Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Satu Bulan Kemudian (2)


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa Bianca menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Skala untuk bekerja. Suaminya itu sudah memintanya untuk cuti karena hari perkiraan lahir little peanut mereka yang tinggal dua minggu lagi.


Bianca hanya tersenyum, berkata semua masih aman dan Skala tak perlu terlalu khawatir, padahal Ia sudah merasakan beberapa kali kram di perutnya sejak subuh tadi. Bianca masih menganggap itu hanyalah sebuah kontraksi palsu.


Sebagai seorang wanita yang baru pertama kali akan menjalani proses melahirkan, Bianca benar-benar terlihat siap. Ia bahkan masih memimpin rapat di kantornya, meskipun beberapa kali dirinya harus berjalan mondar-mandir ataupun membungkuk menumpukan kedua tangannya pada meja.


Karyawannya yang melihat pun menjadi sedikit khawatir, tapi Bianca menenangkan dengan alasan bahwa Ia sudah sering mengalami kontraksi palsu seperti itu.


Merasakan rasa sakit yang semakin intens, Bianca memilih untuk pulang ke rumah. Ia memilih berjalan-jalan di dalam markas dan menyiapkan perlengkapan yang akan dia bawa ke rumah sakit. Bianca meringis, mengatur napasnya saat rasa sakit datang mendera. Diusapnya permukaan perutnya lembut.


"Hey baby, apa sudah ingin bertemu mama papa? Oke, kita kerjasama ya!" bisik Bianca.


Jam menunjukkan pukul lima sore, sudah hampir dua belas jam dari kali pertama Bianca merasakan kram di perutnya. Gadis itu tengah duduk di atas gym ball berpegangan pada sisi ranjang, menggerakkan pinggangnya memutar untuk mengurangi rasa sakit saat Skala masuk ke kamar.


"Sepertinya dia sudah ingin bertemu kita Ska."


Skala masih tak paham dengan ucapan Bianca, sampai sang istri meringis dan meremas sprei ranjangnya.


"Kenapa? ada apa? apa kamu akan segera melahirkan?" Skala mulai panik, ia bahkan bingung harus melakukan apa.


"Hem ... , mandilah dulu Ska dan makan!"


"Bagaimana bisa kamu menyuruhku makan?" Skala melepas bajunya, ia urung mendekat ke arah sang istri dan lebih memilih bergegas mandi karena terlalu bingung.


"Ayo kita ke rumah sakit! " ajak Skala sambil. menyembunyikan rasa paniknya.


"Kita ke rumah sakit kalau interval kontraksinya udah lima menit sekali aja Ska." Bianca kembali meringis. Sebenarnya ia sudah ingin menjerit. Namun, tidak mungkin dilakukan, gengsinya yang begitu besar jelas menolak. Menjerit sama saja Ia menelan ludahnya sendiri.


"Apa sakit?" tanya Skala yang sudah duduk di atas ranjang melihat Bianca tengah mencoba menyamankan diri dengan cara berbaring menyamping

__ADS_1


"Iya, tapi cuma dikit kok." Bianca tersenyum, diraihnya tangan Skala, sesekali diremasnya kuat saat gelombang kontraksi menghampiri tubuhnya kembali.


"Aku bisa, aku kuat," racau Bianca.


Namun, tak lama ia menangis dan mengakui apa yang dia rasakan saat ini, "Sakit Ska." memang tak berteriak tapi Bianca menangis.


Melihat istrinya yang kesakitan Skala mulai tak tega, tapi ia mengingat keinginan dan permintaan pujaan hatinya itu, bahwa dirinya harus menguatkan dan meyakinkan saat Bianca kesakitan atau bahkan ingin menyerah.


"Kamu bisa, kamu kuat Ca!"


Ucapan semangat dari sang suami membuat Bianca tersenyum kembali dan mengangguk mantap. Ia masih menikmati gelombang cinta dari little peanut sampai hampir jam sepuluh malam.


***


"Ska, ke rumah sakit yuk," rintih Bianca membangunkan suaminya yang tertidur.


"Maaf Ca.... maaf, aku malah tidur!" Skala mengusap wajahnya kasar karena merasa bersalah.


"Kenapa?" Prawira yang melihat kedua cucunya turun membawa koper nampak bingung. Entah apa yang sedang dipikirkan laki-laki tua itu sampai belum tidur.


"Cicit kakek akan segera lahir."


Prawira seketika berdiri dari kursinya. Ia terlihat begitu antusias, bahkan tertawa senang.


"Ska!" Bianca meremas lengan suaminya, memberi kode agar laki-laki itu tak banyak bicara dan membawa dirinya segera pergi dari sana. Ia bahkan sampai tak bisa berkata-kata karena menahan rasa sakit.


"Kami harus segera pergi ke rumah sakit, kek!"


Bianca hanya mengangguk untuk berpamitan kepada Prawira, pria tua itu terlihat bahagia sekaligus cemas dengan kondisi cucu menantunya.

__ADS_1


Skala meringis kesakitan, Bianca yang duduk di sebelahnya memang tak menjerit ataupun menangis, tapi meremas erat pahanya, bahkan menggigit lengannya.


"Arrgghhh ...."


Skala menjerit, membuat Julian yang menyetir kaget sekaligus panik, Ia melirik Tuannya dari spion depan bahkan sampai menoleh. Bukankah seharusnya yang berteriak kesakitan adalah nyonyanya?


"Sakit Ca!" teriak Skala lagi. Laki-laki itu sampai klojotan mendapat remasan di sisi perutnya.


"Ampun Cacamarica Ampun!"


Jeritan Skala tak menghentikan tindakan Bianca. Ia malah semakin brutal melakukan serangan membabi buta ke sang suami.


-


-


-


-


-


-


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...

__ADS_1


...ponakan onlen mau launching, siapin kado oke...


__ADS_2