
Tama dan Skala duduk bersebelahan sambil memandangi sang kakek yang tengah menimang Rain di sofa. Duduk di sebelah kanan pria tua itu Felisya yang tengah menggendong anaknya, dan Bianca di sebelah kiri yang sesekali menunjuk pipi anaknya gemas.
“Bayangkan Tam jika kakek memiliki istri semuda Feli atau Bianca, kemudian mereka mempunyai bayi,” bisik Skala.
“Aku tidak yakin tongkat saktinya masih berfungsi Ska."
Tama dan Skala tertawa sambil terus berbisik-bisik, keduanya benar-benar cerminan cucu kurang ajar yang tidak patut untuk dicontoh. Namun, dibalik kelakuan mereka yang suka meledek sang kakek, rasa sayang keduanya kepada Prawira sangat lah besar. Terbukti Tama dan Skala masih mengupayakan agar Prawira bisa mendapatkan seorang pendamping hidup.
Saat mereka masih asyik bercengkerama tetangga blok kamboja mulai berdatangan. Hari itu Skala dan Bianca mengadakan acara sederhana untuk menyambut kelahiran Rain. Bayi tidak boleh terlalu banyak bersinggungan dengan orang dewasa karena imun tubuhnya masih rentan, maka dari itu Skala tidak membuat pesta mewah.
Bianca dibuat melotot tak percaya, mendapati ibu-ibu geng sultini blok kamboja membawakan banyak kado untuk Rain dan juga Lintang. Mereka pun berebut menggendong dua bayi mungil itu secara bergantian. Bu Hana pun memimpin doa dan semua orang mengikutinya dengan khidmat.
Mereka masih larut dengan rasa bahagia saat Nuna tiba-tiba datang dan membuat keributan.
"Halo every body ... " ucap gadis itu menyapa.
Nuna terlihat menyeret sebuah koper berwarna merah muda. Meletakkannya di dekat meja pajangan lalu menyalami Prawira dan ibu-ibu geng sultini blok kamboja bergantian. Gadis itu berjongkok membuka kopernya, mengeluarkan dua buah tas kertas dengan logo merek ternama. Ia juga membawa baju, berniat menginap di rumah tantenya.
"Hadiah untuk Rain dan Lintang!" ucap Nuna sambil menyerahkan barang yang ada di tangannya.
Bianca yang merupakan direktur perusahaan fashion tak percaya dengan apa yang Nuna berikan untuk sepupunya. Baju, jaket dan sebuah sepatu, jika dijumlahkan total harganya hampir menyentuh angka sepuluh juta rupiah. Bianca tak menaruh rasa curiga, Ia berpikir mungkin Diana atau Billy yang membelikannya. Padahal, Nuna menggesek saldo tabungannya sendiri. Gadis itu sultan, cocok masuk anggota geng sultini.
__ADS_1
"Apa oma dan opa akan datang kesini?" tanya Skala ke sang ponakan.
"Datang! paling mereka tiba sebentar lagi," ucap Nuna girang.
Tama yang mendengar nampak memandang wajah Felisya, istrinya itu pun mengangguk, seolah ingin memberi tahu sang suami semuanya pasti akan baik-baik saja.
***
Acara syukuran itu dilanjut dengan makan malam keluarga setelah ibu-ibu geng sultini blok kamboja pulang. Felisya dan Bianca memilih untuk menindurkan bayi mereka dulu sebelum membaur bersama.
"Fel, apa Tama berencana mengaku bahwa dia adalah anak kandung papaku?" tanya Bianca, rasa penasaran menyelimuti hatinya saat Skala memberi tahu hasil test DNA Tama dan papanya.
Sunyi, kedua mama muda itu memilih tak melanjutkan obrolan, baik Felisya dan Bianca nampak tersenyum memandang wajah jagoan kecil mereka. Setelah memastikan Rain dan Lintang tertidur pulas, keduanya pun memilih keluar kamar.
Bianca baru saja akan menuruni anak tangga pertama, saat Diana berlahan terlihat naik. Ia mengernyitkan dahi menatap penuh tanya ibunda Nuna yang terlihat tak seperti biasa. Mendapati situasi yang agak canggung, Felisya memilih segera menuju ruang makan.
"Aku ingin bicara," ucap Diana setelah berhadapan langsung dengan Bianca.
"Apa kakak ingin ke balkon?" tanya Bianca menawarkan tempat yang nyaman untuk mereka berbicara.
Diana pun mengangguk. Dengan mimik datar wanita itu mengikuti langkah adik iparnya, tanpa mereka sadari Nuna berjalan mengekori.
__ADS_1
-
-
-
-
-
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE nya di Sorry Mr. CEO aja ya...
...maaf akhir bulan Na selalu hectic sama kerjaan dunia nyata...
...semoga kalian maklum dan anti hujat hujat club...
...ku sayang kalian semua...
__ADS_1