
Saat itu juga Bianca langsung dilarikan menuju rumah sakit terdekat. Gadis itu tak hentinya mengaduh seraya memegangi bagian perutnya—kesakitan. Ambulance yang berbunyi nyaring melaju cepat dan membelah kerumunan masa yang sedang berdemo.
Bayu selaku sekertaris Bianca memanggil aparat untuk membubarkan masa, laki-laki itu lalu menjanjikan sebuah konverensi pers untuk membahas ketidaknyamanan yang meresahkan hati mereka.
Akibat kejadian itu, Bianca mengalami flek. Skala yang mendengar penjelasan dari Dokter hanya bisa menahan emosi tanpa bisa meluapkan rasa amarahnya.
"Stress dan kelelahan."
Kata-kata itu membuat Skala memegangi sisi kepalanya frustrasi. Ia merasa kurang baik dalam menjaga istri dan calon bayinya.
Sebenarnya inilah yang Skala cemaskan dari kondisi Bianca. Sehebat apapun manusia, tetap akan ada masa di mana dia jatuh. Skala sudah pernah merasakan itu semua karena jelas Ia lebih dulu mengecap pahit manisnya menjadi seorang pengusaha.
Masalah Bianca, tentunya Skala tidak ingin wanita yang sangat dicintainya mengalami masa sulit seperti ini. Cukup ia saja yang merasakan betapa susahnya mempertahankan eksistensi dalam dunia bisnis.
Skala harap, Bianca dapat hidup layaknya wanita normal ketimbang memburu karir sebagai pucuk pimpinan suatu perusahaan. Namun, apa yang dia harapkan tak semudah membalikkan telapak tangan. Sekeras apapun ia memohon, Bianca tetap menjadikan Niel Fashion sebagai hidup dan matinya.
"Ska, maafin aku," lirih Bianca yang baru saja sadar dari pengaruh obat bius.
Skala yang duduk di samping ranjang Bianca terlihat tersenyum sembari memegang tangan sang istri erat-erat.
"Maafin aku karena sudah bikin kamu khawatir." Mata teduh Bianca menggenang, air matanya meleleh dan jatuh ke samping bantal.
"Pasti aku kuwalat sama suami aku sendiri. Makanya perusahaanku terkena masalah seperti ini," isak tangis Bianca semakin pecah, membuat Skala tidak tega melihat hati wanitanya terluka.
"Jatuh bangun adalah suatu hal yang biasa dalam dunia bisnis. Aku yakin, Niel Fashion akan selamat dari rumor buruk itu," ucap Skala menenangkan istrinya.
"Meskipun kamu tidak mau melepas Niel Fashion dan menjadi ibu rumah tangga seperti yang aku harapkan, aku tetap tidak akan membiarkanmu jatuh seperti ini, Ca! Aku akan selalu ada di sampingmu dalam keadaan apapun."
"Terima kasih!"
Rasa sesak merundung hati Bianca saat ini, hatinya begitu terguncang. Bukan ia tak sayang pada suaminya, Bianca hanya belum mampu melepaskan setengah nyawa yang ia taruh pada perusahaan itu.
"Little Peanut, bagaimana keadaannya?" Tiba-tiba ia teringat pada setitik nyawa di dalam rahimnya. Bodoh, terlalu mementingkan urusan pribadi dan ambisi, Bianca sampai lupa bahwa ada yang lebih berharga di dalam hidupnya.
__ADS_1
"Little Peanut kita baik-baik saja. Kamu mengalami kram dan sedikit pendarahan akibat stress, dokter menyarankan agar kamu bedrest sementara, kurang lebih satu minggu."
"Tapi, bagaimana dengan perusahaanku Ska?"
"Aku dan Bayu yang akan menangani, kamu tidak perlu khawatir. Istirahat dan jagalah Little Peanut kita." Skala mengelap air mata Bianca dengan ibu jarinya. Lalu sedikit mencondongkan tubuhnya agar dapat mengecup kening Bianca.
"Terima kasih, kamu yang terbaik. Andai orang lain yang menjadi suamiku, pasti ia akan menyalahkanku atas semua kejadian ini."
"Jangan berandai menjadi istri orang lain. Aku adalah pria yang sudah ditakdirkan menjadi suamimu," tangkas Skala tidak suka.
Skala sendiri sudah paham sebesar apa cinta sang istri padanya, meskipun Bianca lebih memilih Niel Fashion, bukan berarti dia tidak penting di mata pujaan hatinya itu. Skala percaya akan keyakinannya ke gadis yang tengah mengusap perutnya sendiri itu, Bianca jelas merasa bersalah.
"Hem ... aku tidak akan lagi berandai seperti itu. Kamu suamiku yang tak akan terganti," ujar Bianca lemah.
"Jika sudah tahu seperti itu, maka biarkanlah suamimu mengurus kekacauan tidak masuk akal ini. Percayalah padaku! semua akan baik-baik saja."
"Pasti, aku percaya seratus persen padamu Ska."
Bianca melepas senyum meski hatinya berkecamuk. Ia tahu bahwa Niel Fashion sedang tidak baik-baik saja. Semua produk dari Niel Fashion di boikot untuk sementara, dan para pemegang saham memaksa untuk mencabut saham yang ada pada Niel Fashion karena kejadian ini.
Cukup kali ini, Bianca harap tidak akan ada pendarahan atau apapun yang membuat keselamatan calon anaknya terancam.
"Istrirahatlah, aku akan pulang sebentar mengambil beberapa barang. Ada Lydia dan Julian yang akan menemanimu, aku akan ikut tidur bersamamu disini," ucap Skala.
Bianca terkekeh geli, pasti akan menyenangkan menggoda suaminya dalam kondisi seperti ini. "Pasti Dokter melarang kita melakukan anu dulu kan Ska?"
Dasar Cacamarica, bisa-bisanya memikirkan anu disaat seperti ini.
"Ya ... ya, Dokter meminta kita selama satu bulan untuk tidak melepaskan kecebong didalam sarang dulu."
Skala yang pura-pura cemberut langsung memeluk Bianca yang masih terbaring di atas ranjang. Puteri Nataniel itu mengangkat dagunya, mencium pundak dan pipi suaminya berulang-ulang.
"Jangan sakit Ca, jangan terluka! aku tidak sanggup melihatmu terbaring seperti ini terlalu lama."
__ADS_1
"Hem ... , aku akan makan banyak dan minum obat tepat waktu, aku janji akan segera pulih." Bianca mencoba menenangkan sang suami.
"Aku mencintaimu," bisik Skala mesra.
_
Otor : Aku juga mencintaimu der oooo reader
Reader :
__ADS_1