
Setelah beberapa detik menatap benda itu, Bianca memegang kereta dorong yang paling menarik perhatiannya. Namun, tak disangka sebuah tangan juga memegang benda itu dan betapa terkejutnya istri Skala Prawira itu melihat sosok wanita yang pernah Ia temui sedang memandang ke arahnya.
"Lepasin, gak!" perintah Litania dengan nada jengkel, mungkin kekalahannya di masa lalu membuat gadis itu masih murka.
"Enak aja, aku yang pegang duluan," ucap Bianca tak kalah sengit. Matanya menantang dengan dagu yang sudah terangkat. Begitu arogan khas seorang direktur Neil Fashion, kelakuannya benar-benar membuat harga diri Litania terluka.
"Kan aku dulu yang pegang."
"Heh anak kecil, ngalah sama yang lebih tua," sanggah Bianca.
Litania meniup poninya lalu berkacak pinggang, "Heh Tante, aku bukan anak kecil ya, lihat! Aku jago bikin anak kecil juga. Buktinya ada dua di dalam sini." Sedikit membusungkan perutnya, gadis itu tersenyum miring.
Wajah Bianca menjadi kesal. Namun harga diri yang tinggi tak memperbolehkannya kalah dari istri seniornya. "Ya elah, itu paling juga hasil dari satu gaya yang kebetulan jadi. Emang kamu pernah praktekin gaya menunggang kuda? Koala nemplok bambu? enggak kan?."
Senyum Bianca tak kalah sinis. Mata mereka masih menunjukkan kebencian. Seakan-akan telah melakukan pertarungan sengit tak kasatmata. Perbincangan keduanya sontak membuat orang-orang yang ada di sana tersenyum sambil menggelengkan kepala. Bisa-bisanya dua perempuam itu membahas perkara ranjang di muka umum.
"Ini punyaku." Litania menarik stroller itu kuat.
Bianca tak mau kalah dan menarik benda itu juga, "Ini punyaku ya! Lagi pula kamu bilang anak kamu kembar, sana! cari stroller yang bisa untuk dua anak."
Litania tak menggubris. Sebenarnya bisa saja Ia melepaskan stroller itu. Hanya saja rasa dendam akan kejadian lalu membuatnya menjadi keras kepala. "Gak mau. Aku mau yang ini. Kamu aja sana, cari yang lain!"
Saat mereka saling adu mulut, datanglah Skala dan Chandra. Dua laki-laki itu tampak salah tingkah dan cemas.
"Sudah, Ca. Kita cari yang lain aja," pinta Skala lembut.
Bianca menghela napasnya kesal, lirikan matanya terlihat tajam. "Gak bisa! Aku mau ini."
"Ini tante punya masalah apa sih? suka banget cari gara-gara. Jelas-jelas ini aku duluan yang pegang," ucap Litania lantang.
"Litan, kasih aja. Kita cari yang lain, ya!" bujuk Chandra.
"Gak bisa! Dulu aku boleh saja kalah, sekarang jangan harap!"
"Lalu kamu maunya apa? berantem? Ayo sini maju!" tantang Bianca.
"Hey, Ca! Ingat kamu sedang hamil." Wajah Skala memucat—takut terjadi sesuatu dengan little peanut nya.
"Siapa juga mau berantem, Kita suit," usul Litania.
__ADS_1
Dulu dia kalah suit dan sekarang gadis itu berencana mengembalikan harga diri yang tercoreng dengan cara yang sama.
"Oke." Bianca melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau aku menang, stroller ini buat aku plus kamu harus minta maaf," lanjut Bianca dengan nada sombong.
Litania berdecih. "Oke, kalau aku menang, stroller ini jadi milik ku plus aku pinjam suamimu."
"Sayang, apa-apaan ini? mau kamu apakan suami orang?" tanya Chandra cemas.
Wajah Bianca, Skala dan Chandra tampak tegang mendengar syarat yang diucapkan Litania.
"Udah diam dulu!" Litania melotot. Kini matanya menatap Skala dan kembali menyorot nyalang Bianca. "Gimana, barani gak?"
"Oke, deal! semua orang di sini jadi saksi," ucap Bianca penuh rasa percaya diri.
Litania tersenyum miring. Tangan sudah disembunyikannya di belakang punggung begitu juga dengan Bianca."
"Batu kertas gunting!"
Bianca menelan salivanya, memandangi lima jarinya yang terbuka lebar, Ia memilih kertas dan Litania gunting. Ia pun nengatupkan bibir, berpikir apa yang akan dilakukan istri bar-barnya Chandra ke sang suami.
Wajah Litania? jangan ditanya lagi, tawanya membahana seketika. Suara yang membakar emosi Bianca hingga menjadi abu. Tak terima?percuma. Nasi sudah menjadi bubur.
Skala terdiam, tak tahu harus berbuat apa di situasi ini.
"Nah, sekarang terbukti kan siapa yang menang?" ucap Litania bangga.
Dada gadis itu membusung dengan kedua ujung bibir tertarik. Bergaya sombong dan menyebalkan. Wajah kesal Bianca menjadi hiburan yang tak mungkin terulang kembali bagi istri Chandra itu.
Litania menarik paksa stroller dari genggaman Bianca. "Lepasin! Ini udah jadi milikku, dan satu lagi ...."
Mata Litania tertuju pada Skala. Senyum ambigu terlihat nyata di bibirnya. Ulasan bibir yang membuat suami tampan Bianca itu mematung, matanya mengerjap dengan jakun yang naik turun. Pikirannya jelas sudah ke mana-mana.
Apa ini? Mau diapakan aku? Wanita ini sepertinya gila? Lebih gila dari geng Sultini blok Kamboja. Bisa-bisanya memelototi laki-laki lain di depan suaminya.
"Tuan Skala, anda mendengar ucapan istri Anda tadi kan?" tanya Litania.
Skala mengangguk horor. Ia lihat sekilas wajah masam Bianca lalu wajah gusar Chandra secara bergantian.
"Sesuai kesepakatan antara saya dan istri Anda barusan, jadi anda saya pinjam sebentar." Senyum Litania semakin terlihat menakutkan.
__ADS_1
"Tapi, saya mau diapain?" tanya Skala cemas.
Otor : hei hei Markonah dobel up, wkwkwkw em... begini, ini aku kolaborasi lagi sama penulis novel Istri Barbar Tuan Chandra , kami dulu sepakat untuk gantian Litania yang menang 🤣🤣 padahal mau jodohin little peanut sama anaknya Litan tapi kok anaknya cowok juga, ya kali main samurai pas malam pertama 🤣
Reader :
__ADS_1