Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Pertempuran Lagi


__ADS_3

...Warning...


...18++, yang kurang umur mundur...


...mundur!...


...jangan ndablek, nanti ku sleeding...


..._...


..._...


..._...


..._...


..._...


“Rain, lihat lah mama ‘mu, dia malah pergi ke salon dari pada pergi berbelanja.” Skala terus saja mengoceh sambil mendorong kereta belanjaanya menyusuri lorong-lorong supermarket, sementara sang anak dia dudukkan di dalam. Selang beberapa menit, tak ada suara yang terdengar dari bibir mungil Rain. Anak itu ternyata tertidur.


“Rain, jangan tidur sekarang! Wah … gawat, kamu pasti akan mengganggu acara papa nanti malam,” gerutu Skala sambil menepuk pipi anaknya.


Beberapa pengunjung menatapnya dengan pandangan heran, sungguh perbuatan Skala membuat beberapa orang yang berbelanja merasa sedang terjadi tindak kekerasan pada anak di sana. Ia pun buru-buru menuju kasir. Skala sampai lupa membeli pesanan Bianca, tisu galon bergerigi.


***


Benar saja karena tidur tadi, Rain masih on fire meskipun jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Skala sudah mulai gelisah, anacondanya sudah meronta-ronta karena sekarang malam jumat. Berbeda dengan Bianca yang bersikap lebih santai. Dengan penuh perhatian ia menemani sang anak melihat jenis-jenis burung di buku.


“Ke-da-sih,” eja Bianca. “Rain, burung ini tidak pernah membuat sarangnya sendiri, dia menitipkan telurnya ke sarang burung lain, dan saat telurnya menetas anak burung itu membuang telur burung lain keluar dari sarang.”


“Ca-hat.”


“Iya, dia burung jahat, jadi tidak boleh dicon-“


“Tol … “


“Yah … Rain, kenapa bawa-bawa tol, dicontoh Rain bukan dicontol.” Skala melirik istrinya yang terlihat menatapnya tajam sambil menggerutu


.


“Rain, apa kamu tidak mengantuk. Bobok lah nak! Ini malam keramat,” ucap Skala sambil menciumi perut putranya. Rain tertawa terpingkal-pingkal. Bocah itu bahkan sampai menjambak rambut papanya.


“Bulung na tantik,” celoteh Rain sambil memperlihatkan bukunya ke Skala.


“Iya cantik, ayo burung kamu bobok ya sudah malam.” Skala kembali mencoba membujuk anaknya.

__ADS_1


“Ndak mau, bulung mau kabul.”


“Burung papa yang harusnya kabur, Aduh-aduh!” Skala bergumam lalu memekik kesakitan saat sebuah cubitan mendarat di pinggangnya dari Bianca.


“Papa jangan ngajak Rain ngobrol yang macam-macam donk!” Bianca mengernyitkan dahinya kesal, ia tidak ingin anaknya mendapatkan pendidikan mesum sejak dini.


“Kita ga ngobrol macam-macam kok, tanya saja ke Rain. Rain apa kita mengobrol macam-macam?”


Anaknya itu menggeleng sambil asik membalik bukunya. Skala menjulurkan lidahnya ke sang istri- meledek. Seperti biasa Rain membelanya.


“Nah … kan, katakan pada mama Rain kita sedang apa?”


“belajal.”


“Mama dengar, kita sedang be-la-jar.” Skala kembali mengejek istrinya dengan rasa bangga.


***


"Ca!"


Skala mengelus pipi Bianca. Ia sedikit bernapas lega karena suara bising aktifitas pembangunan rumah tetangganya sudah tak terdengar.


"Hem ... " Bianca membuka matanya perlahan, Ia memang berpura-pura tidur agar Rain juga mau tidur.


"Sssstttt!" Skala meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir. Memberi kode agar istrinya tidak berbicara keras.


"Aku tidak jadi membeli itu Ca, tadi Rain rewel."


