Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Amunisi


__ADS_3

...18++...


...Tipis-tipis...


..._...


..._...


..._...


..._...


..._...


Suara rintihan samar terdengar dari dalam kamar mandi. Dengan berpegangan wastafel yang berada di sana, si anaconda memasuki piranha dari belakang. Anaconda yang terkana skors beberapa saat yang lalu terlihat bahagia. Keluar masuk sarang sambil bersenandung uh la la.


"Ska ... "


"Yes baby, kenapa?" Skala memegang punggung Bianca, sesekali mengusap perut gadis itu yang terlihat menggantung.


"Bisa lebih cepat!" pinta Bianca yang sudah menggeliat bagaikan cacing kepanasan.


"Ya kan? kamu sih pakai acara ga mau kemarin."


"Kok kamu malah marahin aku sih." Bianca terdengar kesal, padahal Skala hanya takut jika menghujam terlalu dalam.


Dari pada anaconda kesayangannya terpuruk dalam lara kembali, Skala memilih meminta maaf karena sudah meledek istrinya.


"Ranjang ya!" Skala manarik anaconda yang tengah berdisko di dalam mulut piranha. Menggendong Bianca ala bridal sambil melumaat bibirnya.


Mereka pun berpacu kembali, mempraktikan beberapa gaya favorite mereka terutama menunggang kuda. Bianca tiba-tiba saja mendorong kepala Skala saat suaminya itu hampir melahap bukit miliknya.


"Jangan! nanti keluar asinya," jawab Bianca di sela sarangnya yang terasa sesak dengan desakan si anaconda. Ia sudah terlihat semakin kesusahan karena ukuran little peanut yang semakin besar.


"Ya sudah kita ganti gaya," ucap Skala sambil memegang pinggang istrinya.

__ADS_1


Kali ini si anaconda kembali memulai aksinya, bertamu lewat pintu belakang, membuat si piranha tak tahan dan memuntahkan lahar.


Skala melenguh panjang saat kecebongnya lolos keluar pabrik, memeluk erat Bianca yang berbaring di sampingnya. Bibirnya tertawa bahagia mendapatkan amunisi agar kembali semangat empat lima.


***


"Sepertinya Melani belum melahirkan. Apa kamu tidak ingin bertanya atau menjenguknya?" Tanya Skala sambil menciumi perut Bianca.


"Melahirkan itu bukan proses yang cepat Ska, pembukaan satu sampai sepuluh itu butuh waktu yang lama dan setiap orang pasti berbeda-beda." Bianca mengusap lembut rambut suaminya, tangannya meraih boxer Skala kemudian meletakkannya ke atas perut pujaan hatinya itu.


"Pakai! kalau digigit semut bisa membesar tidak wajar anacondamu."


Bianca bangun kemudian masuk ke kamar ganti.


"Memang ada semut? tidak mungkin kamar sultan ada semutnya, Hah.…" ucap Skala jumawa.


"Eh … tunggu! jadi besok aku akan melihatmu kesakitan selama berjam-jam?" mata Skala melebar lalu menatap iba wajah sang istri dari depan pintu kamar ganti mereka.


"Maka dari itu aku ikut kelas hamil dan yoga, agar besok persalinanku bisa berjalan lancar. Aku tidak akan berteriak-teriak seperti yang dilakukan Melanie. Aku sudah banyak belajar, berteriak hanya menghabiskan tenaga. Lagi pula aku ingin melahirkan anak kita tanpa trauma."


Skala hanya tertegun mendengar penjelasan istrinya, Ia tak menyangka Bianca begitu siap mempersiapkan persalinannya. Skala seolah lupa dengan karakter istrinya. Gadis itu selalu merencanakan dan mempersiapkan sesuatu dengan matang, baik urusan bisnis ataupun hal yang satu ini—melahirkan.


"Baiklah, sekarang setiap malam aku akan berbicara dulu ke little peanut, aku akan mengajaknya bekerja sama bahkan sebelum dia lahir."


"Kamu bicara apa?" Bianca menatap suaminya curiga.


"Enggak, ga ngomong." Skala memilih berbalik, lalu memukul mulutnya sendiri.


_


_


_


_

__ADS_1


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


otor : yuhuuuu mana nih suara alumnus UHAH dan bala Mesumable? aku kangen kleyan nih


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE yang banyak...

__ADS_1


...ADD FAVORITE...


...RATE BINTANG 5...


__ADS_2