Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Illegal Logging


__ADS_3

"Tapi, saya mau diapain?"


Skala kebingungan, wanita hamil memang aneh, dia pikir hanya Bianca yang berubah saat sedang mengandung, ternyata Ia punya teman. Setidaknya ada Chandra yang bernasip sama.


"Iya, sebenarnya mau kamu apain dia?" tanya Chandra yang tak enak hati ke Bianca.


Bagi pria dewasa sepertinya pertarungan dua wanita itu dirasa tak ada manfaat dan faedahnya. Menang jadi arang, kalah jadi abu, sama-sama bikin malu.


"Apaan sih, Bang. Aku gak bakalan ngapa-ngapain, kok. Aku cuma mau pegang jakun dia. Jakunnya keren. Aku suka dan pengen pegang sebentar," jelas Litania tanpa rasa bersalah.


"Apa-apaan ini?" Bianca tampak tak terima. "Kamu mau pegang-pegang suami orang?"


"Lah, kok apa-apaan? sesuai perjanjian. Lagian suami kamu gak bakalan aku cincang, kok. Aku cuma mau usap jakun dia selama lima menit." Litania menjeda katanya sebentar. Matanya menyipit tajam. "Gak boleh? Tapi perjanjiannya tadi gimana? Semua orang di sini denger, loh. Kamu setuju buat minjemin suami kamu."


Sebuah jawaban yang berefek pada wajah Bianca khususnya Skala. Pria itu menghela napas, tak terima jadi tumbal dua ibu hamil itu, tapi bagaimanapun perjanjian tetaplah perjanjian, apalagi ucapan sombong Bianca itu telah didengar oleh banyak orang yang ada di sana. Mau tak mau Skala harus menerima konsekwensi atas kesepakatan istrinya.


"Bagaimana? bisa ikut saya sebentar?" pinta Litania lagi, terdengar ramah, tak seperti saat berhadapan dengan Bianca.


Mendesah panjang Skala mengikuti langkah Litania menuju sebuah bangku yang ada di baby shop itu. Cucu kesayangan Prawira itu pasrah saat Litania menyuruhnya mendongak dan membiarkan gadis itu menatap dan sesekali membelai jakunnya.


Chandra dan Bianca hanya bisa berdiri mematung dari kejauhan. Chandra merasa tak enak hati, sedangkan Bianca sudah kesal setengah mati karena Skala yang malah tertawa saat Litania mengusap jakunnya, padahal laki-laki itu kegelian.


"Maaf, Bianca. Aku harap kamu tidak marah pada istriku. Dia memang kekanakan, ditambah selama hamil ini dia memang suka melihat jakun orang yang menurutnya tampan."


Bianca terdiam, tangannya mengepal. Dadanya bergemuruh bagaikan bebatuan dari atas bukit yang longsor.


"Awas kamu Ska, dasar badak Afrika!" gumamnya.


***


Bianca masih terlihat kesal karena pertemuan dan kesepakatan konyolnya dengan Litania. Sepanjang perjalanan pulang dari pusat perbelanjaan, Ia hanya terdiam menatap keluar jendela. Tanpa ingin melihat atau berbicara kepada Skala yang duduk di sampingnya. Julian dan Lydia pun dibuat bingung dengan apa yang terjadi di antara dua majikannya itu.


Bianca terlihat tidak antusias lagi melihat belanjaannya yang sudah tertata rapi di bagasi mobil. Gadis itu langsung turun kemudian masuk ke dalam rumah. Aneh bagi Skala, padahal istrinya lah yang menyebabkan dia diperlakukan seperti itu oleh Litania kenapa malah sekarang dia terkena dampaknya.


Masuk ke dalam markasnya, Bianca langsung mengganti baju. Dia yang tak biasanya menonton televisi tiba-tiba langsung duduk di atas ranjang dan menyalakan benda elektronik berbentuk persegi panjang itu, parahnya mama peanut menonton sinetron ajab ajib di stasiun lumba-lumba terbang yang Skala tahu sama sekali bukan seleranya.


Skala sadar Bianca tengah kesal dan marah, ia memilih diam dan berpikir sejenak sambil memandangi wajah bersungut gadis itu, karena bagaimanapun hal yang menimpanya tadi bukanlah kesalahannya.


"Ca, masa kamu marah? bukankah kesepakatan tadi kamu yang buat sendiri? lalu kenapa sekarang kamu malah marah padaku? aku melakukannya juga demi menjaga harga dirimu lho."


