Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
Kisah Tama Dan Felisya


__ADS_3

'Perjodohan’ mungkin tidak ada kata itu di dalam kamus hidup seorang Felisya Almaira. Bak putri dari negeri dongeng hidupnya begitu sempurna. Putri tunggal seorang Menteri perdagangan, dan memiliki kekasih bak pangeran yang sangat mencintainya.


Namun, kehidupannya yang sempurna itu seketika luluh lantah saat orangtuanya tiba-tiba saja menerima lamaran seorang pria bernama Gutama Prawira.


“Tunggu Pa, bukankah dia sepupu Skala?”


Nyalang Felisya menatap sang papa, sementara mamanya hanya bisa menunjukkan ekspresi kesedihan. Hera-Ibunda Felisya itu tahu bahwa hubungan putrinya dengan sang kekasih yang bernama Skala sudah hampir menuju jenjang yang lebih serius, bahkan sebagai bukti cintanya, pria itu sudah memberikan sebuah cincin yang melingkar di jari manis Felisya.


“Papa tahu Fel, tapi Skala hanya anak yatim piatu di keluarga Prawira, sementara Tama dia jelas memiliki papanya sebagai penyokong. Hidupmu akan lebih terjamin jika menikah dengan Tama ketimbang Skala."


“Dari mana papa bisa menyimpulkannya seperti itu?” 


Felisya berdiri dari kursinya, untuk kali pertama dalam hidupnya, gadis itu membantah permintaan papanya.


"Papa terlibat suatu masalah Fel dan Maher Prawira membantu papa menyelesaikannya."


"A-pa?" Felisya yang sudah berjalan pergi menghentikan langkahnya. Ia berbalik dengan mata yang mulai menggenang.


"Papa mohon! Pak Maher meminta imbalan dengan menikahkanmu dengan putra tunggalnya-Tama."


"Papa pikir aku uang? sampai papa memberikanku kepada mereka sebagai imbalan?" air mata Felisya menetes. Hatinya terasa ngilu.


"Bu-kan, bu-kan begitu maksud Papa Fel-" Hera mencoba menenangkan sang putri. Namun, tangannya yang hampir menyentuh lengan Felisya, ditangkis sedikit kasar oleh anaknya itu.


"Mama dan Papa jahat, bagaimana bisa kalian tega berbuat seperti ini padaku?"


Felisya pergi ke kamarnya dan langsung menghambur ke arah ranjangnya. Dipeluknya erat bantal, Ia meledakkan tangisnya di sana.


***


"Apa aku tidak salah dengar? dia kekasih Skala kan Ma?"


Tama bak disambar petir di siang bolong, persetujuannya untuk menikah dengan cara dijodohkan dipelintir sedemikian rupa oleh orangtuanya.


"Gadis mana pun terserah mama dan papa tapi jangan kekasih Skala, dia sudah cukup membenciku selama ini Ma, hubungan kami renggang. Apa lagi kalau-" Tama tercekat. "Aku menikahi kekasihnya."


Wajah Tama memerah, emosinya sudah mencapai ubun kepalanya. Jika saja lawan bicaranya sekarang bukanlah wanita yang melahirkannya, Ia pasti sudah akan berkata kasar dan mengeluarkan umpatan.


"Bisakah kamu berhenti memikirkan adik sepupumu itu?" Viona ibunda Tama itu sedikit membentak. "Dia sudah mendapat banyak hal yang seharusnya menjadi milikmu selama ini," tandasnya.


"Apa maksud Mama? apa Mama pikir aku iri dengan Skala? Ma, jangan membuat hubungan persaudaran kami yang sudah tidak baik ini menjadi semakin memburuk!" Rahang Tama sudah mengeras, pria itu emosi.


"Tama! coba kamu lihat! karena dia kakek mengabaikan dirimu, dia menomor satukan Skala di atas segalanya, padahal kalian sama-sama cucunya."


"Tidak, aku tidak merasa diabaikan oleh kakek!" elak Tama.


