Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Ngidam Aneh


__ADS_3

Setelah meminta sesuatu yang sudah dibabat habis itu untuk kembali ditumbuhkan, Bianca melompat dari atas ranjang. Dia benar-benar marah, membiarkan Skala yang masih kebingungan dan patah hati karena gagal melepaskan kecebong dari pabriknya.


Menyambar bajunya, Bianca berkata Ingin turun ke bawah dan meninggalkan Skala yang masih berada di atas ranjang seorang diri, meratapi nasip malang kecebongnya yang sudah bersiap untuk berimigrasi.


Skala mengguyar rambutnya kasar, dia pusing memikirkan permintaan aneh Bianca, padahal ini bukan kali pertama dirinya melakukan illegal logging terhadap habitat si anaconda, tapi entah kenapa kali ini istrinya sampai semurka itu kepadanya.


Hari Minggu yang seharusnya menjadi hari yang hangat agar esok bisa memulai hari Senin dengan penuh semangat, menjadi hari yang suram bagi Skala. Saat makan malam pun Bianca hanya diam menikmati makanannya, tidak ada setitik sinyal pun dari gadis itu untuk mengajaknya mengobrol seperti biasa.


Sial! Kenapa urusan membabat hutan menjadi sepanjang ini?


Setelah menaruh piring di tempat cucian, Bianca langsung naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar, sikapnya masih saja dingin.


"Apa kamu benar-benar marah karena aku membabat habis habitat Anaconda? bukan karena kamu masih marah dengan kekalahanmu tadi siang?" pertanyaan Skala to the point, ia siap jika harus menerima amukan dari banteng betinanya.


Bianca mendengkus kesal dan langsung menuju ranjang, memiringkan badannya memunggungi Skala, memposisikan diri seperti orang yang ingin pergi tidur.


"Kamu baru selesai makan Ca, tidak baik langsung tidur." Skala menasehati sang istri.


Bianca pun menghiraukan ucapan sang suami, gadis itu langsung bangun dan duduk tegak menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang.


Skala sadar ada kalanya ia harus bersikap lebih dewasa, pemilik PG Factory itupun langsung mendekat ke sisi sang istri, berpikir bahwa sikap Bianca adalah buntut kekesalannya tadi siang. Diraihnya tangan gadis yang masih cemberut itu dengan lembut.


"Hei, aku minta maaf kalau udah bikin kamu kesal, tapi aku masih bingung Ca, bukankah sebelumnya kamu tidak pernah mempermasalahkan hal ini? Kan bukan kali pertama ini aku menggunduli amazon." Skala yang geli dengan ucapannya pun tertawa. Laki-laki itu terbahak sampai menular ke sang istri. Bianca akhirnya tertawa meskipun masih cemberut.


"Aku berpikir Ska, kenapa aku tidak ngidam yang aneh-aneh sih, lihat aja istri orang lain! ngidam ngelus jakun lah, pegang perut six pack lah, bahkan Felisya ngidam kencan sama kamu, iya kan? tapi Kenapa aku gak?" Bianca menggerutu kesal.


"Astaga Ca, apa kamu sedang iri karena tidak mengalami ngidam yang aneh-aneh?" Skala mengusap pipi istrinya, wanita yang umurnya hanya selisih dua tahun dengannya itu terlihat sangat menggemaskan, membuat papa peanut itu ingin memakannya.


"Entahlah, sudah tidak usah dibahas lagi." Bianca menatap wajah Skala yang tengah membujuknya, ingin menerkam, tapi Ia sok jual mahal.


"Kamu tadi langsung ninggalin aku, aku sedih Ca, rasanya benar-benar seperti dijatuhkan dari atas pohon kelapa, apa kamu tidak ingin melanjutkan yang tadi, hem?" goda Skala.


"Kan habis makan jadi ga boleh, tiduran aja ga boleh apalagi hiya hiya " potong Bianca tegas.

