
Skala beberapa kali mengganti posisi duduknya sambil terus fokus dengan ponselnya. Sesekali Bianca melirik suaminya itu dengan tatapan heran. Untuk apa cuti bekerja kalau malah sibuk mengabaikan dirinya dan sang putra.
Hari itu mereka pergi ke rumah Prawira yang sejak beberapa hari yang lalu berkata rindu, tapi Skala paham maksud kakeknya, yang dirindukan pria tua itu adalah Rain, bukan dirinya.
"Uyut papa atuh micin."
Manik mata Skala melebar, ucapan Rain sukses membuatnya meletakkan benda pipih ditangannya. Ia tatap Bianca yang juga terheran-heran.
"Dia ngomong apa Bi?" Tanya Hana istri Prawira ke Bianca yang masih tidak paham dengan ucapan cucu buyutnya itu.
"Papa jatuh miskin."
"Rain, kenapa kamu bilang begitu? beri tahu kakek buyut kenapa kamu pikir papamu jatuh miskin." Prawira mengusap kepala Rain yang tengah duduk di pangkuannya.
"Papa ndak unya wang beli cotat."
"Ish ... dasar! bisa-bisanya berbohong pada anak kecil." Bianca sudah melotot kesal ke arah suaminya, tapi jelas bukan Skala namanya jika tidak bisa membalas ucapannya.
"Yang penting kan dia tidak makan cokelat. Aku hanya menuruti yang kamu bilang. "Jangan biarkan Rain makan cokelat banyak-banyak!" ucap Skala sambil menirukan cara berbicara istrinya.
Satu jam kemudian, Rain terlihat sudah terlelap tidur, Bianca menggendong anaknya ke kamar, sementara itu seperti mahkluk tak peka, Skala masih saja sibuk dengan ponselnya. Baru kali ini selama menikah Bianca merasa di duakan dengan benda elektronik berbentuk persegi panjang itu.
"Ca, aku keluar sebentar ya!"
"Mau kemana?" tanya Bianca yang tengah berbaring di samping putranya.
"Menemui pemilik rumah yang setiap hari mengganggu gendang telingaku."
"Jangan mencari keribuatan!" Bianca sedikit menaikkan volume suaranya agar suaminya itu tidak bertindak di luar batas kewajaran manusia pada umumnya.
"Apa kamu pernah melihat aku mencari keribuatan. Sini! cium aku dulu agar pesan 'mu terpatri dalam otak 'ku."
Bianca mendorong Skala menjauh. Ia memilih bangun dan langsung masuk ke dalam kamar mandi dari pada meladeni tingkah suaminya.
***
__ADS_1
Seorang wanita terlihat duduk menunggu, ada raut kecemasan di wajahnya. Ia gugup karena mengiyakan ajakan seorang pria asing bertemu. Ya, meskipun di sebuah tempat makan yang cukup ramai. Monica, nama wanita itu terlihat takut.
"Aku besok libur, jadi jika tidak ada yang mendesak jangan berani-berani menghubungiku. Jika ada masalah sepele tidak usah melapor, selesaikan saja."
Menelan salivanya, Monica mengingat pesan sang atasan kepadanya. Sial tujuh turunan bagi wanita yang baru saja jomlo itu. Ia hanya diam saat sang atasan berkata -
"Mon, aku sedang membangun rumah. Aku memberikan nomor ponselmu ke mandor yang bertugas di sana."
Monica terdiam, Ia tahu jika atasannya yang bernama Nicholas Sebastian Adam itu pasti akan berkata "Nomor orang ganteng tidak bisa dengan sembarangan disebar." Jika ia bertanya kenapa harus nomornya yang diberikan.
Lalu, di sinilah Monica sekarang, duduk di depan Skala Prawira yang terkenal arogan seantero jagat raya. Gadis itu sudah menolak untuk bertemu dengannya. Namun, lagi-lagi suara atasannya terdengar di telinga.
"Tidak usah melapor selesai kan saja!"
Sial bagi Monica, sepuluh panggilannya tidak dijawab oleh sang atasan.
"Maaf Pak, saya—"
"Apa kamu pemilik rumah itu. Aku akan menuntut ke kantor polisi dengan dakwaan perbuatan tidak menyenangkan dan gangguan akibat kebisingan yang ditimbulkan pembangunan rumah 'mu!'
"Jika kamu adalah orang yang tahu aturan seharusnya kamu meminta izin ke para penghuni rumah di sekitar." Skala berbicara tanpa memberi kesempatan Monica menyampaikan apa yang dipikirkan.
"Pak—."
"Pengacaraku sedang menuju kemari, aku pikir kamu sudah mengerti kemana arah percakapan kita di aplikasi chat tadi, tapi kenapa kamu hanya datang sendiri."
"Pak sa—ya."
"Aku tidak bisa lama-lama berbicara dengan orang yang tak tahu aturan." Lagi-lagi Skala mengucapkan kalimat seenaknya.
Monica bingung, Pria di depannya benar-benar tidak memberi kesempatan untuknya menjelaskan.
"Pak, Bi—ar."
"Intinya aku ingin protes dengan ketidaknyamanan yang aku rasakan, aku tidak butuh permintaan maaf darimu, aku ingin kamu membayar kekesalan 'ku."
__ADS_1
"Huaaaaaa."
Monica menjerit lalu menangis, membuat Skala langsung terdiam seribu bahasa, terlebih pengunjung yang lain sudah memandang ke arahnya dengan tatapan curiga. Monica terlalu kesal dengan tingkah suami Bianca yang tidak memberinya kesempatan menjelaskan lebih dulu, apalagi sekretaris Nic itu baru saja putus cinta sebelum pergi ke sana.
"Saya bukan pemilik rumah itu bapak!" bentak Monica di sela tangisannya. "Kenapa semua orang jahat padaku ya Tuhan!" ucapnya berulang kali.
—
—
—
—
—
—
—
—
—
—
—
—
...LIKE...
...Please KOMEN : Sabar ya Momon...
...bagi KEMBANG 🌹 kopi ☕🥡 atau ❤ juga boleh...
__ADS_1
...buat yang belum tahu, cerita ini nyambung sama cerita ku yang Sorry Mr CEO dan masih di Aplikasi ini...