
Bianca terpaksa harus mandi dua kali demi membujuk suaminya yang keras kepala. Setidaknya, Skala sedikit waras ketika jatah si anaconda sudah tersalurkan.
Tidak hanya mandi dua kali, Bianca juga mengundur pertemuannya dengan Aiden karena kelakuan Skala yang kekanak-kanakan dan tidak mau ditinggal di hari Minggu. Beruntung wakil presiden direktur The Beauty Magazine itu mau mengerti dengan alasan bohong yang Bianca berikan. Aiden bersedia mengundur pertemuan mereka beberapa jam ke depan.
Tersenyum puas, Skala bergelayut manja di bahu sang istri selagi menyantap sarapan di dalam markas. Entah mengapa ia sangat berat ditinggal pergi oleh Bianca. Walaupun sang istri sudah berjanji akan kembali ke rumah kurang dari tiga jam.
"Bolehkan aku ikut? Aku takut kamu merindukanku." Skala memasukan potongan buah ke mulut Bianca. Gadis itu mengunyahnya pelan sambil melirik suaminya.
"Jangan aneh-aneh, Ska! Kehadiran duo Julid saja sudah membuatku pusing tujuh keliling. Bagaimana kalau ditambahin kamu? Yang ada aku gak jadi meeting tapi malah sibuk ngurusin suami aku yang cemburuan ini." Bianca mencubit pipi Skala gemas dan tertawa.
"Jangan pergi! sepertinya aku sedang tidak ingin dipisahin sama little peanut kita." Skala merajuk seperti bayi. Mengelus permukaan perut Bianca yang sudah terlihat sedikit membuncit.
"Berangkatnya nanti aja jam sepuluh, yah! yah!" rayu Skala penuh harap.
"Yang tadi kan udah dibatalin, sekarang sudah janji jam sembilan, aku tidak mungkin mengulur waktu untuk kedua kali, bukankah kamu tahu pengusaha harus tepat waktu," sanggah Bianca.
"Kamu tega!" tukas Skala sambil mengerucutkan bibirnya. "Sungguh teganya dirimu teganya teganya."
Bianca menatap suaminya dengan mimik wajah kesal, ia lantas menekan hidung Skala kuat-kuat sampai pria itu nyaris kehabisan napas.
"Kamu kenapa sih? hari ini aneh banget. Aku sudah turutin mau kamu, tapi kamu masih aja bikin alasan macam-macam buat nahan aku pergi."
"Sebenarnya aku takut." Raut wajah Skala berubah sedih, laki-laki itu menjatuhkan wajahnya di atas pangkuan Bianca, tengkurap seperti bayi.
"Hah!" Bianca melongo heran. "Takut apalagi papa peanut? Ini masih pagi hari, setan juga masih tidur," kelakar Bianca jenaka.
Ia mengelus punggung Skala lalu mengecup puncak kepala belahan jiwanya itu sebanyak dua kali.
"Bukan takut hantu, tapi aku takut kamu kecantol berondong jagung itu, gimana kalau dia naksir kamu?"
Bianca menggeram seraya mengepalkan tangannya sebal. "Bagus kalau dia naksir aku, siap-siap kita tidur sekamar bertiga," ketus Bianca terkesan jutek.
"Kamu mau poliandri?"
__ADS_1
Skala mendudukkan tubuhnya kembali. Matanya tajam menatap Bianca. Ia begitu serius menanggapi colotehan yang jelas hanya candaan dari sang istri.
"Ya engga, lah!" Bianca menepuk bahu Skala.
"Hubungan aku sama dia murni soal kerjaan. Sekalipun dia seganteng Han Ji Pyeong, aku tetep akan milih kamu, jadi jangan mikirin hal gila yang tidak jelas seperti itu," imbuh Bianca.
Gadis itu lantas melirik jam di dinding. Sudah jam delapan lewat. Ia harus segera melepaskan belenggu cucu kesayangan Prawira itu atau acara pertemuannya dengan Aiden akan gagal total.
"Janji ya! jangan macam-macam," ancam Skala sambil masih sibuk bermanja-manja ria.
"Gak mungkin, Ska. Ada Duo Julid yang ngawasin aku. Mulut mereka terlalu ember untuk berpihak padaku."
"Jadi, jika mereka mau diajak bekerja sama, kamu akan macam-macam gitu?" pungkas Skala, dadanya naik turun menahan sebal yang bersarang di otak posesifnya.
"Itu tidak akan terjadi. Aku hanya milikmu, cuma kamu, Skala Prawira."
"Baiklah, Jangan lama-lama perginya!" Akhirnya Skala luluh juga.
Tersenyum hangat, Bianca menjatuhkan satu kecupan mesra di bibir Skala. Menyesapnya dengan lembut sambil sesekali menggelitik rongga mulut suaminya. Skala yang merasa tidak tahan langsung melepaskan tautan bibir mereka.
"Maaf! Aku terlalu terbawa suasana," ucap Bianca seraya meraih tasnya di atas meja.
"Aku berangkat dulu ya, jangan pergi ke mana-mana sebelum aku pulang. Mandi yang bersih, malu sama muka ganteng kamu." Bianca mentowel dagu Skala gemas.
"Aku tidak akan mandi sampai kamu pulang. Aku akan menunggu kamu datang dan kita mandi bersama." Skala bangkit dari posisi duduknya.
"Terserah, yang penting kamu senang." Bianca menggandeng lengan Skala, bergelayut manja ke laki-laki kesayangannya.
"Memang harus terserah aku. Akulah rajanya," ucap Skala bangga. "Ayo ku antar sampai depan, sekalian aku ingin memberi wejangan pada Julian dan Lydia agar mengawasi kamu tanpa mengedipkan mata. Aku tidak ingin mendengar cerita istriku tergoda oleh berondong jagung."
"Dasar!"
Bianca menggelengkan kepalanya heran. Demi apapun, ia sama sekali tidak mungkin akan tertarik pada Aiden meskipun brondong manis itu menggodanya karena jelas hatinya hanya milik Skala. Namun bukan Skala namanya jika tidak bersikap semaunya.
__ADS_1
_
_
_
_
_
_
_
_
Otor : ku Crazy up terus, maaf kalau masih Ada typo ku edit pelan-pelan yes, hot-hot pop nya lepas tanggal 3 oke
Reader : Jangan sampai oleng, jangan lupa makan biar kuat menghadapi kenyataan
Otor : Kalian juga ya
Reader :
...LIKE...
...KOMEN yang banyak...
...VOTE...
...ADD FAVORITE...
__ADS_1
...makacih 🥰...