
“Ada Apa?”
Skala mengintip sedikit dari balik pintu, sementara Bianca yang sudah polos memilih untuk meringkuk menutup seluruh badannya dengan selimut. Baru saja keduanya meng-unboxing seluruh pakaian mereka dan sebuah ketukan pintu membuyarkan rencana mereka hiya-hiya.
“Maaf Pak, ini beberapa dokumen yang Ibu minta untuk diprintkan tadi.”
“Apa tidak bisa kamu berikan ini besok pagi saja?” Skala menerimanya dengan tangan kiri karena tidak mungkin ia menampakkan wujudnya yang hanya mengenakan boxer ke Bayu.
“Tapi Ibu tadi berpesan sampai hotel harus langsung saya berikan. Anda tahu sendiri kan Pak? Jika tidak bisa-bisa saya kena marah.” Bayu mencurahkan isi hatinya.
“Dia akan lebih marah karena kamu benar-benar sedang mengganggu sekarang,” gumam Skala.
“Maaf … maksud bapak?”
Bayu pun kebingungan dengan ucapan Skala.Namun, secepat kilat papa peanut itu meminta sekretaris sang istri untuk pergi.
Meletakkan lembaran kertas yang diberikan Bayu ke atas meja kopi, Skala lantas mendekat ke arah Bianca. Tentu saja Ia ingin melanjutkan apa yang sudah mereka rencanakan tadi, tapi sayang saat Skala menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya, Bianca terlihat sudah memejamkan mata.
Skala yang tak ingin mengganggu belahan jiwanya itu hanya bisa menghela napas pasrah bercampur kecewa. Ia berpikir Bianca pasti sangat lelah sampai kurang dari lima menit sudah tertidur pulas.
“Aku tidak mungkin bisa tidur kalau melihatnya polos seperti ini,” gerutu Skala yang sudah berbaring di samping istrinya.
“Caca … cacamarica, main yuk!” Skala terbahak dengan apa yang dia ucapkan sendiri. Sementara, Bianca masih saja tak merespon, cucu kesayangan Prawira itu memilih untuk masuk ke dalam selimut dan menciumi bagian punggung istrinya, diusap-usapnya lengan mulus Bianca.
“Ska …”
Skala yang mendengar suara Bianca seketika menggeser tubuhnya, membiarkan gadis itu berbalik ke arahnya.
__ADS_1
“Aku kira kamu sudah tidur.”
Skala hampir menempelkan bibirnya untuk memulai aksi, tapi Bianca langsung menghentikan laki-laki itu dengan cara meletakkan telunjuk di depan bibir. Bianca tiba-tiba mengucapkan kata maaf lalu berbicara banyak, tentang dirinya yang marah kemudian meninggalkan Skala begitu saja tadi.
“Kenapa jadi sedih gini sih?” Skala merapikan helaian rambut yang menutupi sedikit bagian wajah sang istri, dikecupnya kening Bianca berkali-kali.
“Maaf ya Ska, seharusnya aku ga kayak tadi, aku benar-benar bukan istri yang baik kan? Aku jadi berpikir apakah aku bisa jadi ibu yang baik buat anak kita.” Bianca pun menangis, untuk beberapa saat Skala mencoba mengingat terakhir kali istrinya menjadi lembek bagai jelly seperti ini adalah saat dia pulang setelah peristiwa pengeroyokan dirinya.
“Sepertinya akulah yang salah, aku masih seperti kurang memahami dirimu. Maafin papa ya mama.”
Skala meringsek sedikit kebawah agar bisa menciumi dan mengusap perut istriya, ia pun membisikkan kata maaf, seolah berbicara dengan anaknya. Laki-laki itu sedang melakukan apa yang sang istri pesankan kepadanya beberapa hari yang lalu.
“Besok bantu mama ya, jangan bikin mama sakit terlalu lama!”
Bianca malah semakin terisak mendengar ucapan Skala, ia sadar bahwa suaminya itu tengah mengalah. Menyingkirkan ego, membiarkan dirinya menang dengan pilihannya.
Terkadang ego masih sering muncul di sela perdebatan yang terjadi di antara hubungan suami istri, tapi sejatinya hal itu merupakan sebuah pembelajaran di dalam mahligai rumah tangga. Menyadari hal itu, Skala dan Bianca pun berjanji, mereka tidak akan bertengkar lebih dari satu kali dua puluh empat jam.
***
Melanjutkan apa yang sudah mereka mulai tadi, perlahan Skala menghapus air mata di pipi Bianca. Memberikan kecupan manis di bibir gadis itu. Tak perlu melucuti pakaian mereka karena keduanya sudah melakukan unboxing sebelum Bayu mengganggu tadi.
Sebuah hisapan dan gigitan lembut Skala berikan di ceruk leher Bianca. Sensasi bermesraan setelah bertengkar memang tiada duanya. Jomblo tahu apa?
Skala sudah tak berani lagi menghisap asupan gizinya yang berada di bukit setelah dilarang oleh Bianca, ia pun takut jika melanggar bisa-bisa ketagihan dan berebut dengan little peanut saat anaknya itu sudah lahir. Sungguh Skala sadar, asupan gizi yang satu itu tidak dijual di toko-toko terdekat dalam bentuk ekstrak atau formula.
Bianca menggeliat, merasakan hal yang sama setiap Skala menyentuhnya. Ada sesuatu yang mendesir di dalam aliran darahnya. Ia hanya bisa memejamkan mata, sesekali meracau memanggil nama Skala dengan kepala yang menengadah. CEO PG Factory itu mendapatkan apa yang dia inginkan, Bianca meronta di bawah kendalinya.
__ADS_1
Merasa tak nyaman, mereka merubah posisi menyamping. Anaconda menyatukan diri dengan Piranha dengan sekali dorongan dari pintu belakang. Erangan halus keluar dari Bibir Skala. Sementara Bianca yang terbuai dengan perlakuan suaminya sesekali meremas sprei ranjang.
-
-
-
-
-
-
Otor : Aku terlalu mesum ga sih? Aku mau tobat
...LIKE...
...KOMEN...
VOTE nya di NicNa dulu ya 18-31 January 2021
...makaasih Guys...
...ttd. Markonah yang lagi lembek kek squishy...
__ADS_1