaminya perlu diperbaiki, saat menunggang kuda saja Pak Rhoma sudah sering kepayahan, tak sekuat dulu lagi.
Akhirnya acara yoga itu dimulai setelah sang pelatih datang, tak bisa berkonsentrasi. Bianca beberapa kali harus membetulkan gerakan suaminya yang sepertinya datang hanya untuk mengacaukan kosentrasinya. Dan benar saja Skala kembali berulah-
"Kok seperti ada bau kabel terbakar," ucapnya.
Bianca yang sudah kehilangan kosentrasi pun menjadi panik, begitu juga Bu Erin yang tanpa sengaja mendengar omongan papa Rain itu, keduanya pun mendengkus mencari bau yang Skala maksud. Bu Erin langsung menutup hidungnya, sementara muka Bianca berubah kesal. Dipukulnya lengan Skala berulang-ulang sambil menggerutu.
"Kurang ajar kamu buang angin, iya kan?"
Bukannya merasa bersalah, Skala malah terkekeh geli, membuat Bianca semakin emosi.
Salah siapa tak mengizinkan aku pergi reuni?
_
_
_
_
_
__ADS_1
Like
dan Komen aja 🤗