Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Rencana Penjajahan


__ADS_3

"Aku akan menyiapkan sesuatu yang spesial untuk meluluhkan Skala."


Masih di rumah Bu Dewan dan anggota geng sultini blok kamboja terus membahas rencana penyelamatan diri dari hukuman yang diberikan suami mereka.


"Tapi sepertinya percuma Bi, bapak-bapak itu sudah bersepakat, mereka punya grup chat sama seperti kita juga lho," ucap Bu Eli malas.


"Pokoknya kita harus kompak, tidak boleh ada yang mementingkan diri sendiri, lagi pula kita bertengkar kan karena membela satu sama lain? sudah saatnya kita menunjukkan kekompakan ke suami kita." Bu Erin menyulut semangat pemberontakan, mungkin di kehidupannya yang dulu ia adalah seorang pejuang kemerdekaan, semangatnya untuk lolos dari jeratan aturan benar-benar menggebu-gebu.


"Jangan mau dijajah oleh suami kita. Mari kita bergerak untuk menjajah mereka!" Bu Dewan yang sudah tersulut perkataan Bu Erin langsung berdiri, mengangkat tangannya dengan telapak terkepal tinggi-tinggi karena begitu bersemangat.


"Bagaimana caranya?" Felisya membuyarkan semangat Bu Dewan yang jelas memang belum menemukan solusi atas skorsing ini.


Saat mereka masih berdebat, Bu Hana yang sudah bertobat masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam. "Kalian itu berdosa banget!"


Ucapan Bu Hana membuat Bu Dewan langsung duduk kembali. Ibunda Dewa itu sadar dirinya pasti akan kalah jika harus berdebat dengan temannya yang bernama lengkap Rohana itu.


"Aku akan menjajah Skala malam ini—," Bianca menatap tajam Bu Hana sebelum melanjutkan kalimatnya. "Menjajahnya di atas ranjang."


Senyuman maut Bianca terbit dari bibir. "Aku akan melakukan apa yang Feli usulkan tadi, aku akan mengeluarkan jurus serangan malam jumat."


Menaikkan turunkan alis matanya, Bianca mendapat respon berupa dua acungan jempol dari Bu Hana. Wanita itu setuju jika cara melepaskan diri dari hukuman adalah dengan menyenangkan suami.


"Intinya kalian tidak boleh solimin ke para suami, berdosa!" Tegas Bu Hana.


"Lalu bagaimana dengan aku? Si Dewan lembur, bukankah kalau dia masih tidak setuju mencabut skorsing kita usaha kalian juga kemungkinan akan sia-sia," ucap Bu Dewan khawatir.


"Ibu bisa melakukan serangan fajar."


Jawaban Felisya langsung mendapatkan tepuk tangan dari anggota geng yang lain. Istri Tama itu benar-benar cerdas. Sebelas dua belas dengan para reader mesumable.


***


"Anda tidak pulang Pak?"


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore saat Beni bertanya kepada atasannya. Namun, belum sempat pertanyaan Beni dijawab oleh Skala, suara ketukan pintu terdengar menggema. Tama yang juga berkantor di PG group terlihat masuk ke dalam tanpa permisi.

__ADS_1


"Apa kamu akan pulang?" tanyanya tiba-tiba.


Skala menatap secara bergantian sang sekretaris dan Tama yang status kekeluargaan dengannya masih samar, ia bingung lebih baik menyebut suami mantan kekasihnya itu kakak ipar atau kakak sepupu.


"Kenapa pertanyaan kalian bisa sama seperti itu? apa kalian soulmate?" Skala menyandarkan punggungnya setelah mencibir, lalu meminta Beni meninggalkannya bersama Tama di ruang kerjanya.


"Kamu bisa pulang wahai botak botil."


Beni bersungut kesal, Ia memang sengaja membotaki kepalanya lagi saat istrinya melahirkan. Padahal rambutnya juga sudah mulai tumbuh, tapi Skala masih saja memanggilnya dengan sebutan botak botil, entah kosa kata darimana yang digunakan atasannya itu, yang pasti Beni tidak suka.


Ruangan itu hening untuk beberapa menit setelah Beni pergi. Tama memilih menyandarkan punggungnya di sofa, kepalanya mendongak ke atas. Laki-laki itu sedang memikirkan alasan sebenarnya kenapa Felisya sampai bertindak bar-bar. Ia tahu betul, istrinya tidak mungkin berbuat hal sekonyol itu jika masalahnya sepele.


Sama halnya dengan Tama, Skala juga terlihat berpikir, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Bianca juga tidak mau memberi tahu alasan perkelahian di arena Zumba itu kepadanya kemarin.


"Pasti Felisya."


"Pasti Bianca."


Dua papa muda itu berbicara hampir bersamaan. Tanpa memberi tahu apa yang mereka maksud, keduanya seolah paham apa yang tengah berada di pikiran satu sama lain. Skala menyalahkan mantan kekasihnya, sementara Tama menyalahkan adiknya karena perkelahian yang sampai masuk berita itu.


"Ah ... tidak mungkin."


"Ah ... tidak mungkin."


"Apa sih loe?"


"Apa sih loe?"


Skala semakin terperanga, sedangkan Tama seketika membungkam mulutnya dengan telapak tangannya. Untuk sesaat mereka terdiam kembali, memikirkan rencana bapak-bapak di group chat wolf geng yang menginginkan mereka kompak melakukan 3M.


"Ini malam jumat."


"Ini malam jumat."


"Aku tidak bisa."

__ADS_1


"Aku tidak bisa."


Ciye Soulmate, begitu setan mesum di dalam hati mereka berbicara untuk menyulut pertengkaran di antara keduanya. Tama seketika berdiri sambil menyambar vas bunga di meja sofa, begitu juga Skala yang langsung meraih papan kaca bertuliskan nama dan jabatannya.


"Dasar Seketek!"


"Dasar Tamia!"


"Diam loe!"


"Diam loe!"


Mendengkus kesal, keduanya memilih kembali duduk. Dari pada jijik karena seolah memiliki ikatan batin yang kuat, Skala dan Tama memutuskan berkomunikasi dengan cara mengirimkan pesan satu sama lain via aplikasi chat di ponsel mereka.


_


_


_


_


_


_


_


...LIKE...


...KOMEN...


...Bagi kembang aja biar aku bahagia 🥰 ga usah vote. percuma di vote ga akan masuk rank juga....


...caranya update dulu aplikasi kalian, terus klik detail novel Na...

__ADS_1


...makasih...



__ADS_2