Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Kenapa?


__ADS_3

“Onty, kemungkinan papa tahu penyebab mama Kiran meninggal.” Nuna menggenggam erat tangan Bianca.


Gadis itu benar-benar benci mengingat perlakuan papanya ke sang mama. “Onty, pastikan papa mengakui bahwa dia juga sering memukuli mama.”


Bianca menyilangkan kaki mengingat ucapan keponakannya, matanya tertuju pada Billy yang baru saja masuk ke dalam kafe. Satu jam yang lalu ibunda Rain itu mengajak sang kakak bertemu, ia Ingin memastikan sesuatu. Bianca mempersilahkan kakaknya untuk memesan minum terlebih dulu sebelum berbicara tentang tujuannya sore itu.


“Hubungan kita tidak sedekat ini, sampai harus duduk berhadapan dan minum bersama. Cepat katakan ada apa? apa kamu ingin aku melepaskan saham Neil Fashion yang aku punya?” cibir Billy dengan sombongnya.


“Sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan sesuatu, Ayolah Bil! umurku sudah terlalu dewasa untuk bertengkar denganmu. Lagipula dengan kekayaan yang suamiku punya, aku bisa hengkang dari Neil Fashion kapan saja dan mendirikan perusahaan serupa.”


Senyum mematikan Bianca muncul lagi setelah sekian lama, menatap kakaknya dengan mimik menghina, Bianca sukses membuat Billy tersenyum sinis sambil memalingkan muka.


"Aku sibuk, cepat bicara!"


“Aku punya dua hal yang ingin aku katakan padamu, yang satu berhubungan dengan papa dan yang satu berhubungan dengan mamaku."


“Kiran?”


Alis mata Bianca menukik mendengar kakaknya menyebut nama sang mama tanpa imbuhan. Bianca menarik napas, mencoba meredam sedikit emosi yang sudah mulai tersulut di dalam dadanya.


“Mana yang ingin kamu dengar lebih dulu? Hal yang berhubungan dengan papa atau mamaku."


“Jelas yang berhubungan dengan papa untuk apa membahas orang yang sudah mati." Ketus Billy.


“Hah … iya benar, mamaku memang sudah mati, tapi ada satu hal yang tidak kamu ketahui. Aku tahu bahwa kamu menyukai mamaku dan mungkin sekarang papa juga tahu bahwa kamu adalah orang yang terakhir mama temui sebelum beliau meninggal.” Bianca melempar salah satu dari dua diary Kiran ke atas meja.


“Kamu mencintai mamaku, iya kan?”


Billy memandang buku yang tergeletak di depannya. Ia terkejut, otaknya sudah mulai memikirkan bahwa kemungkinan Kiran bercerita banyak tentang dirinya di sana.


“Kenapa? apa kamu kaget” Bianca mengambil minumannya, mencibir Billy yang seolah sudah kehilangan kata-kata untuk berdebat dengannya.


“Nuna sekarang sedang menemui Papa, anak gadismu itu tanpa aku suruh menawarkan diri untuk menjadi kurir, ia sedang memberikan diary mama satunya untuk menunjukkan betapa bajingannya dirimu.”

__ADS_1


Tangan Billy mengepal di atas paha, pria itu benar-benar sudah kehilangan kata-kata. Jika sampai Nataniel tahu dia mencintai mendiang istrinya, jelas dia akan kehilangan semuanya.


Biianca tertawa, dia paham betul, Papanya akan lebih rela hartanya dirampok habis dari pada wanitanya disentuh oleh laki-laki lain.


“Kamu pernah ingin memperkosa mama 'ku, benar kan?”


“Kamu!”


“Aku membacanya dari tulisan mama di diary itu, jika aku tahu hal itu empat tahun yang lalu sudah pasti aku akan mencabik-cabik habis tubuhmu.” Suara Bianca meninggi, bagaimanapun ia sudah memendam lama perasaannya itu, menunggu sampai Billy menyelesaikan urusannya dengan Diana terlebih dulu.


“Apa yang kamu inginkan? Memintaku membangunkan mama ‘mu yang sudah mati, aku tidak membunuhnya,” ucap Billy yang mengambil Diary Kiran dan langsung merobek lembaran demi lembaran kertasnya.


“Siapa yang berkata kamu membunuhnya? Apa jangan-jangan memang dirimu yang membunuh mamaku?” Bianca menggebrak meja. Amarahnya sudah mencapai ubun kepala, apalagi saat mendapati Billy terdiam mendengar tuduhannya.


“Dia melompat sendiri dari atas balkon, aku sama sekali tidak melakukan apa-apa padanya.”


Seketika tubuh Bianca lemas karena tanpa Billy sadari ia mengaku bahwa memang dirinyalah orang terakhir yang bersama Kiran di hari wanita itu tewas.


"Kenapa menangis? apa kamu Bianca?" sindir Billy.


"Aku akan memastikan kamu tidak akan mendapat apa-apa, aku tahu selama ini dirimu bersikap sombong karena terlalu percaya diri, kamu merasa satu-satunya anak laki-laki yang bisa diandalkan dari klan Nataniel. Kamu salah, Papa punya anak laki-laki lain. Apa kamu tahu? Gutama Prawira adalah anak kandung Papa."


"Apa?"


"Aka akan memastikan dirimu tidak mendapatkan apa-apa, lihat saja!"


Dengan emosi yang masih membakar dadanya, Bianca memilih pergi. Ia sudah muak melihat wajah kakaknya.


***


PLAK


Satu tamparan mendarat di pipi Billy. Nataniel murka, Nuna mengadu padanya. Cucu kesayangannya itu berkata bahwa sang papa selama ini selalu menyakiti menantunya. Bagi Nataniel memukul wanita adalah tindakan pengecut yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pria.

__ADS_1


"Katakan! apa kamu pernah ingin mencoba merebut Kiran dari 'ku?"


Nataniel mengambil tongkat golf dari ruangannya, mengayunkannya mengenai tubuh Billy. Ia membaca tulisan istrinya sambil menyesali setiap perbuatannya ke Kiran, wanita itu ternyata benar-benar sangat tulus mencintainya.


"Kenapa? apa Papa merasa kalah jika satu istri Papa aku rebut?" Billy malah seolah menantang Nataniel.


"Dasar berandal! kamu juga sering menampar istrimu kan?"


Nataniel hampir saja memukul sang anak kembali, tapi malang, Salma menghadangnya. Wanita itu menjadikan tubuhnya tameng untuk melindungi sang anak, akibatnya ia lah yang terkena pukulan stik golf yang diayunkan sang suami. Wanita itu langsung jatuh pingsan.


_


_


_


_


_


_


_


...LIKE...


...KOMEN...


...bagi Kembang 🌹...


...Untuk info novel follow Na di @nasyamahila...


...Makasih zeyengggg...

__ADS_1


__ADS_2