Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Kan Malu


__ADS_3

Katakan pada Skala dan Bianca jika kamu bertemu mereka bahwa aku menyukai Bu Erin, kalau bisa lebih-lebihkan ceritanya agar mereka terperdaya.


Radit mengingat tugas dari Tuannya semalam, Ia tak menyangka pekerjaan sebagai sekretaris sekaligus bodyguard Prawira mengharuskannya berbohong juga.


Radit berjalan ke arah rumah bu Erin dengan seikat bunga mawar merah, laki-laki itu memijat pelipisnya, Ia ragu untuk melewati pagar rumah bu Erin. Saat tangannya akan menekan bel pagar, sebuah sapaan terdengar dari arah belakang.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


Bu Erin mengintip dari jendela sambil tertawa, wanita itu sengaja meminta Bianca datang ke rumahnya dengan alasan ingin memberikan makanan tapi tidak ada yang bisa mengantar, jadi Bianca harus mengambilnya sendiri. Tak disangka semuanya telah direncanakan sebelumnya.


Radit glagapan, Ia langsung menunduk—kesal. Radit sadar bahwa ini pasti sudah diatur oleh Prawira.


"Sa—ya ... "


Radit terkejut karena Bianca langsung menyambar bunga dari tangannya, wajah gadis itu memerah menahan marahnya yang tiba-tiba naik sampai ke ubun kepala.


"Sana pulang!" Perintahnya bak emak-emak yang tengah memarahi sang anak.


Radit pun berjalan menjauh. Namun, seketika berbalik mengingat pesan Prawira. Ia kaget karena Bianca ternyata masih berdiri sambil memelototi dirinya.


"Itu bunga untuk bu Erin Nona ... " ucap Radit ragu, "Tuan Prawira ... "


"Ish pergi sana!" Bianca mengangkat bunga itu tinggi-tinggi seolah ingin melemparnya ke arah Radit. Mulutnya sudah tertekuk kesana kemari memarahi sekretaris kakeknya itu.


"Tuan menyukai Bu Erin," ucap Radit lantang setelah ingat harus menyampaikan informasi yang diperintahkan Prawira kemarin.


Bianca semakin kesal, Ia sampai maju beberapa langkah untuk menghardik Radit. Laki-laki itupun langsung mempercepat langkahnya, Ia tahu bahwa ibu hamil di depannya begitu galak.


Melihat tetangganya emosi jiwa, Bu Erin segera keluar. Dengan akting yang begitu natural, ibunda si kembar itu bertanya untuk siapa bunga yang ada di tangan Bianca sambil memberikan makanan yang dia janjikan tadi.


Masih tidak sadar bahwa tengah dikerjai, Bianca berkata bahwa bunga itu untuk Skala, karena tak ingin terlibat percakapan yang lebih lama dengan bu Erin, Bianca langsung pamit untuk pulang ke rumah. Ia benar-benar merasa aneh karena sang kakek menyukai teman satu gengnya.


***


Masuk ke dalam markas sambil masih membawa bunga yang dirampasnya dari Radit, Bianca sukses membuat Skala heran. Apalagi wajahnya yang cemberut, membuat sang suami sudah bisa menebak pasti ada yang membuat sang istri kesal.


"Ca, jangan sering marah nanti darah tinggi lho."


Ledekan Skala malah semakin membuat Bianca meradang, Ia mendekat ke arah suaminya yang baru selesai mandi, memukulkan bunga mawar merah di tangannya ke lengan Skala.


"Kakekmu menyebalkan, dia benar-benar memalukan," omel Bianca yang langsung duduk di atas ranjang.

__ADS_1


"Ada apa lagi hem?"


Skala mendekat, berdiri di depan Bianca untuk menenangkan istrinya yang berada di mode childish—kekanakan. Diusapnya rambut gadis itu agar emosinya sedikit mereda.


"Kakekmu sudah berani menunjukkan rasa sukanya ke Bu Erin, dia meminta Radit mengantarkan bunga ke rumahnya, bayangkan jika pak Rhoma tahu"


"Pak Rhoma sedang pergi," beber Skala yang tentu saja tak asal ucap karena dia tahu suami Bu Erin itu memang sedang ke luar kota. Skala mendapat info aktifitas seluruh bapak-bapak komplek dari group chat Wolf geng.


"Dari mana kamu tahu?"


Bianca menatap wajah Skala yang terlihat segar karena baru selesai mandi, Ia langsung memeluk pinggang suaminya itu, menghirup aroma harum dari kulit Skala yang menggoda.


"Dari mana lagi? group lah."


"Ayo kita temui madam Zi, aku tidak ingin kakek terjerumus dalam masalah asmara terlarang," cicit Bianca yang sangat merasa nyaman menciumi permukaan kulit suaminya.


"Hem ... kenapa kamu jadi yang pusing, bukankah ada Tama dan Felisya, biar mereka saja yang mengurusnya."


"Apa Tama mau? bukankah dia bilang dia bukan anak kandung om Maher, dia bukan cucu kakek."


Bianca menjauhkan wajahnya agar bisa memandang wajah Skala, entah kenapa wajah suaminya itu menjadi begitu tampan di matanya. Sesuatu di dalam hati gadis itu meronta-ronta.


"Kenapa? Ada apa?"


"Kamu ganteng banget sih," puji Bianca.


"Kan sudah dari dulu, baru sadar?" goda Skala yang mendapat cubitan gemas di perut dari sang istri.


"Eh ... " Bianca memegangi perutnya seperti pagi tadi.


"Apa dia menendang lagi?" Skala antusias, sepertinya dia perlu disakiti Bianca lebih dulu baru setelahnya little peanut akan menendang.


"Hem, dia bilang ingin dijenguk papanya, gimana donk?" Bianca memajukan bibirnya sambil berucap manja.


"Ish ... bilang aja kamu pengen, pakai alasan," cibir Skala.


Bianca hanya tertawa lalu kembali melingkarkan tangannya untuk memeluk pinggang Skala, " Ya kan malu kalau minta langsung Ska!"



__ADS_1














Reader : Yah gantung kek jemuran


Otor : Aku minta Like 2.000 dulu , liat aku



...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...


...RATE BINTANG 5...


...❤...

__ADS_1


__ADS_2