Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Rain Diculik


__ADS_3

"Lihat anak papa sudah ganteng!"


Skala mengusap pipi Rain. Seperti biasa setiap pagi dia dan Bianca selalu berbagi tugas, meskipun sekarang sudah ada dua pembantu yang selama satu kali dua puluh empat jam tinggal di rumah mereka, tapi keduanya masih memilih mengurus sang putra. Apalagi Bianca bersikeras bahwa makanan yang masuk ke dalam mulut putranya haruslah masakannya sendiri.


"Hari ini aku ada rapat, jadi jemput Rain ya Pa!"


Bianca melirik ke arah Skala, sepertinya sang suami sudah menganggukkan kepala. Laki-laki itu sibuk bercanda dengan putranya. Siapa sangka Skala tak mendengar ucapan Bianca barusan.


***


Pukul tiga sore, semua murid sudah dijemput oleh orangtua masing-masing kecuali Rain. Menerapkan Standar Operasional Prosedur atau SOP, sang guru pun menelpon ke nomor Bianca. Sayang, ponsel wanita itu tertinggal di ruang kerjanya. Sementara, Ia fokus mengikuti rapat dengan koleganya di ruangan lain.


Tidak habis akal, sang guru lantas menelpon nomor Skala. Ia lega saat pria itu mengangkat dan berkata akan menjemput putranya segera.


"Rain tunggu sebentar ya, duduk di sini! Miss mau mengambil buku."


Bocah itu mengangguk dan duduk di bangku dekat pintu ruang guru. Rain mengayun-ayunkan kakinya, sementara sang guru masuk dan mengambil barang yang dia maksud tadi. Entah dari mana asalnya, Rain melihat kucing berjalan di koridor. Bocah itu melompat turun dan lantas mengikuti kucing itu sampai ke gerbang sekolah.


Rain sempat melewati pos satpam, sayangnya satpam yang tengah berada di dalamnya tidak melihat bocah itu melintas.


***


"Rain hilang, Ia tidak ada di sekolah."

__ADS_1


Bianca berlari seperti orang gila. Ia menerobos ke ruang CCTV sekolah Rain dimana Skala juga sudah berada di sana.


"Kenapa kamu tidak menjemputnya?" bentak Skala ke sang istri.


"Ska, bukankah aku sudah berkata bahwa ada rapat dan memintamu menjemputnya?"


"Kapan?"


"Saat sarapan tadi pagi!"


"Aku tidak mendengarnya Ca! Ya ampun, seharusnya kamu mengulanginya lagi, jangan mengambil kesimpulan aku sudah mendengarnya jika aku belum berkata iya."


Gemetar bercampur perasaan cemas dan merasa disalahkan, Bianca pun meneteskan air mata. Skala yang melihat tiba-tiba merasa bersalah. Ia peluk tubuh istrinya lalu meminta maaf.


"Ketemu!" seorang petugas keamanan sekolah Rain menemukan rekaman CCTV yang menunjukkan keberadaan Rain dari mulai duduk di depan ruang guru.


Baik Skala dan Bianca tidak ingin menyalahkan sang guru karena jelas anak mereka pergi mengejar seekor kucing sampai ke luar. Mereka berharap Rain baik-baik saja. Namun, Bianca tiba-tiba saja terduduk lemas, saat rekaman CCTV terakhir menunjukkan ada dua orang pria yang menggendong sang putra dan membawanya pergi dengan sepeda motor.


"Rain—Ra—in." Bianca tak bisa membendung rasa syok nya.


Skala yang masih bisa berpikir jernih bergegas meminta pihak sekolah untuk menghubungi polisi.


***

__ADS_1


Dua orang yang membawa Rain pergi ternyata adalah preman yang memang sengaja mangkal di dekat sekolah-sekolah elite. Tujuan mereka jelas, menunggu kesempatan seperti yang terjadi pada Rain saat ini.


Rain sempat meronta dan menangis karena takut, alhasil pria penculik itu memberinya minum yang dicampur dengan obat tidur. Dua orang itu pun masih menyempatkan diri pergi ke sebuah tempat prostitusi, sebelum mengacak-acak tas sekolah Rain untuk meminta tebusan, atau menjual anak itu ke sindikat penjualan organ.










...Tungguin Bonus bab selanjutnya ya 🥰...


...Terima kasih...

__ADS_1


...Jangan lupa tetap LIKE KOMEN biar aku SEMANGAT...


__ADS_2