
Bangun di pagi hari, Nuna terkejut mendapati dirinya sudah berada di kamar tamu rumah Bianca. Gadis itu memegang keningnya sendiri. Ya, dia ingat semalam di depan rumah tantenya Ia bertemu Dewa lalu laki-laki itu menciumnya. Tak lama, dia dan Dewa duduk di depan teras rumah, terdiam cukup lama. Laki-laki itu tidak berbicara sepatah katapun sepertinya sampai Nuna lupa apa yang selanjutnya terjadi.
"Bisa-bisanya kamu itu!"
Skala melotot, rasanya ingin sekali memarahi sang keponakan. Semalam Dewa dibantu bu Dewan mengetuk pintu rumahnya. Membawa Nuna yang tertidur seperti orang pingsan. Duo emak dan anak itu bisa saja menidurkan Nuna di rumah mereka, tapi bu Dewan menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Tahu akan masalah yang menimpa Nuna, Skala yang awalnya marah pun akhirnya melunak.
"Maaf om, namanya juga ketiduran, eh ... salah tertidur." Menyuapkan sandwich ke dalam mulutnya, Nuna hanya berani melirik sedikit wajah om nya.
"Nuna itu kalau sudah tidur ada gempa bumi juga ga bakal bangun Ska." cibir Bianca.
Mengalungkan lengannya ke leher sang suami, Bianca semalam sudah mengobrol panjang lebar dengan suaminya setelah Bu Dewan dan Dewa pulang dari mengantar keponakannya. Mencium pipi Skala, Bianca seolah memberi kode agar suaminya tidak lupa dengan apa yang mereka bicarakan semalam.
Skala berkata entah kenapa ingin sekali melindungi gadis itu, Ia merasa Nuna bukan sekedar keponakan, tapi adik perempuan yang harus dijaga dari kejamnya dunia di luar sana. Sama seperti sang suami, Bianca yang merasa nasip Nuna tak jauh berbeda dengan dirinya, ingin membuat gadis itu jangan sampai menjalani hidup yang sama seperti dirinya. Nuna harus bahagia.
"Kamu boleh menginap di sini, kapanpun kamu mau."
Nuna terkejut dengan izin yang diberikan omnya, Ia masih tidak percaya. Dengan sedikit rasa takut diliriknya Skala yang dengan santainya menikmati sarapannya.
"Mintalah kunci rumah ke Julian! seharusnya semalam kalau kamu merasa mengantuk segera ketuk saja pintu rumah, jangan malah berduan bersama Dewa, apalagi sampai berciuman dengan Jungkok BTS KW itu."
UHUK
Nuna tersedak selada yang belum sempat dia telan, matanya memandang tantenya ketakutan. Bianca menggelengkan kepalanya pelan, lebih parah dari sang keponakan, Ia berciuman saat berumur empat belas tahun. Bianca pernah menceritakannya ke Nuna dan kalau Skala sampai tahu bisa-bisa suaminya itu akan marah tak jelas selama tujuh hari tujuh malam.
__ADS_1
"Siapa yang melihat aku ci—uman?" lirih Nuna.
"Julian," jawab Bianca yang masih terus memberi kode ke sang keponakan agar tidak membocorkan masa lalu bobroknya.
Mereka pun melanjutkan sarapan dengan tenang. Pagi itu baik Skala dan Bianca tidak ingin menanyakan alasan kenapa Nuna malam-malam datang ke komplek perumahan mereka. Keduanya sudah sangat paham apa yang sebenarnya terjadi, ditambah saat Bianca mengabari Diana perihal keberadaan Nuna, wanita itu memberi tahu bagaimana puterinya berani melawan Billy sebelum pergi begitu saja.
***
Malam sebelumnya
Tak ada lumataan ataupun permainan lidah layaknya ciuman panas layaknya profesional. Dewa sadar, gadis yang tengah Ia peluk masih berumur lima belas tahun. Bahkan, Ia bisa menebak dengan mudah, ciuman itu pasti ciuman pertama Nuna dengan seorang pria.
Melepaskan bibirnya, Dewa tersenyum melihat pipi Nuna yang bersemu merah, Ia lantas menggandeng tangan gadis yang usianya lebih muda tujuh tahun darinya itu masuk ke dalam rumahnya. Mereka memilih duduk dan mengobrol di depan teras.
"Kenapa orang dewasa begitu susah dimengerti, kenapa mama harus menikah dengan papa kalau pada akhirnya mereka harus berpisah?"
Dewa menatap jauh ke depan, Ia tidak ingin melihat wajah sedih Nuna.
"Tapi, aku yakin mereka tidak mungkin mengabaikan kebahagiaan anaknya di atas kepentingan atau bahkan kebahagiaan mereka sendiri, mungkin mama dan papa 'mu sadar akan lebih banyak kesakitan di dalamnya yang akan membuat kalian menderita jika masih bersama menjadi satu keluarga."
Memandang wajah Dewa dari samping, Nuna sedang mencerna ucapan laki-laki yang sangat disukainya itu. Disukainya? rasa suka itu sudah berubah menjadi sebuah rasa cinta sepertinya.
"Nun, Perasaan sayang dan cinta itu tak harus selalu berakhir dengan saling memiliki, melepaskan terkadang juga menunjukkan seberapa besar kamu mencintai seseorang."
__ADS_1
Nuna terdiam, tapi perkataan Dewa malam itu sukses terpatri di dalam otaknya, selamanya.
_
_
_
_
_
_
_
_
...LIKE...
...KOMEN...
...bagi Kembang 🌹...
__ADS_1
...Untuk info novel follow Na di @nasyamahila...
...Makasih zeyengggg...