"Jangan membohongi dirimu sendiri, selama ini mama tahu bahwa kamu membenci adik sepupumu itu karena merampas semua perhatian kakekmu."


Berlalu pergi tanpa permisi, Tama mengguyar rambutnya kasar. Ia melonggarkan dasinya karena dadanya terasa sesak. Bagaimana mungkin dia menikah dengan gadis yang merupakan kekasih adik sepupunya sendiri.


Hati Tama dirundung gelisah, bagaimana tidak? menikahi gadis bernama Felisya Almaira itu sama dengan menusuk Skala dari depan. Adik sepupunya itu pasti akan semakin membencinya karena merebut gadis yang sangat dicintainya. Terlebih, alasan pernikahan itu benar-benar didasari atas sebuah kesepakatan antara Ayahnya dan Ayah Felisya. Jika Skala tahu, hubungan mereka akan benar-benar selesai.


Sebagai cucu yang sama dari Klan Prawira, Tama sadar banyak yang membanding-bandingkan dirinya dan sang sepupu. Bahkan sejak kecil Viona-mamanya selalu menanamkan bahwa Skala adalah musuhnya. Namun, Tama bukan tipikal orang yang dengan mudah menelan mentah-mentah perkataan orang lain, meskipun itu adalah orangtuanya. Baginya, Skala adalah saudara dan seharusnya tidak ada kata bermusuhan diantara saudara.


...🌼🌼🌼...


Tama menatap zebracross disebrang tempatnya menunggu kedatangan Felisya. Hari itu, ia mengikuti keinginan orangtuanya untuk bertemu dengan gadis itu. Dari jendela kaca yang memperlihatkan jelas pemandangan luar, Tama melihat sosok gadis turun dari taksi. Gaun peach bermotif bunga berwarna pink di bawah lutut serta rambut panjang yang dibiarkan tergerai, menunjukkan betapa anggunnya Felisya. Selera Skala memang tidak bisa diragukan, Tama tahu sepupunya itu menyukai gadis feminim.


Tama terlihat menegakkan badannya karena berpikir Felisya akan masuk ke dalam kafe, tapi seketika ia melipat dahi karena gadis itu malah terlihat berjalan ke arah zebracross. 


Heran, akhirnya Tama tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu, Felisya ternyata sengaja mensejajari seorang nenek yang nampak berjalan lambat, tujuannya sudah jelas, agar mobil-mobil yang melintas sedikit bersabar. Setelah memastikan Nenek itu selamat sampai ke seberang, Felisya berjalan cepat kembali ke tempat semula.


“Gadis itu!” Tama tersenyum sambil terus melihat gerak-gerik Felisya yang datang menuju Kafe dimana dirinya sedang berada.


“Maaf!”


Kalimat yang pertama kali diucapkan Felisya itu membuat Tama heran. Ia pun dengan sopan meminta gadis itu duduk dan memesan minuman.


“Maaf, bisakah anda berkata kepada Tuan Maher untuk tidak melanjutkan perjodohan kita?”


Belum juga Tama menjawab, Felisya lebih dulu mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirannya.


"Anda tidak mungkin tidak tahu bahwa saya adalah kekasih Skala, adik sepupu anda.”


Mendengar nama Skala diucapkan oleh gadis di hadapannya, rasa pensaran pun muncul di dalam hati Tama.


“Bukankah hubungan anda dan Skala tidak baik? Apa anda tidak berpikir kalau perjodohan ini malah akan membuat hubungan kalian merenggang,” ucap Felisya lagi.


“Apa Skala yang bercerita?” tanya Tama penasaran.


Felisya mengangguk menanggapi pertanyaan pria di depannya itu. “Apa keuntungan yang anda dapat jika sampai pernikahan kita terjadi? Kita bahkan tidak saling mengenal satu sama lain, bukankah kita akan hanya akan menyakiti satu sama lain? Pernikahan harus dilandasi rasa kasih sayang dan rasa ingin memiliki, saya yakin kita tidak akan bahagia dengan pernikahan seperti ini nantinya.”


