Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Tetangga Baru Rasa Lama


__ADS_3

"Iya kan Bu ibu, kasihan kan itu perempuannya." Mba Barbie lagi-lagi menyulut rasa kepo wanita-wanita itu.


Skala ikut melongokkan kepalanya di belakang mba Barbie di saat ibu-ibu itu masih berkerumun dan menatap ke arah rumah Bu Ratih.


"Pada lihat apa sih?"


"Astaga! Mas Skala bikin kaget aja."


Barbie melompat lantas memegangi dadanya, dipukulnya lengan Skala sambil terus mengaduh karena wanita itu merasa jantungnya hampir saja meledak keluar.


"Oh ngepoin tetangga baru," ujar Skala yang ucapannya langsung diamini dengan anggukan kepala oleh para anggota geng sultini blok kamboja.


"Permisi ya Bu!"


Skala membelah kerumuan, kelakuannya sukses membuat para ibu-ibu itu mengernyitkan dahi, bahkan beberapa dari mereka ikut berjalan keluar sampai ke teras.


Skala menyebrang menuju bekas rumah Bu Ratih. Mata para ibu-ibu itu terus mengekori dirinya dari depan kediamannya.


"Mau ngapain itu Skala?" tanya Bu Dewan heran.


"Entahlah."


Semua ibu-ibu itu masih mematung, mereka penasaran dengan apa yang akan dilakukan suami dari anggota geng termuda mereka di sana.


Tak lama tingkat kekepoan ibu-ibu itu langsung naik ke level tertinggi saat perempuan cantik yang dimaksud oleh Barbie keluar dari dalam rumah beserta laki-laki yang duduk di atas kursi roda, Skala bahkan memukul lengan laki-laki itu sambil tertawa. Para ibu-ibu semakin heran karena mereka seolah sudah saling mengenal dan akrab satu sama lain.


Entah apa yang diucapkan Skala kepada Felisya dan Tama, yang pasti keduanya langsung menoleh menatap ke ibu-ibu yang masih berdiri di depan pintu rumahnya.


Felisya sedikit menunduk untuk memberi salam dan tersenyum, sedangkan Tama sampai melambaikan tangan ke arah ibu-ibu itu untuk menyapa.


Sejurus kemudian ketiga orang yang ibu-ibu itu amati bergerak, mereka langsung tunggang langgang berebutan masuk ke dalam rumah Skala. Bianca yang tengah menata gelas pun dibuat terheran dengan kelakuan nyleneh para tetangganya itu.


"Emang ya tu mulut minta dicangkok sama enceng gondok," ucap Bu Erin memarahi Mba Barbie.


"Iya nih Barbie, itu sepupu Skala ga sih? kayaknya pernah lihat" tanya Bu Dewan ke semua anggota gengnya.


Bianca hanya tertawa. Disaat semua orang tengah berdebat, sapaan dari pintu rumah membuat mereka semua menoleh dan salah tingkah. Mba Barbie yang mulutnya julid pun langsung mengambil langkah seribu, merampas nampan dari tangan Bianca dan berlalu pergi ke dapur.


"Biar saya bantu mba," ucap Barbie melarikan diri.


Skala pun tertawa, sebagai tuan rumah Ia meminta semua tamunya duduk kembali. Laki-laki itu pun memperkenalkan Tama dan Felisya kepada anggota geng sultini sang istri.

__ADS_1


"Maaf ya, tadi kami kira kamu aki-aki stroke," ucap Bu Erin sambil menepuk pundak Tama setelah suasana mencair.


Bianca pun menjelaskan kepada semua orang bahwa Tama mengalami kecelakaan karena berusaha menyelamatkan nyawanya di hari sang suami akan mengambil alih PG Factory.


"Jadi kapan kalian akan mulai menempati rumah itu?" tanya Bu Dewan selaku dedengkot blok kamboja.


"Mungkin minggu depan, sekalian kami ingin melakukan syukuran," jawab Tama.


"Wah ... buat Skala dan Bianca kalian tetangga baru rasa lama donk?" kelakar Bu Erin.


***


Sementara itu di kediamannya, Prawira tengah memutar otak, jelas pria tua itu akan semakin kesepian jika Felisya dan Tama pindah dari istananya.


"Tuan, seperti permintaan anda. Saya menemukan beberapa nama pria yang berhubungan dengan Nyonya Viona sekitar tahun sebelum kelahiran Tuan muda Tama." Ucapan sang sekretaris membuat Prawira terjaga dari lamunannya.


"Apa dia masih tidak mau memberitahu siapa ayah kandung Tama?"


"Saya sudah dua kali berkunjung ke tahanan dan menanyakan hal itu, tapi Nyonya Viona masih saja bungkam."


"Maher, bagaimana keadaannya?" Wajah Prawira tiba-tiba sendu, diliriknya foto keluarga yang terbingkai manis di atas meja kerjanya.


"Seperti yang anda minta, tim pengacara mencoba mencari jalan yang terbaik agar Tuan Maher mendapat keringanan hukuman."


"Bukankah ini hari libur? Apa Tuan tidak ingin beristirahat?" tanya sang sekretaris cemas.


Prawira menghembuskan napasnya lelah, pria itu melepas kacamatanya lalu memyandarkan punggung di kursi kerjanya.


"Semua orang terdekatku sudah pergi dari rumah ini, Skala bahkan sudah jarang menginap saat libur, apa aku harus mencari istri lagi?" Kelakar Prawira.


Sang sekretaris pun tersenyum, sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya. "Jika mereka tidak mau menginap di rumah Tuan, bagaimana kalau Tuan saja yang menginap di rumah mereka? Bukankah rumah Tuan muda Skala dan Tuan muda Tama berada di satu perumahan? malah sepertinya di blok yang sama.


"Iyakah?" Bibir Prawira tersenyum lebar, Ia menganggukkan kepala lalu menunjukkan ibu jarinya ke sang sekretaris. "Kamu memang jempol!"





__ADS_1
















Otor : Gift away yuk pulsa 20rebu, caranya kalian Komen aja usulan nama buat Sekretaris kakek Prawira. Kasihan ga ku kasih nama soalnya 😂😂 yang kupilih nanti yang menang ya.


Reader : Kalau ada yang usul namanya sama gimana?


Otor : Kalau aku suka sama namanya, Aku kasih ke yang Komen lebih dulu oke


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...

__ADS_1


...RATE BINTANG 5...


...lope lope ❤...


__ADS_2