
Melupakan sejenak tentang kenapa foto Diana menjadi salah satu kandidat yang diajukan oleh madam Zi, Skala dan Bianca memilih untuk menikmati weekend mereka dengan bercumbu di atas ranjang.
"Bagaimana dengan kelas kehamilanmu? Apa kamu senang mendapat teman?" bisik Skala sambil memeluk Bianca yang berbaring membelakangi tubuhnya. Posisi mesra yang paling Bianca suka, skin to skin di bawah selimut dengan Skala. Apalagi Little peanut sungguh aktif bergerak jika sang Papa mengusap lembut perutnya.
"Hem, aku banyak berbagi cerita dengan Felisya, dia ternyata orangnya asyik dan hangat meskipun sedikit polos." Bianca tertawa, Ia tak menyangka bisa akrab dengan mantan kekasih suami tercintanya.
"Dia tidak seperti kita yang tidak mendapatkan kasih sayang yang sempurna, Felisya dibesarkan dengan penuh kasih sayang sejak lahir."
Skala mencium pundak sang istri lantas beranjak untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Bianca memilih ikut bangun, mengekori sang suami dengan hanya mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Ska ... "
"Hem ... "
"Pernahkah kamu menyesal melepaskan Felisya?"
"Pernah," jawab Skala enteng tanpa menatap sang istri.
Bianca yang hanya isengpun terhenyak mendengar jawaban yang lolos dari mulut suaminya, meskipun ia sadar Skala sedang jujur kepadanya tapi tetap saja sebagai wanita Bianca ingin Skala berkata tidak, kemudian dia akan menolak pernyataan itu dan Skala akhirnya mengiyakan dengan terpaksa. Wanita memang aneh.
"Jujur banget sih!" gerutunya sambil berlalu pergi.
Skala tersenyum tipis, laki-laki itu geli melihat tingkah istrinya yang selalu menggemaskan, sementara Bianca yang kesal langsung masuk ke dalam ruang ganti. Dengan hanya memakai handuk yang melingkar di pingangnya, Skala tidak jadi mandi dan memilih menyusul istrinya, Ia tertawa sambil memeluk Bianca yang sedang marah karena kejujurannya.
"Apa kamu ingin aku berbohong dan berkata tidak pernah menyesal melepaskan Feli? kalau iya, coba ulangi pertanyaanmu tadi!"
Bianca terdiam, membiarkan Skala melingkarkan lengan di perut dan menciumi pundaknya.
__ADS_1
"Sudahlah! Kalau kamu tidak mau pakai kamar mandi duluan, biar aku yang pakai," elak Bianca.
"Em ... kenapa marah? aku kan jawab jujur Ca, aku memang pernah merasa menyesal melepaskan Felisya, tapi rasanya tidak sebanding dengan penyesalanku yang tidak membuatmu menjadi milikku seperti ini sejak awal."
Bianca menyunggingkan senyum, tanpa Ia sadari Skala menjulurkan lidah di belakangnya—meledek. Tapi Skala juga semakin memeluk erat dan menciumi pipinya, begitu sayang.
"Belanja yuk Ca! kita lihat-lihat baju dan perlengkapan bayi."
Membujuk wanita yang sedang marah dengan belanja adalah kunci. Benar saja, Bianca langsung berbalik menatap Skala, senyum merekah dari bibirnya, rasa kesalnya menguap bersamaan dengan ajakan belanja yang dilontarkan sang suami.
"Kamu yang bayarin kan?" Menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan.
"Jelas, masa aku membiarkan istriku membayar belanjaan sendiri, malu donk sama kucingnya Dewa." canda Skala dengan mimik wajah yang dibuat sombong.
"Belanjain aku juga lho ya!" Bianca berniat membuat jebol dompet Suaminya.
"Porotin aku, aku rela!" gombal Skala yang seolah bisa membaca pikiran sang istri
Bianca begitu girang, Ia semangat masuk ke dalam satu toko ke toko lain, membeli running shoes dan kaus yang entah kapan akan dipakainya bersama Skala, Ia tak sadar bahwa saat little peanut lahir kesibukannya akan semakin bertambah. Gadis itu menarik pergelangan tangan badak Afrikanya masuk ke dalam baby shop. Skala tersenyum bahagia melihat Bianca antusias menghabiskan uangnya.
Beberapa baju bayi Bianca pilih, mama peanut itu terkekeh sendiri saat melihat sebuah baju bayi bermodel jumper segitiga dengan kancing di bagian bawah untuk mempermudah mengganti popok.
"Kenapa?" tanya Skala heran.
"Ska, jika ada model baju seperti ini untuk orang dewasa pasti lucu ya, saat ingin melakukan Hiya Hiya tinggal di lepas kancingnya, lalu hap hap."
"Dasar mesumable banget sih otakmu," cibir Skala. "Kamu mau bikin baju anuable setelah bra anuable? mau di demo lagi?"
__ADS_1
Bianca tertawa geli sambil memasukkan baju yang dia ambil ke dalam trolley belanjaan. "Kan ada kamu, penyelamat aku," pujinya sambil berlalu
Mata Bianca kini tertuju pada deretan stroller dengan berbagai macam model dan warna. Lucu-lucu sampai ingin memborong semuanya. Skala pun membiarkan sang istri, tak dia sangka belanja kebutuhan bayi begitu menyenangkan, belum juga ke luar negeri—begitu pikirnya.
_
...Satu bab lagi ku upload bareng ditunggu muncul ya, jangan dilompatin LIKE KOMEN nya ya Zeyenggggg ntar aku patah hati potek potek potek...
__ADS_1
...LOVE YOU...
...❤...