Tama hanya bisa mendengar setiap ucapan yang keluar dari bibir Felisya sambil tersenyum. Ia sandarkan punggungnya sambil menatap keluar jendela Kafe sebelum kembali menoleh ke arah gadis yang sedang berusaha membujuknya itu.


“Apa kalian benar-benar saling mencintai?”


“Aku dan Skala saling mencintai, kami bahkan berencana akan menikah,” ucap Felisya tegas, ia berharap Tama bisa menolak perjodohan yang sangat tidak masuk akal baginya ini.


“Baiklah, aku akan mencoba bicara ke orangtuaku, lagi pula menikah juga belum menjadi prioritas hidupku saat ini.” Tama menutup percakapaannya. 


***


Tama berjalan masuk ke istana tempatnya tinggalnya selama ini yaitu kediaman Prawira. Masih lekat diingatannya bahwa sang kakek awalnya tidak pernah membedakkannya dengan Skala. Namun, setelah peristiwa kecelakaan yang menewaskan orangtua Skala dan bahkan hampir merenggut nyawa adik sepupunya itu, kakeknya-Prawira berubah sikap. Pria itu menjadi sedikit tak acuh padanya.


Melangkahkan kaki menuju kamarnya yang kebetulan dekat dengan ruang kerja kakeknya, Tama berhenti karena pintu ruangan itu tak tertutup rapat. Tidak berniat mendengarkan apa yang sedang dibicarakan sang kakek, tapi Tama terlanjur mendengarnya.


“Skala memang lebih bisa diandalkan, jika seperti ini terus aku tidak akan segan memberikan PG Group ke dia sesegera mungkin.”


Ucapan Prawira ke sekretarisnya yang Tama dengar hari itu menyulut rasa benci Tama. Perasaan iri yang seharusnya tidak ia pupuk tiba-tiba menyala bak api yang disiram bensin.


Sedikit merasakan penderitaan karena aku merebut kekasihmu tidak menjadi masalah kan? Toh kamu sudah mendapat semuanya.


Tama tersenyum pilu dan melangkahkan kakinya menuju kamar.


***

__ADS_1


“Apa?”


Felisya berdiri dari kursinya, sendok dan garpu ditangannya pun jatuh karena ia melepaskannya begitu saja. Gadis itu syok karena papanya baru saja berkata bahwa orangtua Tama akan secara resmi melamarnya akhir minggu ini.


Bukankah dia berkata akan berbicara kepada orangtuanya untuk membatalkan perjodohan ini?


Hati Felisya tiba-tiba dilingkupi rasa benci ke pria bernama lengkap Gutama Prawira itu. Awalnya ia berpikir Tama berhati baik, tapi nyatanya pria itu hanya bersikap manis di depan dan menusuk di belakang.


“Fel, putuskan Skala atau papa yang akan menemuinya sendiri!”


Ancaman sang papa semakin membuat Felisya marah, ia meremas bagian samping bajunya erat-erat.


"Katakan apa yang tidak dimiliki Skala tapi dimiliki oleh pria bernama Tama itu!?" Felisya berteriak. Kali pertama di dalam hidupnya gadis itu membentak sang Papa.


"Feli!" Hera pun terkejut dengan kelakuan sang putri.


"Keluarga, dia tidak memiliki orangtua."


"Apa papa tidak bisa memberiku alasan yang lebih masuk akal? apa papa tega mengorbankan kebahagiaan 'ku?" Felisya meneteskan air mata, Ia ingin beranjak pergi dari sana. Namun, langkahnya tertahan oleh ucapan sang Papa.


“Sebenarnya papa melakukan kesalahan, Papa terjebak dalam sebuah kasus korupsi, dan Maher Prawira membantu papa keluar dari masalah itu.”


“Apa?”


“Menikahkan mu dengan anaknya adalah imbalan yang istrinya inginkan.” Menatap sang putri dengan pandangan sedih, mata Papa Felisya nampak berkaca-kaca.


“Papa juga tidak menyetujuinya begitu saja Fel, tapi papa yakin kamu akan bahagia menikah dengan Tama.”


