Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Perusuh


__ADS_3

Bringsut ke arah pintu, Prawira memilih diam. Pria itu takut karena sang cucu kesayangan tengah memelototi dirinya. Setelah hasil tes urin sang kakek dan anggota geng sultini blok kamboja keluar, Skala juga harus menanda tangani sebuah surat pernyataan bahwa akan memastikan kakek dan ibu-ibu itu membawa identitas saat pergi ke tempat umum di malam hari agar tak terkena razia kembali.


“Apa Skala akan memarahi kakeknya?” tanya Bu Erin cemas sambil membawa mobil van mewah milik Bu Syifa.


“Entahlah, sepertinya tidak. Mana mungkin Skala berani?” ucap Bu Eli.


***


“Kakek!”


Bentakan Skala membuat Prawira sampai melompat kaget. Pria tua itu memasang muka memelas menatap sang cucu.


“Kakek kenapa jadi nakal ha? Kalau kakek ingin mencari perhatian bukan begini caranya!”


“Kakek tidak ingin mencari perhatian, kakek hanya apes saja, saat kami asyik bernyanyi tiba-tiba ada razia,” ucap Prawira membela diri.


“Lagi pula kenapa kakek karaoke di tempat seperti itu? Bukankah kakek biasanya membooking tempat hanya untuk kakek saja? Lalu sejak kapan kakek menjadi anggota geng sultini blok kamboja? Apa kakek ingin ganti nama dari Prawira menjadi Prawiri?”


Skala mencecar Prawira dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, membuat pria itu sampai kebingungan harus mulai dari mana menjawab omelan sang cucu.


“Kakek mau ganti suasana, ibu-ibu itu bilang ingin karaokean ala kaum sudra.”


“Kakek benar-benar tak melihat umur kakek, aku kesal, aku marah.” Skala memalingkan mukanya sepanjang sisa perjalanan pulang menuju kediaman Tama.


***


Skala masih saja diam meskipun mobil yang dikemudikan Radit sudah masuk ke halaman rumah Tama dan Felisya. Entah kenapa Skala merasa Tama juga harus ikut bertanggung jawab terhadap sang kakek.


Papa Peanut itu langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah tanpa menyapa para pelayan yang masih terjaga karena Prawira belum pulang ke rumah.


“Tamia!” teriaknya memanggil nama sang kakak sepupu.


Tama dan Felisya yang tengah bermesraan menikmati ritual gajah-gajahan mereka tak mendengar panggilan Skala yang berulang-ulang. Keduanya asik saling bercumbu dan mengagumi keindahan tubuh satu sama lain.


“Aku janji setelah kakiku pulih aku akan memuaskanmu sayang,” bisik Tama ke telinga Felisya yang tengah bekerja keras memompa gajah miliknya.


“Hem … buktikan! Jangan hanya membual, em …. “ Felisya memejamkan mata, ia juga mulai kecanduan menaiki gajah sekarang.


“Tamia! Woi!”


Teriakan Skala membuat Felisya sedikit terganggu, Ia menghentikan gerakannya lalu memandang wajah sang suami yang sudah memerah.


“Apa kamu mendengar apa yang aku dengar?” tanya Felisya heran.

__ADS_1


“Biarkan saja! Lanjutkan Fel, hem …” bujuk Tama yang sudah hampir sampai puncak surga dunia.


Saat Felisya ingin melanjutkan apa yang tengah ia kerjakan, suara gedoran pintu membuat mood mereka terbang melayang, menguap bersamaan dengan suara Skala yang kembali memanggil nama Tama.


“Sial!” Pekik Tama karena Felisya langsung melepaskan gajah dari dalam kandang.


Felisya menyambar bajunya kemudian mengambilkan kaus sang suami yang tercampakan di lantai. Setelah memastikan memakai baju dengan benar, gadis itu membuka pintu sambil memelototi Skala yang sudah mengganggu aktifitas bercintanya dengan Tama.


“Apasih?” muka Felisya terlihat begitu masam, ia bahkan mengepalkan tangannya ingin menjitak kepala sang mantan kekasih yang merusuh acaranya.


“Mana Tamia?” Skala mendobrak masuk, melihat ranjang yang acak-acakan Skala tersenyum simpul, Ia sadar sudah mengganggu acara hiya hiya kakak sepupunya.


“Ada apa?” Tama yang sedari awal memang duduk bersandar di kepala ranjang hanya bisa menggertakkan giginya kesal melihat kelakuan suami Bianca itu.


"Kakek mu terjaring razia narkotika di tempat karaoke remang-remang, bisakah saat jatah menginap di tempatmu kamu mengawasinya dengan benar!" Skala marah sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar.


Tama dan Felisya pun tak percaya dengan apa yang baru saja Skala katakan, sampai Prawira yang tengah berjalan gontai berhenti tepat di depan pintu kamarnya.


"Apa benar yang Skala bilang kek?" Tama melongo tak percaya.


Prawira mengangguk lemah, memasang muka melas sok imut yang sukses membuat Felisya menepuk jidatnya, sementara Skala melipat kedua tangannya di depan dada seperti ayah yang ingin menghukum kenakalan sang anak.


***


"Semoga kelakuanmu tidak seperti kakek bunyutmu," ucap Skala sambil menggosok-gosokkan hidung ke perut Bianca. "Sumpah benar-benar membuat orang kesal."


"Sabar papa, sabar!" Bianca mencoba menenangkan suaminya, Ia masih saja tertawa membayangkan kelakuan nyleneh Prawira.


"Aku akan melaporkan ibu-ibu itu ke suami mereka biar mereka mendapat pelajaran, untung saja kamu tidak ikut, aku tidak bisa membayangkan jika kamu ikut tadi, sudahlah hamil, pergi ke karaoke remang-remang, Ahh..... " Skala menggelepar, menendang-nendang udara dengan kakinya.


Bianca semakin geli, Ia lalu memposisikan diri berbaring di atas ranjang. Gadis itu menawarkan pelukan hangatnya ke sang suami dengan cara membuka tangannya lebar-lebar


"Sini sayang mama peluk! kasihan," godanya.


"Aku kesal mama," cicit Skala yang langsung meringsek ke arah istrinya, membenamkan kepalanya di dada Bianca.


"Besok kita temui madam Zi, oke!" Bianca memeluk erat Skala, entah kenapa Ia takut jika little peanut kelak menuruni kelakuan Prawira dan sang suami.




__ADS_1

















Otor : Kalian ada yang mau daftar jadi Nyonya Prawira ga? 🤣🤣🤣


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...


...RATE BINTANG 5...


...❤...

__ADS_1


__ADS_2