
Lima tahun yang lalu
Dengan tegar, Diana melangkahkan kaki berjalan menuju unit apartemen sang mama mertua. Wanita itu tahu bahwa hari itu Kiran sedang berada di rumah sendirian karena Bianca tengah melakukan training di perusahaan papanya.
Meskipun Billy berkata sudah tidak mencintainya lagi ia tetap harus berjuang mempertahankan rumah tangganya, demi puterinya-Nuna, yang saat itu berumur belum genap sepuluh tahun. Setidaknya Diana ingin meminta Kiran menjaga jarak.
Tanpa ragu Diana tekan bel unit apartemen mertuanya itu. Kiran dan Bianca sudah dua tahun memilih pindah dari rumah Nataniel. Alasannya karena Bianca yang selalu bertengkar dengan Salma.
Perlahan pintu apartemen itu dibuka, dengan senyuman lebar Kiran menyambut sang menantu. Diana pun tersenyum saat wanita itu mempersilahkannya masuk ke dalam.
Entah kenapa di mata Diana saat itu Kiran terlihat gusar. Mungkin karena seseorang.
"Ada perlu apa? Tumben ... "
Kiran tak sempat melanjutkan kalimatnya setelah meletakkan secangkir teh ke meja. Bel pintu apartemennya berbunyi. Ia berharap yang datang bukanlah Bianca. Wanita itu menghela napas lega karena yang berada di balik pintu adalah pekerja harian yang hari itu akan membersihkan apartemennya.
"Maaf mba, kalau besok saja bagaimana? Saya sedang kedatangan tamu," ucap Kiran.
"Baik bu, tidak apa-apa."
Wanita itu lantas pergi, tapi sebelumnya ia sedikit menajamkan mata melihat ke dalam apartemen. Ia melihat tangan Diana yang sedang meletakkan cangkir teh yang baru saja ia minum, dia adalah Mba Barbie.
"Kak, aku selama ini menganggap kakak teman, juga menganggap kakak sebagai mama mertua yang wajib aku hormati. Aku tahu bahwa Billy menyukai kakak, bahkan dia berkata kepadaku mencintai kakak. Tidak bisakah kakak menasehatinya untuk tidak melakukan itu? jika bukan demi aku, demi Nuna anaknya."
Kiran pun hanya terdiam, Ia berharap Billy mendengarkan kalimat yang akan dia ucapkan kepada Diana sekarang.
“Aku sudah berkali-kali berkata kepadanya bahwa aku hanya mengganggapnya anak, tidak terlintas sedikitpun di benakku untuk menjalin hubungan yang lebih dengannya. Aku mencintai suamiku, meski kak Salma masih tidak bisa menerima aku dan Bianca.”
Diana pun terdiam, sorot mata Kiran benar-benar menunjukkan sebuah ketulusan, meskipun mama Nuna itu juga sudah menyadari sedari tadi bahwa suaminya ada di sana, ia masih bersikap tenang. Setelah puas mengungkapkan isi hatinya, Diana pun pamit pulang. Ia sempat melirik ke arah rak, melihat sepatu sang suami di sana.
Tak berselang lama Billy keluar dari kamar, ia menatap kesal Kiran yang berkata mencintai papanya.
__ADS_1
“Pulanglah! Aku tidak ingin semua orang menganggap kita memiliki hubungan lebih dari ibu dan anak tiri.” Kiran mengambil cangkir bekas minuman Diana dan langsung mencucinya.
Billy yang benar-benar sakit hati karena sikap Kiran meringsak wanita itu. Berusaha melakukan hal yang tak terpuji kepada ibu tirinya.
Sementara di saat yang bersamaan Salma datang dengan angkuhnya, ia terpaksa mendatangi madunya karena permintaan sang suami untuk membujuk Kiran kembali. Tanpa Ia duga, wanita itu bertemu Viona dan seorang pria di sana, tepat di dekat pintu apartemen Kiran yang tak di tutup sempurna oleh Diana.
Salma tersenyum sinis kepada wanita yang juga pernah hampir menjadi istri suaminya itu, jika saja ia tidak mengeluarkan banyak uang untuk membuatnya menyingkir.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Salma heran.
“Menemui istri kesayangan suamimu,” cibir Viona.
Kedua wanita itu bersitegang sampai sebuah suara mengagetkan mereka. Salma melihat seorang pria berlari keluar dari apartemen Kiran. Salma tahu dengan pasti bahwa pria itu adalah Billy, sang anak kesayangan.
Suasana tiba-tiba mencekam dengan suara orang yang berteriak bahwa ada seorang wanita yang jatuh dari lantai apartemen, dan wanita itu adalah Kiran, Ia memilih mengakhiri hidup dari pada kesuciannya direnggut oleh anak dari suaminya.
***
Tama menyanggah dagunya, menatap wajah Bianca yang duduk di depannya seolah mencari cela di wajah istri sepupunya itu. Tak lama sebuah serbet mendarat mulus di wajahnya dari Skala.
Tama hanya tersenyum, bahkan Felisya juga bersikap biasa saja karena sang suami sudah mengatakan sebuah rahasia kepadanya. Keduanya menyusul Skala dan Bianca ke Bali untuk melakukan babymoon bersama, tentu atas undangan Skala. Sebenarnya Laki-laki itu ingin memberikan kejutan ulang tahun ke sang istri, lusa nanti.
“Bi, apa kamu bisa membantuku?” tanya Tama tiba-tiba.
“Bantuan apa?”
“Mencuri!”
Bianca membelalakkan matanya tak percaya dengan permintaan Tama. “Apa kamu sedang memintaku melakukan tindakan kriminal?”
Tama tersenyum sambil menyodorkan sebuah surat ke Bianca. Dengan tatapan heran, istri Skala Prawira itu pun menerima lalu membacanya bersama sang suami. Baik Skala dan Bianca tiba-tiba saja melotot tak percaya dengan kata-kata yang baru mereka lihat di sana.
__ADS_1
“Jadi apa yang ingin kamu curi?” Bianca masih terbengong tak percaya.
“Sikat Gigi.”
Otak cerdas Bianca langsung tahu maksud dari permintaan nyleneh kakak iparnya itu.
“Aku tidak bisa melakukannya, tapi aku tahu siapa yang bisa melakukannya untukmu,” ucap Bianca sambil menatap suaminya.
Skala pun tersenyum, memandang Tama dengan wajah sombongnya.
“Nuna”
-
-
-
-
-
Otor : Udin ga penasaran kan? Semoga kalian ga kabur setelah tahu faktanya. Setidaknya BKP akan aku tamatin sampai ga gantung kek jemuran di musim hujan, karena Madam Zi ceritanya fokus ke Nuna.
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE di NicNa aja ya...
...Makasih seluas pulau Kilikili buat kalian semua, yang selalu komen positif di tulisan receh aku...
__ADS_1
...tanpa kalian aku bagaikan Anaconda tanpa piranha, Eh.......
...Amazon sepi maksudnya...