Felisya menghela napasnya sambil menyeka air mata yang terus menetes di pipinya, ia masih tidak bisa menerima perjodohan ini begitu saja. Apakah ia bisa mencintai Tama nantinya? Hati Felisya benar-benar seperti ditimpa batu besar, apa yang harus dikatakannya ke sang pujaan hati nantinya?


Pergulatan batin pun Felisya alami, jika sampai papanya masuk penjara dan nama baik keluarganya tercoreng, ia berpikir Skala bisa saja akan meninggalkannya di kemudian hari. Apalagi kakek kekasihnya itu terkenal sebagai sosok yang tegas, mendapat besan mantan narapidana, Felisya tidak bisa membayangkan hal itu.


Keesokan paginya, Felisya meminta bertemu dengan Tama. Meskipun ia benci ke pria itu karena tak menepati janjinya, tapi ia masih ingin  mencoba membujuk agar Tama mau membatalkan perjodohan ini.


Namun, Felisya harus kecewa karena kali ini pria itu menolak mentah-mentah permintaannya.


“Untuk apa aku menolak perjodohan jika menguntungkan keluargaku?”


“Keuntungan apa yang akan anda dapat? Anda tidak tahu apa papaku masih akan terus menjabat atau tidak, situasi politik saat ini tidak menentu.” Felisya masih tidak habis pikir kenapa Tama bersikeras melanjutkan perjodohan di antara mereka.


“Membuat seseorang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan,”gumam Tama.


“Apa?” Felisya menajamkan matanya mendengar kalimat Tama, ia bahkan meminta Pria yang tengah duduk santai di hadapannya itu untuk mengulangi ucapannya.


“Intinya aku tidak memiliki masalah dengan perjodohan ini, urus saja urusanmu dengan Skala. Apa kamu tidak ingin segera mengatakan kepadanya kalau kamu dijodohkan denganku? Sepupunya.” Tama meraih cangkir kopi di atas meja, dengan tatapan dan senyum smirk ia memandang ke arah Felisya.


“Aku benar-benar membencimu Tuan Gutama Prawira,” ucap Felisya sambil menatap kesal ke arah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.


_


_


“Kenapa? kamu terlihat sangat sedih.”


Skala mengusap pipi Felisya yang duduk di sebelahnya. Pria itu benar-benar sangat mencintai kekasihnya, menjalin kisah asmara setelah pendekatan selama satu tahun membuat Skala merasa bahwa Felisya adalah gadis baik yang tidak mudah memberikan hatinya dan menerima perasaan pria.


“Putus? apa maksudmu?” Skala menggenggam erat kedua tangan kekasihnya, sedangkan Felisya hanya bisa menunduk. Ia tak berani memandang mata Skala.


“Aku ingin kita berpisah Ska.”


“Apa alasannya? Kenapa tiba-tiba seperti ini?” masih tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, Skala yang syok sampai mengguncang kedua lengan Felisya.


“Aku butuh pria yang sempurna Ska,” lirih Felisya.


“Sempurna? Apa kekuranganku?”


Felisya menatap wajah pria yang benar-benar dicintainya itu, “Ska- aku benar-benar ingin kita berpisah.”


“Tidak! sebelum kamu memberikan alasan yang jelas.”


Skala yang terlihat marah langsung berdiri dari kursinya, meninggalkan Felisya yang terdiam menunduk dan mengguyar rambut panjangnya. 


...🌼🌼🌼...


...“Ska, aku adalah putri satu-satunya papa dan mamaku, selama ini mereka selalu memberikan semuanya untukku. Aku yang sama sekali belum membalas budi mereka ini, tidak ingin dicap sebagai anak durhaka dan tak tahu diri. Aku yakin bahwa tidak ada orang tua yang menjerumuskan anaknya sendiri. Apapun yang terjadi nanti, aku harap kita bisa masih berteman baik.”...


-


-


Felisya duduk terdiam mendengarkan mama papa dan orangtua Tama berbincang-bincang di ruang tamu rumahnya. Sesekali ia melirik ke arah pria yang sudah dipastikan sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Pembawaan Tama yang tenang membuat Felisya semakin benci. Bagaimana bisa pria itu melakukan hal ini kepadanya dan sepupunya sendiri.


