Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Side Story : Tama Felisya


__ADS_3

Felisya mencubit pipi Tama gemas. "Kamu itu gak sabaran banget, harusnya yang sakit itu mulut kamu aja, biar gak bawel lagi," gerutu Felisya seraya merambat naik ke atas ranjang.


"Sembarangan kamu nyumpahinnya, Fel. Emang kamu mau punya suami bisu apa?" tanya Tama menggerutu. Ia melipat tangannya di depan dada. Pura-pura kesal dengan omongan menyebalkan sang istri.


"Siapa yang nyumpahin kamu bisu, Tamia! Aku cuma bilang harusnya mulut kamu yang sakit, bukan mulut kamu jadi bisu." Mata Felisya menukik tajam. Menatap pria itu tidak senang.


"Aku bukan Tamia, jangan ikut-ikutan gayanya Skala," protes Tama tidak terima. "Terus apa kalau bukan bisu?"


"Ya .... misalkan, kamu dikasih sariawan yang parah gitu." Felisya tergelak. Suara tawanya menggema di ruangan itu.


"Ya jangan dong, nanti aku kesusahan bahkan gak bisa cium bibir kamu yang menggoda ini." Tama meraub bibir Felisya dengan rakus. Menyesapnya agak kuat sampai wanita itu diam tak berkutik.


Dalam sekejap, Felisya sudah berada di atas pangkuan Tama. Di mana tangan pria itu mulai menggerayang ke segala tempat.


"Tunggu dulu, Tam!" cegah Felisya agak bingung. Ia melepas tautan bibirnya tanpa aba-aba.


"Kenapa lagi?" Tama mendengkus hingga rongga hidungnya kembang kempis seperti ingsang ikan.


"Kamu serius kuat? Aku takutnya kamu berhenti di tengah jalan. Takut kaki kamu tambah parah juga," ucap Felisya meyakinkan sekali lagi. Hasrat cinta dan rasa rakut menyatu sempurna. Antara ingin menyentuh Tama, tapi takut mengganggu kaki Tama yang sedang digips.


"Aku yakin, kamu tenang aja, Fel. Aku tidak akan berhenti di tengah jalan, Sayang .... Buruan puasin aku, jangan bertele-tele." Tama merampas baju Felisya satu-persatu. Hingga baju itu sedikit robek karena ulahnya.


"Sabar Sayang. Waktu kita masih panjang," ucap Felisya sambil menahan lengan suaminya. Wanita itu sedikit mendesah saat kepala Tama terus maju dan menerobos pagar pembatas jalan. Meraup buah melon milik Felisya dengan buasnya.


"Tak ada kata sabar untuk yang satu ini," ucap Tama seraya mendongak. Lalu menjatuhkan bibirnya kembal di atas buah melon Felisya.


Permainan di mulai. Baik Felisya atau pun Tama sangat menikmati gaya gajah duduk ketindihan kandang yang Felisya praktekan untuk pertama kalinya, jelas Ia terinspirasi dengan ucapan mesum Bianca. Felisya lebih dominan menguasai jalannya permainan malam itu, membuat suaminya benar-benar merasa dimanjakan.


***


Mengerjap-ngerjap, Felisya sedikit terbangun saat Tama mengecupi kelopak matanya terus-menerus. Wanita itu mengerang, lantas memeluk sang suami dan menyembunyikan kepalanya di ketiak sang suami.


"Eng ... masih ngantuk, tau!" erang Felisya manja.


"Pagi, Sayang." Tama menyapa, membuat Felisya mau tidak mau harus membuka matanya. Membalas sapaan hangat sang suami dengan senyuman.


"Pagi juga, Tamaku sayang," sapa Felisya sambil mengecup pipi Tama satu kali.

__ADS_1


"Hari ini aku seneng banget, pokoknya makasih banyak ya buat semalam. Kamu hebat banget, kalau begini caranya aku rela sakit terus. Asal mendapat servis puas dari kamu," ujar Tama nakal. Mata genitnya berkedip diikuti dengan pipi yang mengembang sempurna.


"Sembarangan, kalau kamu sampai gak bisa jalan aku mau cari berondong aja," seloroh Felisya tanpa rasa dosa.


"Jahat kamu, Fel. Gak setia, hiks!" Tama pura-pura menangis sendu seperti bayi.


"Memang aku jahat, makanya cepet sembuh. Aku bukan istri baik hati seperti yang kamu pikirkan," ucap Felisya sedikit mengajak Tama bercanda.


"Aku janji akan cepat sembuh, tapi nanti malam kayak gitu lagi ya," ajak Tama sambil alisnya naik turun seirama.


"Gak mau, cukup sekali aja di atas. Aku capek," tolak Felisya jutek.


"Baru sekali udah capek, gimana rasanya jadi aku? Yang pernah di atas sampai lima ronde?" protes Tama, ia membuka memori lama panasnya di atas ranjang.


Detik itu juga wajah Felisya merona. Malu sendiri dengan uraian dari suaminya. Setelah sama-sama mengungkapkan rasa cinta mereka tak malu-malu lagi saling memuaskan seperti itu.


"Kamu tuh, ungkit-ungkit yang udah lalu. Nyebelin tau." Felisya memukul dada Tama kesal. Di mana pria itu langsung memeluk istrinya.


"Iya nyebelin ... tapi kamu suka 'kan?" bisik Tama penuh arti.


"Kamu jadi setelah sembuh mau keluar dari rumah ini?" tanya Felisya mengingat ucapan sang suami semalam. "Serius mau tetanggaan sama Skala dan Bianca?"


"Hem, bahkan sebenarnya rumah itu sudah aku bayar lima puluh persen, bagaimana kalau nanti setelah pindah kita bikin acara selamatan dan syukuran atas kehamilan kamu di sana?"


Tama menurunkan pandangannya, menatap geli istrinya yang seolah terbius dengan aroma tubuhnya.


"Lakukan saja, aku sudah bilang akan ikut kemanapun kamu pergi," tegas Felisya.






__ADS_1











Otor : Sebenernya Mau ku kasih judul gajah ketindihan kandang, tapi ga jadi. Ntar di demo PRHH karena ga hot.


PRHH : Kutunggu Bab dengan judul itu.


Otor : Keysippp


Reader yang nungguin ocehan otor: Stikernya mana?


Otor : Ga ada waktu buat edit 😓


...LIKE...


...KOMEN yang banyak...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...


...love you sekandang Dino 🥰...

__ADS_1


__ADS_2