__ADS_1


Blunder bagi Skala, ia seolah lupa bahwa sang istri paling pintar untuk membalas dan memutar kata-kata.


***


Skala termenung di kursi kerjanya sambil terus menatap Beni yang sedang mengecek beberapa dokumen perusahaan di sofa. Skala ingin bertanya kepada sekretarisnya tentang kelakuan nyleneh istrinya kemarin.


"Pak saya masih normal lho! kok sepertinya dari tadi Bapak menatap saya terus, apa mungkin Bapak mulai terpesona kepada seorang laki-laki? Saya ganteng ya pak?" tanya Beni asal. Matanya masih menatap ke dokumen yang harus dia periksa.


"Sembarangan kalau ngomong! aku hanya sedang bingung Ben, sejak awal Bianca mengandung dia tidak pernah sama sekali ngidam yang aneh-aneh, tapi apa kamu tahu kemarin aku dibuat kelabakan olehnya." curhat Skala.


"Memang ibu Bian kenapa Pak?" Beni meletakkan pulpen yang tengah ia pegang lalu menatap kearah sang atasan untuk fokus mendengarkan keluh kesah cucu kesayangan Prawira itu.


"Dia marah dan meminta Aku melakukan reboisasi setelah aku melakukan penggundulan hutan."


Beni menaikkan kedua alis matanya, ia bingung dengan ucapan Skala dan mulai berpikir hutan mana yang di gunduli oleh atasannya itu.


"Apa sekarang PG Group merambah ke bidang perkebunan? apa PG Factory akan memproduksi minyak goreng sehingga anda menggunduli hutan dan menggantinya dengan kebun kelapa sawit?" tanya Beni.


"Mungkin istri anda pecinta alam pak, makanya ibu Bianca marah Bapak melakukan itu," Imbuh Beni.


Pipi Beni sudah menggelembung sempurna, Pria yang akan segera memiliki tiga anak itu akhirnya meledakkan tawanya, Beni tak kuat menahan geli yang menggelitiki dadanya saat membayangkan ucapan atasannya itu.


"Dia menolak untuk melakukan itu karena aku membabat habis hutan rimbaku? apa semua wanita hamil jadi segila itu? atau apa menurutmu Bianca hanya ingin membuatku kesal saja? " Pertanyaan Skala seperti peluru, memberondong Beni bertubi-tubi.


"Sepertinya hanya istri anda aja pak, istri saya tidak mengalami ngidam yang aneh-aneh, yang paling parah Ia hanya ingin makan martabak manis di jam sepuluh malam."


"Lalu kira-kira apa yang akan kamu lakukan jika jadi aku? Adakah produk yang bisa menumbuhkan bulu dalam waktu secepat mungkin?" Tanya Skala penuh harap.


"Apa anda ingin saya carikan produk seperti itu? atau perlu saya tanyakan ke profesional?"


Skala malah jadi geli sendiri mendengar solusi dari Beni, "Hiss… Sudahlah tidak perlu, selesaikan saja pekerjaanmu!"


Skala mengambil berkas yang ada di atas mejanya dan berusaha fokus kembali ke pekerjaannya. Sejenak ia ingin melupakan permintaan konyol dari sang stri.

__ADS_1


Sementara itu, Bianca menghela napasnya, merasakan aneh kenapa dia harus mempermasalahkan illegal logging yang dilakukan Skala ke habitat anacondanya sendiri. Gadis itu mendengus kesal, diusapnya little peanut yang begitu aktif bergerak di dalam perutnya, mungkin hormon kehamilan membuat dirinya menjadi aneh.


Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya agar tersadar dari sikap konyolnya itu, bahkan pagi tadi Ia sampai tidak menyiapkan baju kerja Skala seperti biasa. Mencoba memperbaiki situasi dingin diantaranya dan Skala, gadis itu berniat mengajak suaminya pergi makan siang bersama.












_


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...

__ADS_1


...RATE BINTANG 5...


__ADS_2