“Pernikahannya akan dilangsungkan dua bulan lagi.”


Ucapan Pria bernama Maher Prawira itu membuat Felisya terkesiap. Sepertinya mereka ingin melakukan pertukaran keuntungan ini sesegera mungkin.


Papanya menganggukkan kepala tanda setuju, dan Hera sang mama yang duduk di sebelahnya hanya bisa menggenggam erat tangan Felisya. Wanita itu tahu, putrinya terpaksa menerima pernikahan ini.


Mengantar tamunya pulang sampai ke halaman rumah, senyum Tama yang terlihat tulus itu membuat Felisya semakin tak habis pikir. Apakah pria itu benar-benar akan memperlakukannya dengan baik, seperti yang selalu mamanya ucapkan.


“Mama tahu Fel, ini pasti berat. Tapi kamu tahu kan Nak? papamu itu mengidap penyakit jantung. Jika sampai papamu masuk ke penjara, mama tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.”


Felisya mengembuskan napasnya lelah. Menyayangkan kenapa papanya sampai bisa terlibat dalam kasus korupsi seperti ini. Dan kenapa pria yang akan menjadi suaminya harus lah sepupu dari kekasihnya sendiri. Felisya masih tak habis pikir, hingga dia sama sekali tidak konsentrasi saat melatih anak-anak di studio musik yang didirikannya bersama beberapa orang temannya.


Ya, Felisya adalah seorang pemain harpa. Dia juga bisa memainkan beberapa alat musik lain. Keanggunan, kecantikan dan talentanya itu lah yang membuat Skala terpesona. Pria yang sebentar lagi menjadi adik sepupunya.


Sore itu, Felisya kembali bertemu dengan Skala hanya untuk menyakiti hati pria itu lagi. Gadis itu tetap pada pendiriannya- ingin berpisah.


“Aku sangat membencimu.” Ucapan Skala hanya bisa membuat Felisya tertunduk lesu. “Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku!" ketus pria itu sambil berdiri dari kursinya dan pergi.


Masih terdiam di kursinya, Felisya membiarkan air matanya terjatuh. Gadis itu pun mengirim pesan ke calon suaminya setelah bisa menguasai perasaannya.


-


-

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Tama pun datang. Melihat dua gelas minuman di atas meja, pria itu menebak bahwa Felisya pasti baru saja bertemu dengan sepupunya. Tanpa meminta persetujuan gadis yang mengundangnya, Tama duduk dan langsung menanyakan apa yang membuat Felisya menghubunginya.


“Apa rencanamu setelah kita menikah?”


“Tidak ada,” jawab Tama datar.


“Apa kamu tidak memiliki kekasih? Atau jangan-jangan kamu berniat menikah lagi setelah menikah denganku?”


Tama hampir saja terbahak mendengar pertanyaan Felisya. Namun, sebisa mungkin dia menahannya. Karena sejatinya menikah- tidak ada di dalam daftar prioritas hidupnya saat ini, apa lagi sampai memiliki lebih dari satu istri.


“Hem … aku berniat menikah lagi dan membuatmu satu rumah dengan istri keduaku, apa kamu puas?"


Tama menyandarkan punggungnya dan mengutarakan itu dengan raut tanpa beban.


Felisya yang mendengar jawaban calon suaminya pun menganggap itu bukan hanya sekedar gurauan. Ia menggeleng. Meskipun tidak mencintai Tama, tetap saja dimadu tidak akan pernah ada di dalam kamus hidupnya, apa kata dunia jika seorang Felisya yang sempurna ternyata menikah dengan suami yang tak setia?


“Mari kita bercerai setelah papaku sudah tidak menjabat menjadi seorang menteri, sekitar delapan belas bulan lagi.”


...🌼🌼🌼...


Felisya terlihat menyimpan alat musik harpa yang selesai dia gunakan. Gadis itu bersiap pulang setelah selesai mengajar di sekolah musiknya. 