"Aaah... aku padahal ingin sekali merasakannya Ska!" rajuk Bianca manja.


"Sudahlah! Anaconda 'ku tidak perlu tisu galon macam itu untuk membuatmu klojotan."


Mereka tertawa riang gembira. Bianca melingkarkan tangannya ke leher Skala. mengecupi bibir suaminya itu bertubi-tubi sebelum menyesap dan melumaatnya. Rasanya menggairahkan, cinta mereka berdua seolah selalu bersemi meskipun sudah empat tahun lebih mengarungi biduk rumah tangga.


Membuka piyama Bianca, Skala melancarkan aksinya. Perlahan Ia kecupi ceruk leher turun ke bukit istrinya. Wangi tubuh Bianca menguar, membuat Skala semakin tak kuat iman. Ia menyesap pabrik ASI yang sudah ditinggalkan Rain satu tahun yang lalu. Bentuknya memang sudah sedikit berbeda. Namun, tetap memberikan rasa nikmat yang sama.


Anaconda menjerit, jejingkrakan di bawah sana. Ia sudah siap jika harus habis dikunyah-kunyah piranha, ikhlas se ikhlas-ikhlasnya. Namun, tontonan menarik yang dibagikan oleh pak Roma membuat Skala ingin mempraktikannya. Dibukanya lebar-lebar paha Bianca. Istrinya itu membelalak tak percaya, Skala melakukan apa yang dilakukan pria di video yang baru saja dikirimkan Bu Erin kemarin.


"Ska-" Bianca mendesah tatkala lidah suaminya mencumbu bibir piranha. Rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, benar-benar Ia tidak membutuhkan tisu galon bergerigi lagi.


Bianca sudah mendesah tak karuan, badannya sudah lemas sebelum pertempuran. Menindih tubuh belahan jiwanya, Skala mulai mengarahkan anaconda miliknya masuk. Merengkuh setitik kenikmatan yang menjadi kebutuhan manusia normal.


Peluh membasahi kening, tatkala kenikmatan itu harus diraih dengan sedikit usaha. Menggerakkan pinggang dan mengatur vibra juga membutuhkan banyak tenaga bagi Skala. Rasa nyaman merayapi tubuh Bianca, Ia memeluk erat tubuh belahan jiwanya tatkala gelombang cinta itu mendera, membuat sekujur tubuhnya bak terbang mencapai nirwana.


Skala belum juga puas, Ia pacu lagi tubuh Bianca yang sudah menggelepar kenikmatan, gadis itu sepertinya tak ingin mengalah begitu saja dalam pertempuran.

__ADS_1


"Dari belakang!" ucap Bianca nakal.


Dengan posisi itu piranha semakin mencengkeram, setidaknya begitu yang Skala rasakan, dia hanya bisa mengumpat kenikmatan. Ia memilih diam sementara Bianca dengan lincah menarik ulur miliknya.


"Shit! oh ... "


Skala melenguh sambil memeluk pinggang Bianca, kecebong berhasil lepas dari pabriknya tanpa Ia harus mengeluarkan tenaga.


Napas keduanya memburu, Skala masih terus memeluk tubu Bianca sambil menciumi punggung tambatan hatinya itu.


"Ughh ... Ca, rasanya luar biasa," puji Skala.


Melepaskan anaconda yang sedari tadi masih mengeram, Skala membalikkan tubuh Bianca. menciumi kening dan pipi wanita yang sudah memberinya satu orang buah hati itu penuh cinta. Mereka kembali saling menautkan bibir, ingin memulai ronde ke dua, sebelum sebuah suara membuat Skala menarik selimut menutupi tubuhnya dan Bianca.


"Ma-ma, Pa-pa."


Rain terbangun dari tidurnya dan menangis. Untung saja tidak pas di tengah-tengah pertempuran.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


...PRHH, reader mesumable, para master jangan lupita...


...LIKE...


...KOMEN...


...bagi KEMBANG 🌹...

__ADS_1


...mamacih...


__ADS_2