Bianca hanya terdiam dia tidak bisa membalas ucapan Skala karena sadar yang diucapkan suaminya itu sepenuhnya benar. Sejujurnya Bianca merasa cemburu karena ada seorang wanita yang berani menyentuh laki-laki yang dicintainya. Gadis itu tiba-tiba saja menangis, menghentak-hentakkan betis kakinya ke ranjang seperti anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang diinginkan.


"Aku kesal, aku tidak suka ada perempuan lain menyentuhmu," ucapnya sambil menutup mukanya dengan bantal.

__ADS_1


Skala pun tersenyum melihat kelakuan sang istri yang begitu lucu di matanya, laki-laki itu lantas mendekat dan memeluk Bianca yang sedang terbakar api cemburu, menyandarkan kepala belahan jiwanya itu ke pundak.


"Makanya kalau mau ngapa-ngapain itu dipikir dulu, jangan asal! lagipula stroller seperti tadi aku bisa membelikannya tak hanya satu, kalau kamu mau saham atau pabriknya, aku dengan senang hati akan membelikannya untukmu." Sebuah kecupan sayang mendarat di rambut Bianca.


"Iya aku tahu aku salah, itu karena aku tidak suka dengan istrinya Chandra. Bocah itu benar-benar menjengkelkan, bisa-bisanya meminta elus-elus jakun kamu."


Bianca menatap wajah Skala dengan tatapan iba, dielusnya jakun suaminya yang tadi tempat dipegang-pegang oleh Litania, dia usap-usap seolah ingin menghapus jejak jemari Litan di sana.


"Sudah, sekarang sudah ga kan?" Skala mengusap lengan Bianca, beruntung durasi marah istrinya itu tak berlangsung lama. Ini hari libur, jadi saatnya mereka bermesraan dan saling bermanja-manja.


"Sedikit, aku masih belum bisa menerima kekalahanku begitu saja," cicit Bianca.


"Em … aku tahu kekalahan apa yang membuatmu dengan senang hati menerimanya," goda Skala.


"Apa?"


"Kekalahan di atas ranjang saat bertarung dengan ku."


Bianca mencubit sisi perut Skala gemas, bisa-bisanya menggoda dengan sesuatu yang berbau mesum seperti itu di saat rasa kesalnya belum sepenuhnya hilang, pipinya menjadi merah merona menahan malu mendengar ucapan sang suami.


Tak lama, Bibir Skala sudah mulai bergerilya menciumi pipi istrinya. Turun ke pundak lalu diusapnya little peanut yang semakin sempurna berkembang dan tumbuh di perut Bianca. Skala langsung menyambar Bibir wanitanya, mengajak Bianca untuk bersama menikmati pemanasan sebelum seperti biasa, melakukan ritual pelepasan kecebong dari pabriknya.


Semakin panas, Skala membuka bajunya dan tak lupa milik Bianca yang sekarang sudah berada di atas pangkuannya sambil menyesap bibirnya—enggan melepaskan.


"Kenapa?" tanya Skala heran.


"Aku yang seharusnya tanya, kenapa hutan Amazon milikmu habis? Siapa yang melakukan illegal logging kepadanya?"


Skala menatap miliknya lalu tertawa, "aku sendiri yang membabatnya habis tadi pagi."


Wajah Bianca berubah kesal, bibirnya tertekuk dengan raut muka seperti orang yang ingin menangis. Skala pun menjadi bingung melihat perubahan sikap istrinya.


"Aku ga suka hutan gundul," ucap Bianca sambil memandang anaconda yang sudah tegak berdiri dan kehilangan habitatnya.


"Yah ... Yah maksudnya gimana nih?" Skala kebingungan menghadapi ucapan nyleneh istrinya.


"Kenapa kamu merusak hutan kesayanganku?".


Eh sejak kapan kamu menyayangi dia? Skala semakin bingung.


"Balikin!" Sebuah titah konyol lolos dari bibir Bianca.


"Lha Ca, emang rambut kepala bisa di extension, disambung lagi." Skala mlongo tak percaya saat Bianca menekuk bibirnya seperti ingin menangis.

__ADS_1


Ini ibu hamil kenapa jadi gini sih?


"Skala aku ga suka!" oceh Bianca.
















...guys siapa hayo yang kesel sama Litania? Astaga kalian Fans Bianca garis keras ya? 🤣 uluh berarti sukses ya otor Istri Barbar Tuan Chandra membuat kalian gemas, ini cuma novel guys jangan serius-serius....


...kalian mau kena illegal logging??? lhaaaaa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...

__ADS_1


...RATE BINTANG 5...


__ADS_2