Baru saja menyematkan tali tas selempang di pundak, ponselnya berdering di mana sebuah pesan terpampang di layarnya.


Gadis itu terlihat malas ketika melihat Tama lah yang mengiriminya pesan. Namun, mau tidak mau Felisya tetap membaca dan membalas pesan itu. Ia pun berjalan keluar dari gedung, langkahnya terasa berat, bahkan ia sampai mengembuskan napas kasar berulangkali.


Sore itu, Tama yang sibuk bekerja di salah satu perusahaan milik sang kakek, merasa kesal saat Viona-mamanya menghubungi dan memintanya pergi menjemput Felisya, Viona memintanya untuk mengajak gadis itu ke butik langganan keluarga mereka. Sebagai anak yang berbakti, Tama pun mengikuti perintah sang mama. 


Tama kini sudah berada di halaman parkir tempat Felisya mengajar. Pria itu mengirimkan pesan pada calon istrinya, dan memberitahu bahwa dirinya sudah menunggu.


Tak lama berselang, Felisya nampak berjalan keluar menuju mobil Tama yang sudah terparkir di halaman gedung sekolah musiknya. Gadis itu langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.


"Kenapa mendadak?" tanya Felisya yang merasa tidak senang karena Tama mengajaknya ke pergi butik dengan tiba-tiba. 


"Karena kabar yang aku terima juga dadakan," jawab Tama singkat. Pria itu langsung memacu mobil untuk meninggalkan pelataran gedung, ia melajukan sedan mewahnya menuju butik. 


Jujur saja, Felisya merasa sebal dengan jawaban Tama tadi, entah kenapa gadis itu merasa kalau Tama begitu dingin dan terasa tidak mau mengerti perasaan orang lain. Kabin mobil pun terasa hening, baik Tama maupun Felisya tidak ada yang bicara sama sekali. Hanya ada suara mesin yang terdengar halus dan beberapa suara klakson mobil lain dari luar mengingatkan pengendara lain untuk lebih berhati-hati di jalan.


-


-


Sesampainya di butik yang dituju. Keduanya turun dan berjalan masuk, Tama dan Felisya sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka adalah sepasang calon pengantin. Bagaimana tidak? jangankan bergandengan tangan, berjalan bersisian pun enggan mereka lakukan.


"Selamat datang!" sapa seorang pegawai butik yang tentu saja sudah Viona hubungi terlebih dulu. Wanita itu meminta pihak butik melayani putra dan calon menantunya dengan baik.


Tama dan Felisya sama-sama mengangguk dengan senyuman kecil. Salah satu pegawai tampak menemani Felisya untuk memilih kebaya yang dia inginkan. Sedangkan Tama memilih tak acuh dan hanya memandangi setelan jas yang tergantung di ruangan khusus.


"Model seperti apa yang Anda inginkan, Nona?" tanya pegawai itu ke Felisya.


Menikah tanpa dasar cinta dan ingin memiliki, tentu saja membuat Felisya tidak bersemangat memilih kebaya untuk pertunangan dan akad nikahnya nanti. Andai calon suaminya adalah Skala, mungkin sikapnya tidak akan seperti sekarang, ia pasti akan lebih bahagia dan bersemangat untuk bisa tampil anggun di depan pria yang dicintainya.


"Terserah, pilihkan saja sesukamu!" 


Felisya tidak mendekat atau bahkan sekedar melihat model kebaya yang terpampang di sana. Pegawai yang menemaninya pun sukses dibuat kebingungan, sampai menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal ketika mendengar jawaban Felisya. 


"Pilihkan saja yang menurut kalian bagus," ucap Felisya akhirnya dengan nada malas saat sadar ia sedang memersulit pekerjaan orang lain. 


"Oh, baik." Pegawai itu akhirnya berusaha memilihkan kebaya yang cocok. 


Felisya beberapa kali mencoba kebaya yang akan digunakan untuk acara pertunangannya dengan Tama. Ia tidak berniat memperlihatkannya pada pria itu, atau sekadar meminta pendapatnya, Felisya merasa pendapat calon suaminya itu tidaklah penting.


Tama masih duduk di sofa ruang tunggu yang terdapat di butik itu, ia baru saja selesai memilih pakaian yang akan dikenakannya. Pria itu terlihat santai dan tidak tampak penasaran dengan gaun model apa yang dipilih calon istrinya, atau bagaimana penampilan gadis yang akan dinikahinya itu jika memakai kebaya.


Satu jam berlalu, Tama masih duduk seraya mengecek ponselnya berulangkali, menunggu Felisya tanpa bertanya sedang apa gadis itu sampai memakan waktu lumayan lama.


"Sudah," kata Felisya begitu selesai memilih kebaya juga gaun untuk acaranya.


"Kita juga harus pergi ke tempat lain." Tama berdiri dan memasukkan ponsel ke saku celana. Ucapan pria itu terdengar sangat dingin dan terkesan memerintah bagi Felisya. Ia pun lagi-lagi harus menghela napas kasar, membetulkan letak tali tas yang tersemat di pundaknya, sebelum akhirnya mengikuti langkah Tama untuk keluar dari butik.


-


-


Tama ternyata mengajak Felisya ke sebuah toko perhiasan. Sama seperti saat di butik, Felisya tampak malas untuk memilih model cincin pertunangannya dengan pria itu. 


"Model seperti apa yang Anda inginkan?" tanya salah satu pegawai toko.


"Keluarkan saja model terbaru yang kalian punya," jawab Tama karena melihat Felisya yang tidak merespon. 


Pegawai toko itu mengangguk, kemudian memilih beberapa pasang cincin untuk bisa mereka lihat dan coba. Tama memegang salah satu model cincin yang sudah dikeluarkan oleh pegawai. Sedangkan Felisya hanya berdiri dengan tangan bersidekap dan tatapan yang tertuju ke arah lain.


"Bagaimana dengan ini?" tanya Tama seraya menarik tangan kiri Felisya.


Tama berniat memasang cincin yang dipilihnya ke jari manis calon istrinya, untuk tahu apakah ukurannya pas dengan jari gadis itu. Namun, sepertinya Felisya cukup terkejut tatkala Tama langsung menarik tangannya tanpa permisi, hingga tatapannya tertuju pada wajah Tama yang terlihat tidak senang.


Tama mengurungkan niat meminta Felisya mencoba cincin itu. Ia melihat dengan jelas gadis itu masih memakai cincin yang kemungkinan diberikan oleh Skala. Hal ini membuat Tama mengingat kembali bahwa dia memang sengaja merebut gadis itu dari sang sepupu.


"Aku ambil ini! Mau suka atau tidak, aku tidak peduli!" Tama yang kesal, akhirnya langsung meminta pegawai toko untuk membungkus cincin yang dipilih.


Tangan Felisya mengepal. Ia lantas menyembunyikan tangannya ke sisi badannya. Ia bisa melihat kalau calon suaminya merasa tidak senang. Namun, baginya-mau senang atau tidak, perasaan Tama bukanlah hal yang penting baginya.


...🌼🌼🌼...


...Halo sayangku semua yang masih simpan novel ini di rak baca. Makasih ya, love you so much ❤...


...Na mau kasih info buat kalian semua, kalau Cerita Tama dan Felisya Na tulis di PF lain. No bad feeling ya 🙏 Kita memiliki kondisi masing-masing dan saling menghargai saja....


...Untuk kalian yang ngeship duo Tamasya jika berkenan silahkan mampir ke Instagram Na buat cari tahu di mana novel BUKAN SALAH NIKAH yang mengisahkan kisah mereka terbit....


...Total 30 Bab sampai tamat, 10 Bab gratis dan 20 Bab berbayar. Kira-kira sekitar 20ribu kalian udah bisa baca kisah mereka sampai tamat....


...Aku doakan semoga kalian murah rezeki dan sehat selalu biar bisa ngikutin kisah mereka....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Love...


...NaMa...


__ADS_2